Home Scoop A Journey Into Rendy Pandugo's Mind

A Journey Into Rendy Pandugo's Mind

Monday, October 9, 2017 - 15:50
Bagikan
Facebook Twitter Email

Apa yang spesial dari Rendy Pandugo? Sebaiknya pertanyaannya diganti menjadi: apa yang tidak spesial dari Rendy Pandugo?

Suaranya di atas rata-rata, musiknya berkualitas, and he’s a really good looking guy. Poin-poin positif yang sudah memenuhi syarat untuk menjadi seorang bintang besar.

Media streaming musik daring bernama Soundcloud mempunyai andil besar bagi perjalanan karirnya. Dari beberapa unggahan pamer suaranya, Ia mulai mendapat tawaran-tawaran mengisi acara pada beberapa cafe dan mall. Hingga pada tahun 2015, namanya mulai tercium oleh beberapa label musik. Bila menarik ke belakang, dimana Ia mengalami dilema dalam berkarir, keputusannya untuk tetap berada di jalur musik sangatlah tepat.

Kerja keras seorang Rendy Pandugo sudah mulai terlihat hasilnya. Namanya mulai menghiasi beberapa media, karir musiknya sedang menanjak. Dengan album berjudul ‘The Journey’, Rendy Pandugo siap menjadi kendaraannya mengarungi belantara musik Indonesia.

 

Bisa diceritakan awal karir Rendy Pandugo?

Jadi 2014 gue sempet down, pengen kantoran tadinya. Akhirnya mikir lagi, udah semaksimal apa sih. Pas gue pikir-pikir lagi ternyata masih belum maksimal lah intinya. Akhirnya gue mencoba untuk “okelah coba ‘ngamen’ di cafe-cafe”, which is itu gue belum pernah lakuin juga sih sebelumnya. Lalu ada tawaran main di cafe, eh mall, waktu itu empat jam sehari, seminggu bisa 4-5 kali, baru setelah itu merambah cafe-cafe di daerah Jakarta Selatan. Sampai akhirnya ada label yang pengen nge-produce gue di (tahun) 2015. 

 

Alasan Rendy Pandugo memutuskan memilih semua lagu berbahasa Inggris untuk album ini?

Karena di (tahun) 2014 ketika gue memutuskan untuk solo karir, gue punya nazar bahwa gue pengen bikin album yang belum pernah gue bikin sebelumnya, which is adalah berbahasa Inggris. Terus 2015 itu, label tertentu sempet datang, dua kali awal pertemuan, sempet nolak, karena waktu itu gue yakin mereka pasti nggak mau materi bahasa Inggris. Jadi deal-nya waktu itu sempet 60% bahasa Inggris dan 40% bahasa Indonesia. Sampai suatu ketika gue dipertemukan sama Artist and Repertoire (A&R) dari Sony Music Asia Pacific, gue present lima lagu untuk waktu itu, dua lagu cover, tiga lagu original, kebetulan bahasa Inggris semua. Akhirnya mereka granted untuk bikin berbahasa Inggris.

 

Karena Rendy sempat cukup banyak membuat lirik bahasa Indonesia.

Kalo gue sih sebetulnya, karena gue udah lama engga nyoba lagi. Kalau secara ngebawain sih bisa banget, cuman kalau ketika gue harus nulis bahasa Indonesia gue belum pernah nyoba lagi, jadi belum bisa ngomong banyak. Tapi ketika nulis untuk orang lain, gue masih bisa. Jadi kemungkinan masih bisa sih, karena gue bukan yang anti (menulis lagu) berbahasa Indonesia juga kan.

 

Lo sempat mendeskripsikan album ‘The Journey’ dengan tiga kata: diversity, easy listening, dan journey? Bagaimana penjelasan dari diversity tersebut?

Gue bisa bilang keberagaman genre sih di sini (album The Journey), mulai dari ada yang folk, ada country-nya, terus yang sangat pop juga ada, ada blues-nya juga, bahkan ada beberapa part EDM gue masukin juga.

 

Keberagaman bisa jadi tantangan tersendiri. Selalu akan ada tanggapan asumsi negatif: enggak ada ciri khas. Bagaimana Rendy Pandugo mengatasinya, terutama untuk album ini?

Nah makanya, kenapa ko albumnya ‘The Journey’, dalam lima tahun, engga mungkin gue mendengarkan musik yang sama. Dari lima tahun itu pasti sangat banyak band dan sound di kepala gue. Jadi gue mengistilahkan ‘The Journey sebagai rangkuman nada-nada yang gue punya selama lima tahun terakhir. Dan itu juga mengapa ada ‘Diversity’ yang tadi itu. Kalo misalnya ada tentang ‘’engga punya ciri khas’’ itu, kalian harus tahu dulu visi-misi gue bikin labum ini, haru tahu dulu intinya dari album ini itu apa, baru kalian bisa nge-judge ‘diversity’ yang dimaksud seperti apa.

 

Lagu favorit Rendy sendiri dari ‘The Journey’?

Favorit gue nomor satu itu, ‘Bad Company’, karena ini adalah lagu setelah gue vakum lama ini lagu yang gue tulis pertama dan itu emang beneran kejadian nyata. Tentang di mana gue engga tahu harus konsultasi dan sharing ke siapa.  Gue mulai nulis lagi gimana ya enaknya. Ya akhirnya gue tulis aja yang lagi gue rasain.’’I'm in a situation, when no one loves me, no one hates me’’, “Everything turns grey”.  Jadi gue bener-bener ada di tengah-tengah, ga berwarna-warrni, ya segala sesuatunya abu-abu. Itu yang gue rasakan waktu itu, gue kesepian, engga ada temen untuk sharing, in terms of music ya.

 

Kalau lagu ‘Bad Company’ dan satu lagi, ‘Steal Away’.

Oh ya, jadi ‘Steal Away’ adalah salah satu lagu yang gue kira akan jadi ‘’sampah”, kirain itu lagu engga bakal diterima, haha. Jadi ada dua tuh, ‘Steal Away’ sama ‘I Know the Answer’. Gue kira engga bakal masuk album lah inilah. Karena target gue waktu itu. Gue mulai nulis November tahun 2015 dan Februari gue harus berangkat ke Sweden untuk ngerjain (album), which is gue diminta untuk buat 15 lagu, tapi gue cuman bisa ngumpulin 8 lagu. Akhirnya yaudahlah 2 lagu ini gue masukin aja.

 

Itu keputusan yang tepat sih.

Iya gue akhirnya memang nanya juga di sana. Gimana menurut lo (dua) lagu ini? ‘’bagus, kok. Bagus writingnya juga’’ dia bilang gitu. Ini orang lagi menghibur gue doang atau gimana, haha. Gue sempet berpikir begitu sih. Tapi Alhamdulillah ketika udah jadi versi lengkapnya, oh ya ternyata bisa didengerin juga sih, hahaha.

 

Album ini direkam di Kennel Studio, Swedia. Ada alasan sendiri memilih studio itu?

Oh kalau itu atas andil dari Sony Music-nya yang kerjasama pihak studionya ya.

 

Album ini menerjemahkan idealisme Rendy Pandugo dengan baik, apakah Rendy orang yang peduli dengan keseluruhan sound?

Jadi gue dulu cukup ngulik recording dan segala macemnya. Sempet mixing, mastering sendiri, dulu banget sih tapi. Akhirnya sampai di sini gue udah mulai ganti gear dan udah lebih sibuk “ngamen’’ dan compose lagu. Tapi menurut gue, yaudah gue serahkan pada para ahlinya ajalah, untuk urusan kayak gitu, haha. Tapi di panggung gue masih cukup detail kok.