Trending
Senin, 08 Mei 2017

Kampoeng Jazz 2017: Melestarikan Jazz di Bandung

  • Share
  • fb-share
Kampoeng Jazz 2017: Melestarikan Jazz di Bandung

Sebuah tradisi dilanjutkan. Kampoeng Jazz, gelaran tahunan yang digagas oleh mahasiswa Universitas Padjajaran, tetap konsisten memberikan pengalaman menyaksikan musik jazz yang lumayan komplit untuk segala macam kalangan.

Mempertahankan sesuatu yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, tentu bukan pekerjaan yang mudah untuk dilakukan. Apalagi jika bentuknya sebuah festival musik. Kampoeng Jazz, yang dimiliki Bandung dan diselenggarakan setahun sekali, tetap bisa menarik ribuan orang untuk datang dan menghabiskan malam bersama-sama.

Kawasan Dipati Ukur yang padat di malam minggu, ditutup sebagian guna memberi jalan bagi calon penonton untuk masuk ke area festival, sebuah parkiran besar milik Universitas Padjajaran yang disulap untuk menjadi rumah bagi musik khusus semalam.

Ada dua panggung yang bisa dipilih. Masing-masing memberi jalan untuk banyak musisi mempertontonkan musik yang mereka mainkan. Selain talenta-talenta besar yang tampil, Kampoeng Jazz juga memberi tempat untuk para pemula dan sejumlah band jazz asli Bandung untuk unjuk gigi.

Festivalnya sendiri dimulai sejak siang hari. Pengendalian waktu lumayan tepat sehingga semua rencana yang telah disusun bisa berlangsung dengan baik.

Highlights paling penting dari festival ini adalah penampilan Tulus yang mampu membuat ribuan orang bernyanyi serta Sore yang berhasil membuat panggung kecil nan tersembunyi semarak oleh mereka yang memilih untuk berada di sana.

Selain dua nama tadi, Kampoeng Jazz 2017 juga menampilkan Kunto Aji, Trio Lestari, Teddy Adhitya dan sejumlah nama lainnya. Termasuk band asal Inggris Raya, XXX. Sayang sekali, karena persoalan visa kerja, Take Two, band asal Singapura gagal tampil.

Kendati tidak sempurna sesuai rencana yang sudah disusun, kemeriahan tetap menjadi milik mereka yang datang ke festival itu. Hingga larut malam, orang masih tinggal dan membiarkan Trio Lestari menutup sebuah malam yang seru.

Festival ini terus melaju ke masa depan. Hingga generasi berganti, hingga nanti nama-nama baru muncul dan siap mengambil panggung. Tradisi untuk terus melestarikan jazz harus diacungi jempol dan terus menerus didukung.

Bisa dibilang, Bandung beruntung punya Kampoeng Jazz. Setidaknya, scene jazz kota itu, punya satu festival besar yang bisa dijadikan tolok ukur untuk perkembangan musik jazz di sana.

Comments
Muntakhimah
Menginspirasi nich
PUJI RAHAYU kopkar
keren banget