• News
  • Pandulisane, Komunitas Baru yang Ingin Tingkatkan Akses Disabilitas

Pandulisane, Komunitas Baru yang Ingin Tingkatkan Akses Disabilitas

Sat, 26 October 2019

Urbaners, tahu nggak? Menurut WHO, di tahun 2011 ada sekitar 15% penduduk dunia yang menyandang disabilitas atau difabel (different ability). Sementara itu, menurut data PUSDATIN dari Kementerian Sosial, pada 2010, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai lebih dari 11 juta orang. Belum terkonfirmasi berapa jumlah itu di tahun 2019 ini, tapi yang jelas jumlah itu angka yang tinggi, lho!

Nah, apakah lo memiliki teman atau keluarga penyandang disabilitas? Kalau iya, pastinya lo setuju bahwa diperlukan pengetahuan khusus agar dapat berinteraksi dengan mereka mengingat teman-teman difabel membutuhkan perlakuan dan penanganan tertentu.

Sayangnya, nggak semua orang punya pengetahuan itu, bukan? Kadang sebagai keluarga atau orang terdekat saja, lo mungkin berasa bingung, sungkan, dan ragu bertindak karena takut melukai hati mereka.

Terinspirasi dari problem tersebut, anak-anak muda di Jakarta pun mendirikan komunitas Pandulisane. Apa aja sih kegiatan komunitas ini?

Para relawan Pandulisane yang menyebut diri mereka hopekeeper, berfoto bersama setelah kegiatan mereka

 

Pandu Tuli Daksa Netra

Pandu Wicaksono, founder Pandulisane, telah lama mempunyai concern terhadap penyandang disabilitas. Berawal dari seringnya ia menjadi penerjemah bahasa isyarat untuk para difabel, ia semakin paham bahwa ada jarak antara perlakuan yang dibutuhkan oleh para penyandang disabilitas dengan yang diasumsikan oleh orang-orang non-disabilitas. Gap ini seringkali terjadi karena kurangnya pengetahuan dan interaksi masyarakat dengan satu sama lain.

 

Pandu Wicaksono dalam sebuah acara sedang mensosialisasikan tentang komunitas rintisannya

Nama Pandulisane sendiri merupakan singkatan dari Pandu Tuli Daksa dan Netra. Nama komunitas yang berdiri pada Mei 2018 ini, menyiratkan keinginan mereka untuk menjadi wadah belajar bagi siapapun yang berniat memandu teman tuli, daksa dan netra. “Dengan belajar mengenai disabilitas, kita bukan hanya membantu orang lain, tapi juga membantu diri kita sendiri untuk bertumbuh,” begitu ungkap Pandu.

Melalui tagline #HelpPeopleHelpYourself, Pandulisane mulai menginisiasi kelas-kelas terbatas yang memberikan experience untuk memahami para difabel dan pembekalan cara terbaik berinteraksi dengan mereka. Misalnya nih, kalau lo sering kagok bertemu dengan teman tuli karena nggak tahu gimana cara bicara dengan mereka, dengan gabung di Pandulisane, lo bisa diajarin teknik dasar bahasa isyarat yang bisa melancarkan komunikasi dengan mereka.

 

Aksi Motoin Akses

Pandulisane juga sering ngadain kegiatan-kegiatan kreatif yang bermakna bagi para difabel. Salah satu kegiatan itu adalah aksi “Motoin Akses” yang baru di-launching pada bulan September 2019. Mereka mengajak orang-orang untuk menjadi relawan mendokumentasikan akses dan fasilitas bagi para penyandang disabilitas.

Siapa saja bisa berpartisipasi dalam aksi #motoinakses nya Pandulisane lewat aplikasi campaign.id

Lo mungkin udah tahu kalo sampai saat ini, pemerintah udah nyediain berbagai akses dan fasilitas buat para difabel ini. Misalnya, kalau lo ngeliat jalur berwarna kuning di trotoar dan signage atau papan nama petunjuk rute dan arah, itu adalah dua contoh akses untuk difabel tuna netra. Sedangkan kalo lo lihat ada turunan tanpa undakan di sebelah tangga, dan spot kosong di kereta atau MRT, itu adalah contoh fasilitas bagi kaum difabel untuk tuna daksa.

Tapi, nggak banyak orang tahu tentang hal itu, sehingga kadang akses-akses tersebut dirusak oleh mereka yang nggak ngerti. Akses fisik yang sudah ada tentu akan percuma tanpa akses non-fisik atau pemahaman dan kesadaran masyarakat akan akses tersebut.

Nah, melalui aksi motoin akses yang digagas Pandulisane, para relawan Pandulisane akan menyebarkan foto-foto akses fisik yang mereka temui ke media sosial. Harapannya, ini bisa menjadi corong sosialisasi agar akses fisik yang sudah ada tetap bisa terjaga dan pemanfaatannya bisa maksimal, Urbaners!

 

Kolaborasi untuk lingkungan Inklusif terbaik di Indonesia

Para penyandang disabilitas menggunakan akses entrance dalam acara MRTbility yang digagas MRT Jakarta dengan melibatkan komunitas Pandulisane.

Pandulisane bercita-cita merealisasikan impian para penyandang disabilitas, yaitu terwujudnya lingkungan inklusif bagi mereka di Indonesia. Pandulisane memulai usaha itu dengan mengenalkan dunia disabilitas kepada masyarakat umum. Dalam kegiatannya, mereka nggak tanggung-tanggung merangkul dan dirangkul oleh berbagai komunitas lainnya. Pandulisane yakin bahwa kolaborasi dan sinergi itulah yang akan membawa mereka menuju target tujuan mereka.

Yakin deh, kalau banyak komunitas inspiratif kayak Pandulisane ini, Indonesia bakal lebih baik lagi kedepannya. Gimana menurut lo, Urbaners?

Anyway, kalau lo tertarik untuk ikutan kegiatan Pandulisane, mereka biasanya membuka kesempatan buat lo yang  jadi hopekeeper, atau relawan dalam mencapai tujuan lingkungan inklusi. Kepoin mereka di IG @pandulisane, ya!

Melihat Lebih Luas Dunia Menyelam yang Tidak Hanya Itu-itu Saja

Wednesday, February 12, 2020 - 13:44
Dua penyelam sedang sweeping di bawah laut untuk mengumpulkan sampah

Tidak ada yang menandingi keindahan bawah laut Indonesia. Setuju nggak, Urbaners? Namun salah satu objek wisata utama tersebut juga mengundang efek negatif, yakni sampah. Tidak hanya di tepi pantai, tetapi juga dasar laut. Melihat kondisi tersebut, para divers di Indonesia tidak tinggal diam. Seperti Divers Clean Action yang kerap sweeping kebersihan bawah laut Indonesia. Inilah salah satu yang digali lebih dalam di MLDSPOT TV Season 5 Episode 13. Dengan tema "Beyond Diving". Lo akan menemukan banyak fakta dibalik olahraga selam tersebut. Ssst.. ada juga ulasan tentang mermaid cantik yang menekuni dunia freediving, lho!

 

Divers Clean Action: Solusi Para Penyelam Akan Sampah Laut

Divers Clean Action: Solusi Para Penyelam Akan Sampah Laut

Sampah merupakan salah satu masalah utama di Indonesia. Nggak hanya di darat, tetapi juga dasar laut. Menanggapi hal ini, para divers tidak mau berdiam diri. Seperti aksi nyata Divers Clean Action, sebuah LSM dan komunitas anak muda yang berfokus pada masalah sampah laut. Kepedulian mereka terhadap laut membuat diving nggak terbatas pada kegiatan hiburan dan olahraga saja.

Secara aktif, mereka mengajak warga lokal pesisir beserta masyarakat umum untuk memerangi sampah lautan. Kegiatan pembersihan rutin yang dilakukan juga tidak hanya satu tempat, Urbaners, Divers Clean Action juga menyeleksi 70 volunteers per tahunnya dengan memberikan dana untuk mengembangkan program pembersihan laut di daerah masing-masing. Organisasi satu ini juga rajin 'bersuara' diberbagai seminar, workshop & konferensi seperti Youth Marine Debris Summit (IYMDS) 2017, YSEALI Marine Debris Expedition 2018, dan Our Ocean Youth Leadership Summit 2018 untuk menyampaikan visi misi mereka ke masyarakat luas.

 

Nikita Fima: Freediving Mengajarkan untuk Melepaskan Yang Tidak Perlu

Nikita Fima menggunakan t-shirt merah mertuliskan "Freediving Society"

Mermaid doesn't exist! Sepertinya kalimat sudah tidak valid lagi. Karena Nikita Fima seorang freediver wanita Indonesia ini memiliki keseharian menjadi mermaid atau freediver. Wanita cantik satu ini tidak menyangka akan menghabiskan hidupnya under the sea. Sebelum fokus di freediving, Nikita sebenarnya sudah sempat mencoba peruntungan di berbagai bidang lainnya, tetapi ia mengaku, dunia freedive membuat hidupnya lebih simpel dan menantang secara bersamaan. Nikita mengakui kalau bukan hanya kesehatannya saja, tapi cara pandang hidupnya juga ikut berubah karena pengajaran dan teknik pernapasan freediving. Nikita juga kerap mengikuti kompetisi seperti Indonesia Apnea Competition (IAC) dan Sabang International Freedive. Ajang IAC menjadi yang paling berkesan baginya, soalnya kenekatannya kala itu justru membuatnya menyabet gelar juara untuk 6 kategori. Dan sekarang, ia menekuni dunia tersebut dengan menjadi professional mermaid di Jakarta Aquarium, Neo Soho Mall dan juga membuka Jakarta Mermaid School yang merupakan sekolah mermaid berlisensi pertama di Indonesia.