Home Profile Najwa Shihab Belajar Banyak dari RA Kartini

Najwa Shihab Belajar Banyak dari RA Kartini

Monday, May 8, 2017 - 17:01
Bagikan
Facebook Twitter Email

Najwa Shihab kian dikenal sebagai sosok presenter yang kritis ketika dirinya berhadapan dengan narasumber. Kepandaiannya mengorek informasi narasumber secara tajam dan lugas menurut putri Quraish Shihab ini karena terinspirasi dari pahlawan nasional wanita, RA Kartini.

Najwa yang dinobatkan menjadi Duta Baca Indonesia justru menganggap Kartini sebagai Duta Baca Indonesia pertama. Kartini disebut sebagai sosok yang berjasa dalam  memajukan pendidikan perempuan Indonesia kala itu. Kecintaan Kartini terhadap buku, kehausannya akan atas ilmu pengetahuan, kegemarannya membaca dan menulis, menunjukkan Kartini sebagai wanita yang memiliki gagasan jauh melampaui jamannya. Hal ini dibuktikan Kartini dengan mendirikan sekolah pertama gadis-gadis priayi Bumi Putera yang terletak di serambi belakang pendopo Kabupaten.

Ketika di bangku sekolah, Najwa mengaku tak kenal betul dengan sosok pahlawan nasional wanita yang hari lahirnya kerap dirayakan setiap tanggal 21 April ini.  Kartini yang diketahuinya hanya sebatas simbol emansipasi wanita yang dirayakan tiap tahunnya dengan mengenakan baju tradisional budaya Indonesia, bernyanyi dan tampil di panggung sekolah.

Barulah setelah menyelesaikan bangku sekolah, Najwa mulai mengenal esensi dari seorang Kartini lewat buku-buku serta artikel tentang tokoh emansipasi wanita Indonesia yang dibacanya,  seperti 'Habis Gelap Terbitlah Terang' dan' Kartini Perempuan Modern'. Najwa mengaku terpesona dengan tulisan-tulisan Kartini yang menunjukkan keinginan memajukan perempuan Indonesia dari perangkap adat istiadat yang sangat merugikan perempuan. Kartini merasa ada diskriminasi yang besar terhadap perempuan terutama di bidang pendidikan karena tidak ada kesempatan bersekolah lebih tinggi.

Kartini yang juga piawai dalam menghasilkan karya tulisan reportase yang mendalam membuat Najwa menganggap Kartini adalah Wartawan Perempuan Pertama Indonesia. Sebuah artikel menceritakan sejarah Kartini yang kerap menuliskan surat untuk teman-temannya orang Belanda. Dalam surat itulah ia melampiaskan cita-citanya untuk menuntut persamaan hak dan kewajiban antara pria dan wanita. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan akhirnya dimuat di De Hollandsche Lelie, sebuah majalah terbitan Belanda.

Hebatnya, lanjut Najwa, Kartini sempat mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Belanda karena tulisan-tulisannya. Namun ayahnya pada saat itu memutuskan agar Kartini harus menikah dengan R.M.A.A. Singgih Djojo Adhiningrat, Bupati Rembang yang kala itu sudah pernah memiliki tiga istri.

 

 

Source: Kumparan.com