Ngobrol bareng Denny Chasmala: Si Hobi Bermusik Sejak Kecil - MLDSPOT
  • Profile
  • Ngobrol bareng Denny Chasmala: Si Hobi Bermusik Sejak Kecil

Ngobrol bareng Denny Chasmala: Si Hobi Bermusik Sejak Kecil

Wed, 02 December 2020
Denny Chasmala

Di masa new normal ini banyak mengalami perubahan ya, bro - nggak hanya di ekonomi, tetapi industri musik pun terkena dampaknya. Ketiadaan panggung hiburan selama berbulan-bulan berpengaruh pada dunia musik tanah air. Salah satu musisi dan pencipta lagu, Denny Chasmala terkena imbas dari adanya adaptasi baru tersebut.

Dalam akun Instagram-nya, dia mengunggah sebuah foto yang menunjukkan bahwa ia telah menjual sejumlah aset yang ia miliki, mulai dari alat musik hingga sepeda motor. Namun, terlepas dari kabar tersebut, kita akan bahas lebih dalam sosok DenChas, bro.

Denny Chasmala atau yang biasa dikenal DenChas lahir di Surabaya, pada tanggal 20 Juli 1973. Seorang komposer dan arranger yang besar dan hidup di dunia musik. Pada masa SMA, ia bahkan pernah menjaga studio. Tetapi, siapa sangka, dari tempat itulah dia mengasah kemampuan gitarnya.

Setelah lulus SMA, DenChas terjun ke studio rekaman. Lalu, memiliki sebuah band yang mengisi pentas seni pada masanya. Sampai akhirnya membawa dia untuk bermain sebagai session player band-band yang ada di studio.

Sosok di Balik Lagu “Berharap Tak Berpisah” dan “Pilihlah Aku”

Denny Chasmala

Credit image - narasa.tv

Pernah denger lagu Pilihlah Aku dari Krisdayanti? Atau Berharap Tak Berpisah dari Reza Artamevia? Dua debut hits Indonesia tersebut merupakan ciptaan dari Denny Chasmala, lho.

Menariknya, Denny Chasmala nggak seperti pencipta musik pada umumnya, dirinya nggak pernah sekalipun menabung untuk menciptakan lagu. Ketika ada tawaran untuk membuat lagu, DenChas harus mengerti karakter dan sifat si penyanyi.

Dalam wawancara yang dilakukan oleh Soleh Solihun di channel YouTube-nya, saat menciptakan lagu “Pilihlah Aku” untuk Krisdayanti, DenChas hanya membutuhkan waktu 10 menit. Dari lagu tersebut, album Krisdayanti ini laku 450 ribu kopi di seluruh Indonesia.

Mengutip dari program Tamu Talent Ori, “Kalau sekarang, saya inspirasi musik dan lirik terpisah. Inspirasi datang dari mana saja. Saya sudah nggak ada inspirasi lagi, kapan saja bisa ngeluarin. Saya dari kecil sudah dilatih,” ucap DenChas.

“Yang sulit adalah menerjemahkan cerita lirik. Saya nggak sembarang bikin musik, disesuaikan dengan kemampuan penyanyi. Kadang, inspirasi dapat dari mimpi,” sambungnya.

Perjalanan Karir Denny Chasmala

Karirnya sebagai pencipta lagu semakin melejit. Ia yang awalnya hanya membuatkan lagu pun beralih ke arranger dan juga produser. Penyanyi serta band besar seperti Tere, D’Masiv, dan Jikustik pernah diproduserinya.

Sekarang DenChas fokus sebagai pencipta lagu, produser, dan juga mentoring. Setelah di-endorse oleh Yamaha, DenChas kini mengajar calon guru musik.

Dalam proses pembuatan sebuah lagu, dia harus banyak melakukan improvisasi dan mengerti harmoni dan untuk pembuatan liriknya ia akan menyesuaikan dengan karakter si penyanyi.

“Saya tergantung yang nyanyi siapa. Mood saya nggak ada aturan, bebas saja selama dinyanyikan dengan mudah sama penyanyi. Saya bisa memahami setiap orang membuat lirik yang puitis seperti Pusakata, saya mau belajar,” ujar DenChas

Lirik lagu yang dia ciptakan bermacam-macam, ada yang mengungkapkan sesuatu, menyampaikan pesan, hingga menyindir orang. Kini banyak orang yang mengantri untuk bekerja sama dengan DenChas ini bisa sampai 6 bulan! Dan antrian tersebut sudah ada sampai tahun depan. Benar-benar sang master class!

Mahir Menciptakan Lagu

Awal terjun ke dunia musik menjadi arranger semua artis penyanyi Indonesia dan juga produser album untuk Titi Dj, Krisdayanti, Ratu, Duo Maia & Tere. Tidak cukup itu, dia juga adalah konduktor orkestra Kebatinan Denny Chasmala.

Pada suatu kesempatan, pihak dari Multivision Plus ingin dibuatkan sebuah lagu dan bertemu dengan DenChas. Dengan percaya diri, ia mengatakan bisa membuat lagu. Keesokan harinya, Anjasmara datang untuk dibuatkan lagu soundtrack sinetron Si Cecep.

Sudah akrab dengan musik sejak masih kecil, membuat dia bisa mendapat inspirasi dari mana saja. DenChas pun 2 kali bolak-balik ke toilet, bukan karena sakit perut tapi untuk membuat lagu. Hasilnya? Anjasmara sangat puas dengan lagu ciptaan DenChas.

Tahun 2020, ia juga berhasil menciptakan lagu yang berjudul “Jadian” milik Bonn dan Thalia. Nggak butuh waktu lama untuk membuat single tersebut dan proses rekamannya pun terbilang singkat, hanya butuh tiga hari saja di studio milik Denny Chasmala.

Wahhh sangat menginspirasi ya, bro perjalanan karirnya. Gimana apa lo tertarik juga menjadi pencipta lagu?

Mods Culture: Gaya Hidup yang Menggabungkan Vespa Klasik dan Musik

Tue, 23 February 2021
Vespa Klasik

Semua orang punya referensinya masing-masing dalam berpakaian. Ada yang lebih suka berpenampilan dengan style sesuai kenyamanannya, ada yang sukanya up-to-date dengan fashion terkini, ada juga yang punya referensi dari band atau genre musik yang diminati.

Beberapa waktu lalu, MLDSPOT sempat membahas gimana band grunge mempengaruhi cara berpakaian yang sampai sekarang juga masih banyak diminati. Kali ini, MLDSPOT bakal ngebahas tentang gaya hidup yang juga mempengaruhi gaya berpakaian di dekade 60-an yang identik dengan musik rock & roll saat itu dan jadi outfit yang identik dengan vespa klasik – yang dikenal dengan Mods Culture.

Dari musik, kok bisa jadi vespa klasik – pasti lo bertanya-tanya, kan? Mengingat ternyata secara nggak sadar ternyata gaya hidup dan gaya berpakaian ini masih banyak diminati, sepertinya informasi ini penting untuk lo ketahui. Mending langsung aja simak selengkapnya mengenai mods culture di bawah ini ya, bro!

Gaya Berpakaian ‘Modern’ Saat itu

Vespa Klasik

Credit image – John’s Medley

Gaya ini awal mulanya muncul di London sekitar tahun 1960-an. Dimana gaya hidup mods ini berasal dari kata modernis. Gaya ini awalnya menjadi sebuah gaya fashion remaja saat itu yang mencoba untuk mematahkan tradisi berpakaian yang telah diwariskan.

Gaya berpakaian yang dikembangkan oleh para remaja kelas pekerja yang berpaku pada musik yang sedang diminati saat itu – yaitu rock & roll. Berdasarkan musik ini akhrinya para remaja menggunakan pakaian dengan warna solid, cerah, dan kontras.

Adaptasi berpakaian dari gaya musik ini berakar dari kelompok kecil di era 1950-an dimana modernisasi mulai muncul. Kelompok ini identik dengan para anggotanya yang mendengarkan musik jazz modern. Gaya inipun disambut oleh anak muda saat itu hingga berubah menjadi gaya hidup.

Dari Gaya Hidup dari Musik, Pakaian, sampai Vespa Klasik

Bermula dari gaya berpakaian, mods culture-pun berubah menjadi gaya hidup yang dilakukan oleh kaum-kaum muda saat itu. Dari berpakaian, akhirnya mods culture menjadi punya pasar dan penggemarnya sendiri. Sejak kemunculannya, akhrinya para kelompok penganut mods culture ini sering mengadakan pertemuan di coffee shop.

Nggak cuma berpakaian dan gaya musik aja, ‘anak tongkrongan’ dengan gaya mods ini juga identik dengan menggunakan vespa klasik. Seiring berjalannya waktu, penganut mods culture menjadikan kepemilikan vespa klasik sebagai subkultur yang berbeda.

Vespa klasik menjadi pendukung dari gaya hidup ini sendiri sehingga menjadi lebih kompleks. Mods dianggap sebagai gaya hidup kaum urban yang lebih mementingkan pergaulan dibandingkan hal-hal lain dihidupnya. Dengan kehadiran vespa klasik, gaya hidup mods ini semakin merajalela.

Akhirnya, gaya hidup inipun nggak hanya dianut oleh para remaja kelas pekerja aja. Subkultur mods ini menjadi komersil secara nggak langsung tanpa harus dikomersilkan – karena dengan banyaknya penganut dari mods, akhirnya menjadi gaya hidup ini nggak hanya untuk para pekerja saja.

Mods Culture di Indonesia

Vespa Klasik

Credit image – Jakarta Mods Mayday

Di Indonesia sendiri, subkultur mods ini juga digemari – bahkan hingga saat ini. Salah satu penanda hadirnya mods culture di Indonesia adalah awal 1960-an dimana vespa klasik dan musik menjadi satu kesatuan bagi kaum muda mudi saat ini.

Nggak jauh berbeda dari London, di Indonesia sendiri para penganut mods culture ini juga mengikuti tren dari musik di dunia barat sana – The Beatles memiliki peran yang cukup banyak pada perkembangan subkultur mods di Indonesia.

Kepemilikan vespa klasiklah yang sedikit membedakan mods culture di Indonesia dengan di dunia barat sana. Karena di Indonesia, pemilik vespa klasik nggak hanya dimiliki oleh kaum pekerja ataupun kelas menengah bawah. Tren mods ini membuat vespa klasik menjadi lebih hidup.

Di Indonesia sendiri, para penganut mods ini berkumpul setiap perayaan Mayday dengan mengadakan Mods Mayday. Awalnya, kegiatan ini ahnya dilakukan oleh komunitas Skinhead Warriors dari mulut ke mulut, namun semakin berjalannya waktu, kegiatan ini menjadi rutinitas yang dilakukan pada bulan Mei setiap tahunnya.

Menarik banget subkultur tentang mods ini ya, bro – dari musik, gaya berpakaian, sampai ke vespa klasik. Mungkin kalau lo pengguna vespa udah nggak asing lagi untuk riding dengan komunitas mods lo tanpa lo sadari.

Jadi, apakah lo termasuk dalam pengikut mods culture ini? Atau justru menjadi tertarik untuk mengikutinya?

 

Feature image – John’s Medley