• News
  • Pemuda Sinarmas: 15 Menit Pertama Masa Krusial untuk Silent Koplo

Pemuda Sinarmas: 15 Menit Pertama Masa Krusial untuk Silent Koplo

Thu, 05 March 2020
Pemuda Sinarmas sedang berada dibelakang DJ booth MLDSPOT Art & Sound Experience

Selama tiga hari pagelaran Jakarta International Java Jazz Festival 2020, ada satu tempat yang menyajikan penampilan paling berbeda. Lokasi yang terletak di sisi luar ini bernama MLDSPOT Art and Sound Experience. Sebuah tempat yang menawarkan pengalaman baru menikmati musik dengan “diam-diam” di saat panggung satu dan yang lainnya bersaut-sautan dengan dentuman musik bervolume keras.

Player yang menyajikan musik Silent Koplo ini adalah Pemuda Sinarmas. Ia mengaku baru pertama kali melakukan penampilan dengan cara Silent Koplo. Untungnya Ajis, begitu ia akrab disapa, mendapatkan tempat bermain yang mendukung dan membangun mood pengunjung jadi lebih nyaman menikmat musik Silent Koplo.

Namun environment lokasi Art and Sound ini akan menjadi sia-sia bila Ajis gagal menyajikan playlist yang kurang asik. “Vibenya pas di booth ini orang datang dan pergi, gua harus ngatur playlist, datang pertama vibenya harus koplo santai dulu,kata Ajis saat ditemui usai penampilannya di hari ketiga.

Bagi Ajis tantangan main untuk Silent Koplo adalah harus menyiasati playlist dengan tepat agar orang tetap stay dengan headset-nya. “Kuncinya gua buat nyaman diri gua sendiri dengan playlist, ngebangun mood pelan-pelan. Sejam sih cukup. Yang krusial itu 15 menit pertama, ketika mainin 2-3 lagu, dan lagu pertama itu paling krusial. Untungnya gua ga main sm DJ lain, jadi ga perlu perhatiin dia bawain lagu apa, ini bisa ngebangun mood gua sendiri. Gimmick awal gua tetap sajikan musik yang punya kultur jazz, ini tantangan baru buat gua dan bisa berhasil 90%,ujar Ajis.

Pengunjung Java Jazz Festival 2020 menggunakan headphone di booth MLDSPOT Art & Sound Experience

Selain itu, hal yang terpenting adalah ia harus merespon flow audience yang datang, “karena di Java Jazz Festival gua harus buat mereka nyaman dengan musik-musik yang punya kultur Jazz juga, untungnya gua punya databased kaset Beatles yang dangdut, dari tahun sekitar 80-an. Kalau langsung bpm (tempo musik ) tinggi mereka pasti langsung kabur, beat santai yang punya alunan saksofon dan dentuman kendang itu bisa bikin pengunjung stay, setelah itu baru gua naikin bpm dengan playlist yang funky sesuai booth ini,” kata Ajis yang pernah datang ke acara Silent Disco.

 

BUKAN DJ IDEALIS

Belakangan koplo memang menjadi musik yang paling diminati untuk pengalaman seru-seruan bersama teman bernyanyi dan berjoget bersama. Namun Ajis punya pandangan lain.

“Koplo ini hanya tren aja, gua dulu mainin disko ketika itu gua masukin funky kota dan koplo, lalu saat ini boom koplo. Tantangannya bagaimana kita terus memutarkan roda tren itu. Gua menyadari bahwa bermain musik di elektronik sebisa mungkin bisa disesuaikan dengan tren,”

Sebelum bermain koplo dan disko, dahulu Ajis memulai karier Pemuda Sinarmas dengan memainkan lagu-lagu reggae sampai akhirnya ia kesulitan mencari kasetnya.

Ga selamanya kuping orang kuat dengan musik koplo, bakal jengah pasti.

Gua menyadari bukan DJ yang idealis, gua masukin beragam genre malah di performance gua, tujuannya untuk kasih tau kalau musik Indonesia itu tuh banyak banget. Gua nggak mau terpaku dengan satu genre dan satu identitas kalau Ajis itu DJ anu. Kadang gua mainin etnik juga, lagu Sunda, Banyuwangi, sampai Sumatera. Biar ga stuck dan bisa berkembang,” ujar Ajis.

4 orang pemuda menggunakan headphone di MLDSPOT Art & Sound Experience

Dalam kesempatan yang sama, Ajis meramalkan nantinya orang-orang pasca kelelahan telinganya dengan musik koplo akan balik ke genre house dan RNB, “RNB ga bakal mati. Disko selalu ada dan stabil. Kalau kople belum tentu, waktu gua main di Surabaya gua dilarang mainin koplo. Karena koplo itu udah kulturnya di sana dan mungkin mereka bosen. Tapi sekarang sedang jadi tren di ibu kota,” tutup Ajis.

Ini Tiga Penampil yang Intim di MLDSPOT Stage Bus Jazz Hari Terakhir

Thu, 05 March 2020
Sal Priadi sedang merentangkan tangannya saat manggung

Awan-awan kelabu yang menggelayuti langit Jakarta juga menyapa kawasan Jakarta International BNI Java Jazz Festival 2020 di Kemayoran. Menuju senja yang hari itu terasa lebih melankolia namun dipaksa untuk bersemangat karena ditemani oleh lirik-lirik yang menyuarakan soal keadilan dan keadaan sosial masyarakat saat ini.

Suara-suara soal kepedulian sesama manusia itu datang dari dua penampil di MLDSPOT Stage Bus Jazz hari ketiga. Lalu juga ada satu penampil yang lebih puitis menguatkan momen intim sebelum turun hujan. Siapa mereka? Simak ketiga penampil ini:

 

Cara Tashoora Menemani Yang Trauma

Tashoora manggung di MLDSPOT Stage Bus Jazz

Mereka adalah kelompok musik asal Jogjakarta yang sore itu melesatkan set list antara lain Tatap, Sabda, Distilasi, Hitam, Sintas, Agni, dan Terang. Sintas menjadi single pertama taun ini pasca hijrahnya mereka ke ibu kota karena bergabung dengan Juni Records di penghujung tahun 2019.

Sintas merupakan lagu yang dibuat untuk sebuah OST serial film documenter The Invisible Heroes besutan Narasi. “Dari lagu ini semoga teman-teman yang mengalami truma tidak merasa sendiri, kita bisa jalan kembali dan bisa saling menguatkan,” ungkap pentolan Tashoora, Danang Joedodarmo kepada pengunjung.

Rencananya tanggal 13 Februari 2020, Tashoora akan merilis video klipnya, dua hari setelah film perdana dari serial The Invisible Heroes bertajuk Luka Beta Rasa yang berkisah tentang mantan kombatan saat konflik horizontal terjadi di Ambon tahun 1999.

Sementara itu basis dan vokalis Tashoora, Gusti Arirang memuji jalannya perhelatan Jakarta International BNI Java Jazz Festival 2020. Ia menilai MLDSPOT Stage Bus Jazz berhasil membuat suasana intim di tengah perhelatan besar. “Tahun ini Java Jazz makin hangat, bersih dan tidak urakan. Nyaman main di Java Jazz dan MLDSPOT Stage Bus Jazz berhasil mengakomodasi musik di luar jazz yang ingin juga ikut meramaikan. Ini salah satu panggung intimate di Java Jazz,” kata Gusti.

 

Hip Hop Di Tengah Jazz Persembahan Dari Tuan Tigabelas

Tuan Tigabelas manggung di MLDSPOT Stage Bus Jazz

Penampil kedua di MLDSPOT Stage Bus Jazz menampilkan raper Hip Hop yang tengah naik daun di industri musik tanah air, Tuan Tigabelas. Malam itu ia tampil lengkap dengan band pengiringnya membuka set list dengan 16 Bar dan Do It.

Tuan Tigabelas begitu enerjik menguasai MLDSPOT Stage Bus Jazz. Ia berupaya membangun suasana agar penonton ikut bernyanyi bersama. Sudah diberi Buta, Skill Pay The Bills, Westwew, dan Blessing namun penonton masih asyik menikmati dari tempat duduk saja.

Setelah lagu Run Anti Hero dihantam langsung dengan Move dan penonton mulai meringsek ke depan panggung. Tuan Tigabelas pun tak ragu untuk turun dan mendekati penonton untuk membaur. Terlambat memang, tapi begitulah habit penonton musik warga +62 ini, malu-malu untuk berekspresi. Sering kali musisi dibuat melakukan effort lebih untuk memancing mereka bersenang bersama menikmati irama.

 

Sal Priadi Hujan-hujanan Bersama Penonton

Sal Priadi manggung di MLDSPOT Stage Bus Jazz

Baru memasuki malam saat bau tanah mulai menyeruak tanda awas turun hujan. Sal Priadi memulai penampilannya dengan lagu Nyala. Backsound percikan api pun membuat suasana menjadi lebih melankolis. Benar saja, gerimis hujan pun turun perlahan mendukung liriknya yang lirih.

Cukup bersedihnya, Kita nikmati Sal dengan lagu Dalam Diam yang bernada cukup ceria. Menggunakan kemeja biru dan celana hitam, Sal Priadi pun berdansa dengan asiknya di atas panggung.

Sal priadi juga selalu menyalipkan kata-kata puitis untuk setiap pergantian lagu. Kata-kata yang sungguh relatable membuat penonton selalu riuh tepuk tangan tanda setuju.

Dan epic moment pun terjadi, saat Sal Priadi membawakan lagu Melebur Semesta, hujan turun dengan derasnya. Tidak gentar justru Sal malah turun ke area penonton dan bernyanyi di bawah guyuran hujan. Penggemarnya pun setia menontonnya menggunakan payung.

“Gue terharu sama mereka yang masih berdiri di tengah hujan, hujan-hujanan sama gue. Setengah dari mereka nangis. Malam ini berarti buat gue.” Ungkap Sal Priadi seusai manggung.

Taka ada yang lebih intim ketika penyanyi dan penonton bisa berhadapan dan bersentuhan langsung tanpa batas panggung. Malam terakhir Jakarta International Java Jazz Festival 2020 berhasil dilewatkan dengan nuansa penyemangat dari Tashoora dan Tuang Tigabelas serta terselip melankolia dari Sal Priadi. Semuanya memiliki harmonis yang manis di MLDSPOT Stage Bus Jazz.