Home Profile Djaduk: Jazz Hanya untuk Kalangan Elite, Benarkah?

Djaduk: Jazz Hanya untuk Kalangan Elite, Benarkah?

Monday, March 27, 2017 - 10:30
Bagikan
Facebook Twitter Email

Jazz merupakan sebuah seni dalam bentuk musik. Namun jazz tidak sesimpel musik lain yang bisa dengan mudah menyusup ke gendang telinga siapa saja. Jazz adalah musik “seni” dengan tingkat kesulitan tinggi sebagaimana halnya musik klasik.

Kesulitan dalam mencerna tingkat kejelimetan jazz memunculkan anggapan kalau musik yang terkenal syahdu dan menenangkan hati ini identik dengan kaum eksklusif dan masyarakat elite atau ningrat. Ditambah jazz selalu dipadukan dengan nuansa formal yang diusung sang penyanyi serta suasana pertunjukan.

Stigma jazz adalah musik kalangan elite coba dihilangkan oleh Djaduk Ferianto. Di tangan pria kelahiran tahun 1964 ini, jazz bisa dikemas menjadi musik yang merakyat lewat gelaran yang digagasnya, Ngayogjazz. Djaduk membawa jazz ke tataran yang lebih membumi, murah, mudah diterima, dan juga merakyat.

Ngayogjazz pertama kali digelar pada 2007. Adik Butet Kartaradjasa ini menegaskan Ngayogjazz memiliki filosofi yang berbeda dari festival jazz lainnya. Ngayogjazz menampilkan musik-musik yang beragam mulai jazz yang bersifat mainstream, kontemporer, hingga yang berakar dari kesenian tradisional.

Djaduk ingin menyampaikan bahwa keberagaman bukanlah pemisah bagi setiap kelompok melainkan unsur yang saling melengkapi satu kesatuan. "Musik jazz itu beragam musisi dan gaya bermainnya, tapi saat dimainkan bersamaan, bisa menjadi satu harmonisasi yang indah," kata pendiri Orkes Sinten Remen ini.

Di acara tersebut, musisi tidak hanya memainkan musik, mereka juga belajar dari masyarakat pendukungnya. Dengan cara itu, lanjut Djaduk, masyarakat bisa merasa memiliki event Ngayogjazz. Terbukti, masyarakat di lokasi gelaran Ngayogjazz selama ini selalu antusias. "Di Ngayogjazz, masyarakatlah yang menjadi tuan rumah," kata dia.

Lebih jauh Djaduk mengatakan jazz dalam Ngayogjazz dimaknai sebagai gerakan kebudayaan. Djaduk yang lahir di lingkungan seniman mengatakan jazz adalah bentuk perilaku dan spirit murni dari seniman. "Ngayogjazz tidak hanya berhenti pada aspek entertainment, tapi gerakan kebudayaan," pria kelahiran Yogyakarta ini.

Perkembangan jazz yang cukup pesat dewasa ini kian mengaburkan batasan-batasan jazz. Saat ini jazz yang disajikan tidak lagi murni. Banyak unsur-unsur musik lain masuk ke dalamnya. Namun hal ini justru membuatnya terdengar lebih berwarna, tak monoton, dan bisa mudah diterima telinga. So, let’s enjoy this genre and sing together!

 

 

Source: Mediaindonesia.com