• News
  • Payung Teduh Rancang Rencana Saat Terjebak Delay 7 Jam

Payung Teduh Rancang Rencana Saat Terjebak Delay 7 Jam

Wed, 21 August 2019

Urbaners, pernah nggak kalian terjebak di bandara karena delay? Biasanya, faktor cuaca atau kendala teknis yang jadi penyebab utamanya. Nah, pengalaman ini yang baru dirasakan para personil Payung Teduh. Untuk pertama kalinya, setelah 10 tahun bermusik, mereka harus berdiam diri selama 7 jam di bandara Pontianak, Kalimantan Barat.

Obrolan menarik ini berlangsung di sesi Meet & Greet bareng Payung Teduh dalam rangkaian acara Stage Bus Jazz Tour di Solo, 18 Agustus 2019 kemarin. Terselenggara di Platino Café, Alejandro Saksakame, Comi Aziz Kariko, Ivan Penwyn menyapa para peserta yang sudah berkumpul sejak pukul 12 siang.

“Wah, lumayan rame, ya. Terima kasih udah mau nungguin. Sebenarnya kita lagi kurang fit, baru aja kena delay 7 jam semalam,” terang Comi, pemain contra bass Payung Teduh waktu memulai sesi Meet & Greet. ”Tapi kehadiran kalian siang ini ngasih energi baru buat kita,” sambungnya.

 

Momen yang Justru Dibutuhkan Payung Teduh

Selepas makan bersama, Faisal, salah satu peserta dari Institut Agama Islam Negeri Surakarta melempar pertanyaan tentang delay yang baru mereka alami. Kali ini Ale, drummer Payung Teduh, yang mengambil jawabannya. Dari cerita Ale, sebenarnya para personil Payung Teduh dan segenap kru sudah stand by di bandara dari jam 6 sore. Tiba-tiba, terdengar pengumuman bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi mengalami kendala teknis dan harus menunggu pesawat baru. Sayangnya, mereka harus menunggu selama 7 jam.

Tapi, menurut Ale justru momen seperti ini yang sedang dibutuhkan Payung Teduh. Di tengah kesibukan manggung ke berbagai kota, waktu luang untuk ngobrol santai menjadi sangat langka. “Banyak orang yang merencanakan untuk terjebak bareng, tapi kami malah disediakan,” ujar Ale mengarah ke para peserta. “Positifnya selalu ada yang bisa disyukuri kok,” tambahnya.

Ivan, lead vokal dan gitaris Payung Teduh tak mau kalah. Dia angkat bicara tentang delay yang baru saja dialami, Urbaners. Menurutnya, delay penerbangan selama 7 jam itu menghasilkan banyak pembicaraan tentang masa depan Payung Teduh. Seperti yang kita ketahui, Payung Teduh baru saja berpisah dengan sang vokalis, Is, pada awal 2018 lalu. Sejak saat itu, separuh nyawa dari Payung Teduh seakan ikut menghilang. https://amkcloud.alphamerahkreasi.com/s/i3nIfNoO7rMyLyL

“Selama 7 jam itu akhirnya kita ngomongin materi baru. Kita ngobrol banyak seputar rencana-rencana Payung Teduh ke depannya. Ngomonin semua topik yang perlu diomongin. 7 jam itu jadi momen yang berharga,” cerita Ivan. “Untungnya, kemarin pas nunggu delay itu kita nggak ada jadwal main, coba bayangin gimana kalo ada?” ucap Ivan sambil tertawa.

 

Rencana Album ke-5 dan ‘Bangku Tetap’ Vokalis Payung Teduh

Suasana Meet & Greet bareng Payung Teduh di Stage Bus Jazz Tour 2019, Solo, semakin mencair. Para peserta sudah lebih aktif mengajak berbicara para personil Payung Teduh. Jika digambarkan, pembicaraan terjadi layaknya berhadapan dengan teman. Comi, Ale dan Ivan seakan mengesampingkan gelar musisi terkenal mereka, demi memberikan momen spesial bagi fans besar Payung Teduh di kota yang dijuluki “Spirit of Java” ini.

“Mas Comi, album baru gimana, nih?” tanya salah satu peserta, yang kemudian diketahui bernama Nafagis. Dengas lugas, Comi langsung menjawabnya, “Kami nggak mau janjiin dalam waktu dekat. Tapi yang pasti, sekarang Payung Teduh lagi ngumpulin materi-materi barunya.” Puas dengan jawaban tersebut, Nafagis langsung menyambar pertanyaan baru seputar status vokalis Payung Teduh saat ini.

Selepas kepergian Is, ‘bangku tetap’ vokalis di tubuh Payung Teduh memang masih simpang siur kejelasannya. Pada satu kesempatan, lo bisa melihat Ivan bernyanyi membawakan lagu-lagu syahdu Payung Teduh seorang diri. Tapi di panggung selanjutnya, Ivan bisa tiba-tiba hadir ditemani sang manager, Marsha Ditia. Keterangan ini yang akhirnya yang diperjelas lewat jawaban Comi.

“Jadi, Ivan itu tetap lead vokal di Payung Teduh. Marsha sebagai manager, dan kadang-kadang Mba Citra, bantu sebagai featuring pas nyanyi. Karena Payung Teduh itu kan terbentuk dari komunitas, ya. Kami punya banyak pasokan musisi. Jadi kami sesuaikan dengan kebutuhan lagu, yang penting tetap bisa seneng-seneng bareng fans Payung Teduh,” kata Comi.

Setelah berlangsung kurang lebih selama 3 jam, sesi Meet & Greet bareng Payung Teduh akhirnya ditutup dengan foto bersama. Siang itu, penantian panjang penggemar setia mereka di Solo terbayar puas, Urbaners. Sebelum berpisah, Payung Teduh mengajak mereka untuk datang ke The Park Mall, tempat terselenggaranya Stage Bus Jazz Tour 2019. “Nanti malam jangan datang sendirian, ya. Kita seru-seruan bareng!” tutup Comi.

 

Hyperlink: Artikel Ahmad Abdul

Melihat Lebih Luas Dunia Menyelam yang Tidak Hanya Itu-itu Saja

Wednesday, February 12, 2020 - 13:44
Dua penyelam sedang sweeping di bawah laut untuk mengumpulkan sampah

Tidak ada yang menandingi keindahan bawah laut Indonesia. Setuju nggak, Urbaners? Namun salah satu objek wisata utama tersebut juga mengundang efek negatif, yakni sampah. Tidak hanya di tepi pantai, tetapi juga dasar laut. Melihat kondisi tersebut, para divers di Indonesia tidak tinggal diam. Seperti Divers Clean Action yang kerap sweeping kebersihan bawah laut Indonesia. Inilah salah satu yang digali lebih dalam di MLDSPOT TV Season 5 Episode 13. Dengan tema "Beyond Diving". Lo akan menemukan banyak fakta dibalik olahraga selam tersebut. Ssst.. ada juga ulasan tentang mermaid cantik yang menekuni dunia freediving, lho!

 

Divers Clean Action: Solusi Para Penyelam Akan Sampah Laut

Divers Clean Action: Solusi Para Penyelam Akan Sampah Laut

Sampah merupakan salah satu masalah utama di Indonesia. Nggak hanya di darat, tetapi juga dasar laut. Menanggapi hal ini, para divers tidak mau berdiam diri. Seperti aksi nyata Divers Clean Action, sebuah LSM dan komunitas anak muda yang berfokus pada masalah sampah laut. Kepedulian mereka terhadap laut membuat diving nggak terbatas pada kegiatan hiburan dan olahraga saja.

Secara aktif, mereka mengajak warga lokal pesisir beserta masyarakat umum untuk memerangi sampah lautan. Kegiatan pembersihan rutin yang dilakukan juga tidak hanya satu tempat, Urbaners, Divers Clean Action juga menyeleksi 70 volunteers per tahunnya dengan memberikan dana untuk mengembangkan program pembersihan laut di daerah masing-masing. Organisasi satu ini juga rajin 'bersuara' diberbagai seminar, workshop & konferensi seperti Youth Marine Debris Summit (IYMDS) 2017, YSEALI Marine Debris Expedition 2018, dan Our Ocean Youth Leadership Summit 2018 untuk menyampaikan visi misi mereka ke masyarakat luas.

 

Nikita Fima: Freediving Mengajarkan untuk Melepaskan Yang Tidak Perlu

Nikita Fima menggunakan t-shirt merah mertuliskan "Freediving Society"

Mermaid doesn't exist! Sepertinya kalimat sudah tidak valid lagi. Karena Nikita Fima seorang freediver wanita Indonesia ini memiliki keseharian menjadi mermaid atau freediver. Wanita cantik satu ini tidak menyangka akan menghabiskan hidupnya under the sea. Sebelum fokus di freediving, Nikita sebenarnya sudah sempat mencoba peruntungan di berbagai bidang lainnya, tetapi ia mengaku, dunia freedive membuat hidupnya lebih simpel dan menantang secara bersamaan. Nikita mengakui kalau bukan hanya kesehatannya saja, tapi cara pandang hidupnya juga ikut berubah karena pengajaran dan teknik pernapasan freediving. Nikita juga kerap mengikuti kompetisi seperti Indonesia Apnea Competition (IAC) dan Sabang International Freedive. Ajang IAC menjadi yang paling berkesan baginya, soalnya kenekatannya kala itu justru membuatnya menyabet gelar juara untuk 6 kategori. Dan sekarang, ia menekuni dunia tersebut dengan menjadi professional mermaid di Jakarta Aquarium, Neo Soho Mall dan juga membuka Jakarta Mermaid School yang merupakan sekolah mermaid berlisensi pertama di Indonesia.