Home Scoop 17 Agustusan di Stage Bus Jazz Tour Semarang
17 Agustusan di Stage Bus Jazz Tour Semarang

17 Agustusan di Stage Bus Jazz Tour Semarang

Tuesday, August 20, 2019 - 14:13
Bagikan
Facebook Twitter Email

Tepat di hari kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2019 kemarin, pelataran Museum Mandala Bhakti, Semarang, tidak terlihat seperti biasanya, Urbaners. Sejak sore museum yang berhadapan dengan monumen Tugu Muda ini mengeluarkan alunan musik jazz yang berkumandang ke empat arah. Penyebabnya bukan tak lain lagi karena kedatangan Stage Bus Jazz Tour 2019!

Dari luar, tata lampu terlihat memancar tak beraturan ke langit Semarang. Suasana itu sontak mengundang tanda tanya dan perhatian setiap orang yang melintas di sekitar Jl. Mgr Sugiyopranoto. "Yura Yunita main jam berapa, Mas?" tanya salah satu pengunjung di hadapan ticket box. "Dia manggung sekitar jam 9," sahutnya. Merasa puas dengan jawaban tersebut, si pengunjung beranjak masuk dengan memegang 2 tiket di tangan, dan berhenti di depan sign board bertuliskan "MLDSPOT TONIGHT SHOW: BASS G, DEREDIA, PUSAKATA & YURA YUNITA". Yes, mereka adalah daftar musisi yang akan memeriahkan panggung Stage Bus Jazz Tour 2019 di Semarang malam itu.

 

BASS G Suguhkan Penampilan Sekelas Java Jazz!

BASS G Suguhkan Penampilan Sekelas Java Jazz!

 

"Please welcome, Bass G!" teriak firman, sang MC, saat mempersilahkan mereka naik ke atas panggung. Tepat pukul 19.05, grup musik yang kental dengan modern jazz tunes-nya ini tampil sebagai musisi pembuka. Geraldo Bhaskarata Putra Sibbald, pentolan Bass G, menyapa penonton dengan satu pertanyaan, “Hari ini 17-an, ya. Mana teriakan merdekanya?” Serentak penonton yang mulai merapat ke panggung menjawabnya tegas, ”Merdeka!”

 

Sebagai musisi pembuka, Bass G bermain dengan cukup ‘ganas’. Nggak terhitung berapa kali penonton menyoraki duet saxophone Geraldo dan Tommy Pratomo (alto sax). Mereka membawakan total 9 lagu seperti “Summer Goddess” dari Soil & “Pimp” dan “Kopi Dangdut” yang diaransemen ulang dengan sangat ciamik! Rasanya, aksi mereka berada di level sekelas panggung besar Java Jazz.

Pada penampilan kala itu, Bass G juga memperkenalkan drummer baru mereka, Agung Munthe. Mereka memperkenalkannya dengan cara yang cukup unik. Munthe dibiarkan melakukan solo drum untuk waktu yang cukup lama. “Biarin dulu, biarin. Jangan masuk,” kata Geraldo ke personil lainnya. “Nah, akhirnya Bass G dapat drummer juga. Gimana mainnya? Asik, kan?” tanya Geraldo ke penonton.

 

Deredia yang Pandai Mengajak Berdansa

Deredia yang Pandai Mengajak Berdansa

 

Musik-musik lawas memang selalu punya tempat di telinga para penikmat musik. Selain punya lirik-lirik yang aduhai, musik lawas juga punya aransemen dan konsep unik, yang belum tentu bisa lo temukan di era musik masa kini. Pilihan itulah yang akhirnya diambil Deredia, unit pop, swing dan lenso yang turut memeriahkan panggung Stage Bus Jazz Tour di Semarang.

 

Kegigihan Louise Sitanggang (vokal) dalam mengajak penonton bernyanyi bersama perlu diapresiasi, Urbaners. Sepanjang pertunjukan, dara cantik bersuara merdu ini berkali-kali mengarahkan mikrofon ke kerumuman penonton. Walau terkadang dijawab diam atau malu-malu, tapi niatnya untuk menyuguhkan penampilan yang atraktif tidak luntur. "Kalo nggak mau nyanyi, gue mau narik kalian ke depan buat joget bareng," ancam Louise sambil bercanda.

Tapi, momen itulah yang akhirnya memecah suasana. Louise menunjuk beberapa penonton buat maju ke depan dan mengikuti tariannya. "Keluarin jiwa dancer kalian! Pokoknya, kalian nggak boleh balik ke kalo jogetnya belum luwes," ujar Louise sambil mencontohkan beberapa pose. Suasana menjadi penuh tawa. Beberapa peserta yang maju berdansa sebisanya, dari yang kaku sampai berlenggang ria. Malam itu, 10 lagu dari Deredia memberikan perkenalan yang  berkesan bagi fans barunya di Semarang.

Pusakata; “Sekali Merdeka Tetap Merdeka”

Pusakata; “Sekali Merdeka Tetap Merdeka”

 

Jarum jam menunjukkan pukul 20.20. Para pengunjung Stage Bus Jazz Tour yang tadinya bersantai di food trucks dan seru-seruan di main booth MLDSPOT, mulai berlari kecil ke arah panggung. Yap, Pusakata sudah dipersilahkan sang MC buat naik ke atas panggung. Bisa dibilang, penampilannya menjadi salah satu yang paling ditunggu setelah Yura Yunita.

 

“Merdeka!” teriak Is sambil mengepalkan tangan ke atas. Penonton yang sudah kembali berkumpul menjawabnya dengan sorak-sorai yang kompak. Senyum tipis terpancar dari wajah Is, seakan menandakan saatnya kita semua bersenang-senang. “Kehabisan Kata”, “Berdua Saja” dan “Angin Pujaan Hujan” dipilih menjadi 3 lagu pertama. Perlahan, energi yang dikirim Pusakata lewat alunan musik syahdu berhasil membuat penonton menyanyi bersama.

Usai bawakan “Jalan Pulang”, Is mengganti gitarnya dan mengajak penonton bercengkrama. Dia menyuarakan arti dari kemerdekaan yang sesungguhnya dan makna kebebasan yang menyeluruh.“Kita adalah satu. Perbedaan itu satu hal yang membuat Indonesia kuat. Mari kita bergandengan tangan,” seru Is. Musisi yang baru saja menelurkan album “Dua Buku” ini akhirnya memilih lagu “Akad” sebagai penutup. Sebelum turun, Is mengucapkan pesan terakhir, “Sekali lagi, mari kita bersama menjaga persatuan dan jangan buang plastik sembarangan. Sekali merdeka tetap merdeka!

 

Yura Yunita Mencampur Aduk Perasaan Penonton

Yura Yunita Mencampur Aduk Perasaan Penonton

 

"Selamat malam, Semarang! Kalian siap?" sapa Yura Yunita begitu menampakkan dirinya di panggung Stage Bus Jazz Tour 2019. Malam ini, seluruh perhatian mengarah kepadanya, Urbaners. Penyanyi yang memiliki senyuman manis ini terlihat memesona dengan kemeja santai berwarna biru, dan celana panjang berwarna hitam. Rambutnya dibiarkan panjang terurai, menandakan dirinya siap buat berjingrak-jingkrak.

 

Kehebatan seorang Yura dalam menguasai panggung memang tak perlu ditanyakan lagi. Dia berlarian seperti memiliki 2 kantung tenaga cadangan. Keceriaan yang hadir di wajahnya memberikan kebahagian ke tengah kerumunan penonton dalam alunan "Apakah Kamu", “Intuisi”,"Berawal dari Tatap" dan "Takkan Ada". Tapi, bukan Yura jika tidak bisa mengaduk-ngaduk perasaan pendengarnya, Urbaners.

Sebelum membawakan lagu "Merakit", Teteh Yura, nama panggilan akrabnya, menceritakan tentang bagaimana perjuangannya meraih mimpi untuk melahirkan album ini walaupun banyak rintangan yang menghalangi. Karena itu, di lagu ini Yura ingin mereka yang nggak bisa mendengar bisa memiliki semangat yang sama dengannya buat meraih mimpi. Di akhir acara, suasana emosional yang terbangun ditutup Yura dengan lagu "Harus Bahagia". Stage Bus Jazz Tour 2019 di Semarang akhirnya ditutup dengan tepuk tangan yang meriah.