Home Scoop Basic Script Writing with Irfan Ramli
Basic Script Writing with Irfan Ramli

Basic Script Writing with Irfan Ramli

Monday, April 16, 2018 - 10:55
Bagikan
Facebook Twitter Email
Font Size

Urbaners, pada acara MLDSPOT Instaclass Movie Talk: The Art Of Directing, 8 April lalu, Irfan Ramli berbagi pengetahuannya tentang the basic of script writing. Walaupun ia termasuk penulis naskah yang tidak memiliki background perfilman, tapi ternyata karyanya tetap diminati para pakar film. Para pakar film inilah yang kemudian langsung menawarkan Irfan Ramli untuk masuk industri perfilman.

Penasaran apa saja dasar menulis skrip ala Irfan Ramli?

 

#1 Knows What Screenplay Is

Pertama-tama, kenali dulu “apa sih screenplay itu?”. Screenplay adalah sebuah skrip yang sudah berisi instruksi akting yang lengkap dan pengarahan setiap scene pada film. Screenplay juga bisa diartikan sebagai sebuah penyampaian cerita dengan gambar, dalam konteks struktur yang dramatis. Atau kalau menurut Syd Field dalam “Screenplay: The Foundation of Screenwriting, “It is the art of visual storytelling”. Untuk memulainya, harus dipikirkan dulu tentang apa yang mau diceritakan dan bagaimana ceritanya akan divisualisasikan. Untuk yang bersifat teknis, buatlah scenario sebagai blueprint, yang akan menjadi acuan rencana kerja untuk dikerjakan dalam struktur tertentu.

 

#2 Find The Idea

Setelah tahu apa itu screenplay, kita perlu mengetahui tahap-tahap dalam script development. Menurut Irfan Ramli, ada 3 proses dalam script development yang selalu ia gunakan sebagai penulis naskah, yaitu mencari ide, pengembangan cerita, dan pengemasan ke dalam sebuah tulisan. Makanya sebagai langkah pertama, tahap pencarian ide menjadi penting untuk dibahas.

Sekarang, menemukan ide yang unik dan menarik semakin sulit. Menemukan ide yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya juga sulit. Jadi, nggak heran kalau sekarang itu ide semakin mahal nilainya. Solusinya? Tenang. Nggak semua ide harus sepenuhnya berbeda kok. Ide yang sama jika diberi sudut pandang dan dikemas secara berbeda, justru bisa terlihat sperti ide baru yang menarik bagi penontonnya.

Atau lo juga bisa mencari ide dengan mindset yang Pixar miliki, yaitu “Stories is all about what if”. Sebagai contoh, “Bagaimana jika mainan itu hidup?” adalah sebuah pertanyaan yang akhirnya menimbulkan ide dasar dari film Toys Story. Simpel kan?

 

#3 Make A Story Development

Setelah menemukan ide yang tepat, selanjutnya adalah tahap pengembangan cerita. Ada 2 faktor nih yang mendukung pengembangan cerita, yaitu premis dan karakter. Premis dibutuhkan untuk mengikat ide agar nggak berubah. Sedangkan karakter dibutuhkan untuk menggerakkan cerita.

Sebuah premis yang baik, harus memiliki 4 elemen didalamnya yaitu plausibility, inherent conflict, emotional appeal dan authenticity.Plausibility dalam sebuah premis merupakan hal yang mungkin terjadi di kehidupan nyata. Sedangkan inherent conflict adalah hal yang memiliki potensi konflik alami. Selanjutnya adalah emotional appeal yaitu hal yang mampu menggerakan perasaan. Dan elemen terakhir adalah authenticity yang merupakan keunikkan dari karakter.

Faktor selanjutnya untuk mendukung pengembangan cerita adalah karakter. Ingat, karakter dibutuhkan untuk menggerakkan cerita, jadi karakter adalah faktor yang krusial. Karakter dengan latar belakang yang menarik juga penting untuk sebuah skenario. Untuk menciptakan hal itu, karakter haruslah memiliki wants, needs, belief, strength, weakness, fear, pathos, humanity dan admiration.

Bagaimana Urbaners? Siap memulai skrip film pertama lo dengan 3 dasar ini? Untuk tahu lebih banyak lagi tentang dunia perfilman, yuk dukung terus MLDSPOT Instaclass Movie Directing! Dengan ini, lo bisa datang ke acara-acara MLDSPOT Instaclass yang akan datang.