Home Music Musik Jazz Indonesia: Then and Now
Musik Jazz Indonesia: Then and Now

Musik Jazz Indonesia: Then and Now

Thursday, December 20, 2018 - 17:30
Bagikan
Facebook Twitter Email

Genre musik jazz Indonesia mungkin emang nggak serame genre musik lainnya. Banyak yang menganggap kalau jazz hanya bisa dikonsumsi oleh kalangan terbatas. Lebih-lebih dengan adanya kesan eksklusif selalu menempel dengan aliran musik ini. Nggak heran kalau jazz di Indonesia mungkin kalah pamor sama rock atau bahkan hip-hop.

 

Padahal sejarah jazz sendiri bermula dari kelas buruh di Amerika Serikat. Jazz di awal kemunculannya adalah simbol perlawanan kaum marginal. Perjalanan jazz buat jadi major genre pun panjang. Lalu, gimana musik ini bisa “naik kasta” jadi genre musik kelas atas di Indonesia, yuk, Urbaners, cari tahu seluk beluk musik jazz Indonesia di sini!

 

Nuansa Latin di Awal Perkembangannya

Jazz bisa masuk di Indonesia berkat imigran dari Filipina. Tahun 1930, para pendatang ini datang ke Indonesia untuk mencari pekerjaan di Jakarta. Nggak cuma datang sebagai tenaga kerja, mereka juga meninggalkan warisan berupa musik jazz di Indonesia. Uniknya, jazz dari Filipina ini justru kental dengan nuansa Latin.

Jadi jangan heran kalau lo menemukan ritme-ritme macam rhumba dan samba dalam musik-musik jazz Indonesia tahun 1930-an. Dalam beberapa bagian, dentuman congo bakal terdengar mengiringi saxophone. Nuansa Latin ini bisa muncul karena influence dari Spanyol yang emang sempat menduduki Filipina.

 

Kontribusi Belanda buat Musik Jazz Indonesia

Nuansa Latin di Awal Perkembangannya

Meski jejak-jejak munculnya jazz sudah terlacak sejak tahun 1930, genre ini baru mulai terdengar di tahun 1948. Ternyata, di tahun inilah orang asli Indonesia baru benar-benar membawakan genre musik jazz secara mandiri. Semua ini berkat campur tangan Jos Cleber, seorang musisi jazz asal Belanda.

Ia mengajarkan genre jazz pada musisi lokal. Selain mengenalkan jazz, Cleber juga membuka peluang bagi orang Indonesia buat perform dengan aliran musik jazz. Pemerintah Belanda emang menunjuk Cleber untuk mengembangkan musik di Indonesia. Hasilnya? Sebuah grup simfoni yang isinya nggak cuma orang Belanda, tapi juga musisi asli Indonesia.

 

Jazz yang Bernyawa 

Selepas Cleber, genre jazz mulai mendapat apresiasi dari masyarakat Indonesia. Tahun 1950 bisa dibilang sebagai tahun kebangkitan jazz Indonesia. Di tahun ini, sejumlah musisi besar jazz Indonesia mulai menunjukkan taringnya. Sebut saja The Progressive Trio, The Old Timers and Octet, dan Iskandar’s Sextet.

Era 1950-an juga jadi debut bagi Bill Saragih bersama grup Jazz Riders di Jakarta. Jack Lesmana bersama Bubi Chen pun melahirkan Jack Lemmers Quartet di Surabaya. Kota Bandung pun tak mau ketinggalan. Nama-nama seperti Benny Pablo dan Eddy Karamoy berasal dari kota ini. Tujuan mereka satu: untuk melahirkan jazz yang bernyawa dan punya ciri khas tersendiri.

 

Ethno-jazz dan Bubi Chen

Mimpi buat melahirkan jazz yang punya ciri khas tersendiri berhasil diwujudkan Bubi Chen. Musisi berjuluk ‘The Godfather of Indonesian Jazz’ ini berhasil mengenalkan aliran ethno-jazz pada publik. Bubi menggabungkan jazz dengan unsur musik tradisional Indonesia seperti kecapi dan suling.

Ethno-jazz saat itu bahkan bukan cuma sekadar aliran musik . Sama seperti jazz di New Orleans, aliran jazz ini merupakan perlawanan terhadap pemerintah yang punya sentimen kepada musik dari Barat. Bubi berhasil membuktikan bahwa musik bisa berbaur, nggak peduli dari mana ia berasal. Buktinya suling dan saxophone bisa berharmoni dengan baik dalam ethno-jazz.

 

Warna Rock dan Fusi

Bisa dibilang, perkembangan jazz di Indonesia sangat berwarna. Selain memasukkan unsur tradisional, musisi jazz Indonesia juga nggak ragu buat mengombinasikan jazz dengan genre lain. Jack ‘Lemmers’ Lesmana menghasilkan aliran jazz rock yang populer di era 1970-an. Aliran ini bahkan menginspirasi lahirnya rock-progresif di Indonesia.

Di awal 1990-an, rock juga dikombinasikan dengan fusi. Tercatat nama-nama besar mengusung aliran baru ini, mulai dari Fariz RM hingga grup band legendaris Krakatau. Lagu-lagu dari grup yang didirikan putra Jack, Indra Lesmana ini bahkan menjadi favorit penikmat musik jazz hingga sekarang. Nggak heran kalau konser reuni mereka selalu dinantikan publik!

 

Mengenalkan Jazz Indonesia pada Dunia

Mengenalkan Jazz Indonesia pada Dunia

Sekarang aliran jazz sudah mulai populer, bahkan di kalangan anak muda. Banyak solois dan grup populer yang membawakan aliran musik ini dalam lagu-lagu mereka. Sebut aja Tompi, Syaharani, hingga grup band Maliq & d’Essentials. Dengan irama yang easy listening, mereka bahkan bisa menembus pasar mainstream dan juga internasional.

Upaya buat mengenalkan jazz Indonesia juga bisa lo lihat dari banyaknya festival jazz yang digelar belakangan ini. Mulai dari Java Jazz Festival hingga Ngayogjazz, semua punya satu misi yang sama: mengenalkan jazz dan musisi jazz Indonesia pada dunia. Hasilnya nggak pernah mengecewakan, festival-festival ini selalu sold out. Semoga jazz bisa makin berkembang di Indonesia ya, Urbaners!

 

 

Source: indojazzia