• News
  • Wawancara dengan Alvin Yunata: Irama Nusantara sebagai Dokumentasi Musik Antik Indonesia

Wawancara dengan Alvin Yunata: Irama Nusantara sebagai Dokumentasi Musik Antik Indonesia

Tue, 31 October 2017

Bila kalian tahu orang ini sebagai jurnalis, tulisan-tulisannya sangat informatif dan menarik, terutama untuk ranah musik. Bila kalian mengenalinya sebagai anak band, namanya enggak terlalu asing, Ia pernah menghiasi formasi band rock-ceria asal Bandung, Harapan Jaya dan masih (lumayan) aktif bergitar untuk unit rock and roll ugal-ugalan, Teenage Death Star. Bila kalian pernah dengar Irama Nusantara, yaitu sebuah situs web menyediakan pengarsipan musik lawas Indonesia, Alvin Yunata juga hadir sebagai salah satu inisiatornya.

Irama Nusantara didirikan oleh Alvin Yunata bersama David Tarigan, Christoforus Priyonugroho, Toma Avianda, Dian Wulandari, dan Norman Illyas pada tahun 2013. Dengan target pengarsipan musik lokal dari tahun 1910-an sampai 1980-an, ribuan karya musik lampau Indonesia sudah dan akan diberi wadah yang ideal melalui Irama Nusantara.

Ditambah dengan datangnya dukungan khusus dari pemerintah melalui Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) sejak tahun lalu, Alvin bersama enam orang lain dan beberapa orang untuk tim tambahan siap melaksanakan cita-cita yang luhur bagi musik Indonesia.

 

 

1. Bisa dijelaskan awal mula terbentuknya Irama Nusantara?

Awalnya itu kan kentang Radio yah, anak-anak nongkrong di Kentang Radio, udah tapi gitu doang, engga jadi apa-apa. Yaudah akhirnya pas tahun 2013, ketika gua keluar kerja, “udah yuk, kita seriusin”. Udah tuh, kita bikin yayasannya, kita bikin skemanya mau gimana dari situ kita mulai gerak. Tapi kalo ditarik lebih ke belakang lagi, ada Indonesia Jumawa namanya, itu anak-anak ITB, dulu kita masih kuliah, itu tahun 1998, nah, pas pindah ke Jakarta jadi Kentang Radio, terus baru jadi Irama Nusantara.

 

2. Kalo dari Alvin pribadi, personal taste lo memang gemar terhadap musik lawas ya?

Oh iya. Awalnya biasa lah anak muda ya, huh, ngapain dengerin dangdut, melayu, enggak enak. Tapi lama-lama ketika udah soul funk, psychedelic, progresif rock, lama-lama, lho Vid [David Tarigan], ada yang gini juga ya? Panbers ada yang kayak gini juga? Lho ini pake sitar? Wah udah tuh makin ngulik ke belakang.

 

Lalu dari situ, lo sampaikan melalui Irama Nusantara ini, ya?

Iya, dan sebenernya harapan Irama Nusantara ini dibuat, nostalgia mah bukan sepenuhnya tujuannya ya, sekarang gini dari sekian banyaknya rilisan yang pernah rilis di Indonesia itu dan dulu hanya ada RRI (Radio Republik Indonesia), berapa persen sih yang diputer di RRI dengan kurasi MD (Music Director)-nya RRI? Ternyata masih banyak yang engga terekspos dan udah terkubur begitu saja. Makanya kalo gua sih sama anak-anak bilangnya, ini bukan nostalgia nih, ini lagu baru dari masa lalu. Dan itu masih banyak sebenernya dan bule-bule engga tahu.

Nah, sebetulnya itu juga sih trigger kita [membentuk Irama Nusantara]. Karena kita udah mulai ngerasa, kalau beli-beli ini saingannya sama bule nih. Ini kolektor bule mulai keterlaluan nih. Kasusnya sama kayak di Jamaika katanya, jadi gua punya temen di sana. Dia kolektor [plat] dancehall, dub Jamaika, dia tinggal di Jamaika kira-kira tahun 70-akhir-80 awal. Dia bilang, “ini orang Indonesia, kalo lo diemin aja, bakal kayak Jamaika nasibnya”. Akhirnya harta-harta karun musik-musiknya jatohnya ke tangan kolektor luar negerinya. 

Tapi somehow memang, kayak dari pengalaman dulu ada Alan Bishop bawain Koes Barat inget engga? Dia ngerilis ulang gitu kan. nah itu dia, larinya ke copyright (hak cipta) lagi. jadi memang orang tua-orang tua zaman dulu itu punya mimpi buruk namanya copyright. Jadi ketika ada orang Indonesia dateng ke dia, ‘’lo pasti mau take advantages dari band gua ya?”, ada aja asumsi kayak gitu pasti. Tapi kalo ada bule dateng ke dia, ‘’wah boleh-boleh, silakan dirilis’. Karena mimpi mereka juga albumnya dirilis di luar negeri. Kasihan sih sebenernya.

 

Ada contoh lain mengenai copyright itu?

Contohnya waktu itu terjadi sama band Rasela, Om Najib dari Rasela nanya, ‘’Iya nih, Om kaget nih, Kanye West Bayar saya Rp 60 juta, buat singlenya yang baru”. “Wah, this is big money, ya’’, wah iya memang, tapi kan masalah copyright dia engga ngerti, untung Kanye West baik ngasih segitu, hahaha, untuk satu single lho dan hip-hop kan ya buat sampling. Beliau [Najib] kaget ya bisa segitu ya. Makanya memang tugas Irama Nusantara berikutnya adalah membenahi infrastruktur copyright ini.

 

Irama Nusantara sudah mempunyai tim untuk bagian copyright?

Sebetulnya kami udah ketemu sama LMKN (Lembaga Manajemen Kolektif Nasional), kami sih udah ngomong, tapi memang si Irama Nusantara ini so far wadah arsip aja, cuman buat educational purpose, jadi ada disclaimer aja mereka bilang, emang bukan ranah komersil. Tapi memang kalo udah ngomongin copyright, udah beda nih, kita harus ada project yang lebih fokus ke situ. Harus segera dimulai sih, kami sih merencanakan tahun depan, paling engga sudah ada rancangannya.

 

Peran pemerintah, melalui Bekraf?

Bekraf itu ketemunya tahun lalu, pastinya membantu ya, misalnya ketika kami datang ke RRI sama Bekraf, ya kami lebih “disambut”, haha. Akhirnya juga sekarang Irama Nusantara kan keliling RRI, ini kami baru beres dari Jogja nih.

 

Kerjasama Bekraf dengan Irama Nusantara ini menelurkan “Gerakan 78 RPM”? Bisa dijelaskan mengenai program ini?

Jadi ceritanya kami tahu tuh dari beberapa tahun lalu kalo ada seorang kolektor dari Bandung, dia itu dosen seni rupa ITB, namanya Pak Hariyadi, dia itu spesialis koleksi 78 RPM, bukan vinyl ya, shellac, kami baru tahu ternyata sudah meninggal. Akhirnya kami ke rumahnya sama Bekraf, ternyata koleksinya masih ada, dan kebetulan ada first project-nya RRI Bandung, kami satuin aja sama “Gerakan 78 RPM” ini. akhirnya kami ke ahli waris, ngomong, “boleh engga kami kerja di rumah ini, semua alat kami pindahin ke sini, dan kami jamin barang-barang [miliknya] engga keluar kemana-mana, kami bersihin lagi nanti”. Pada saat itu kami langsung digitalin di rumahnya almarhum Pak Haryadi. Sekitar sebulan, jadi kami nempatin tim untuk nge-kost di samping rumahnya. Itu hasilnya udah mulai di-upload, dan itu prediksi kami rilisan sekitaran tahun 1915. Dan di rumah Pak Haryadi itu ada satu pintu yang pas gua buka, wah itu literatur banyak banget, sampai sakit kepala gitu gua ngeliatnya. Majalah-majalah lama terbundel dengan baik, tapi memang mungkin majalah Bandung doang yah, tapi di situ ada sejarah musik Bandung kan. Oh, iya kami juga udah berhasil mengarsipkan Aktuil yah, majalah musik, dari edisi pertama sampe edisi terakhir dan udah ke-scan ama kami semua.

 

Biasanya dalam pengarsipan, Irama Nusantara mendapat sumber rilisan musiknya dari mana saja?

Awalnya sebetulnya kan kolektor ke kolektor ya, circle kolektor aja kan. Emang sebenernya sih kita jauh lebih banyak dapetin yang kondisi bagus di kolektor. Yang sampai saat ini kita kumpulin ya, dari 2500 rilisan, 80% sih dari kolektor dengan kondisi yang sangat bagus. Kalo di RRI, jujur, [era] sixties udah lari ke kolektor semua, sisa yang ada di diskotik RRI itu, sekitar 75 sampai 80, seleksi-seleksinya diskoria lah.

Tapi, bagusnya RRI adalah, kan ini Irama Nusantara kayak nyatuin puzzle ya, jarang banget ada album yang ditulis tahunnya ya. Nah, di RRI itu bisa ke-trace. RRI itu suka nulis, plat ini masuk tanggal sekian, tahun sekian. Jadi untuk maping tahun, RRI membantu sih.

Oh, terus ada tuh, kalo orang-orang zaman dulu misalnya mau ngasih ke ceweknya, ditulis tuh, “hadiah buat Diana. 1970”. Jadi kita bisa dari situ juga, hahaha.

 

Mutiara-mutiara terpendam di lautan musik Indonesia pasti banyak ya? Karya-karya lokal impresif yang lo dapat selama pengarsipan?

Kami nemuin permainan synthetizer sinting, elemen-elemen psychedelic ada di lagu-lagu daerah Sunda, Minang. Bingung engga sih? Kalo lu dengerin, wah, beyond banget lah. Keren-keren dan sering bikin kaget sih. Kalo lo pernah nemu ada band namanya Gumarang, itu dari Padang, Sumatra Barat, itu era sixties, wah psychedelic berat, tapi dengan sentuhan Minahasa, keren banget. Kalo Sunda itu ada nama bandnya Nada Kencana, wah trippy banget, itu Sunda tapi kayak musik alien, haha, kayak funk-funk Nigeria tapi ini Sunda. Dan yang keren lagi adalah, keterbatasan mereka zaman itu, yang hanya punya apa lah misalnya alat musiknya, tapi bisa bikin kayak gitu. [efek] echo-echo gitu, gimana coba tahun segitu, haha. Tapi ya jadi keren sih.

Melihat Lebih Luas Dunia Menyelam yang Tidak Hanya Itu-itu Saja

Wednesday, February 12, 2020 - 13:44
Dua penyelam sedang sweeping di bawah laut untuk mengumpulkan sampah

Tidak ada yang menandingi keindahan bawah laut Indonesia. Setuju nggak, Urbaners? Namun salah satu objek wisata utama tersebut juga mengundang efek negatif, yakni sampah. Tidak hanya di tepi pantai, tetapi juga dasar laut. Melihat kondisi tersebut, para divers di Indonesia tidak tinggal diam. Seperti Divers Clean Action yang kerap sweeping kebersihan bawah laut Indonesia. Inilah salah satu yang digali lebih dalam di MLDSPOT TV Season 5 Episode 13. Dengan tema "Beyond Diving". Lo akan menemukan banyak fakta dibalik olahraga selam tersebut. Ssst.. ada juga ulasan tentang mermaid cantik yang menekuni dunia freediving, lho!

 

Divers Clean Action: Solusi Para Penyelam Akan Sampah Laut

Divers Clean Action: Solusi Para Penyelam Akan Sampah Laut

Sampah merupakan salah satu masalah utama di Indonesia. Nggak hanya di darat, tetapi juga dasar laut. Menanggapi hal ini, para divers tidak mau berdiam diri. Seperti aksi nyata Divers Clean Action, sebuah LSM dan komunitas anak muda yang berfokus pada masalah sampah laut. Kepedulian mereka terhadap laut membuat diving nggak terbatas pada kegiatan hiburan dan olahraga saja.

Secara aktif, mereka mengajak warga lokal pesisir beserta masyarakat umum untuk memerangi sampah lautan. Kegiatan pembersihan rutin yang dilakukan juga tidak hanya satu tempat, Urbaners, Divers Clean Action juga menyeleksi 70 volunteers per tahunnya dengan memberikan dana untuk mengembangkan program pembersihan laut di daerah masing-masing. Organisasi satu ini juga rajin 'bersuara' diberbagai seminar, workshop & konferensi seperti Youth Marine Debris Summit (IYMDS) 2017, YSEALI Marine Debris Expedition 2018, dan Our Ocean Youth Leadership Summit 2018 untuk menyampaikan visi misi mereka ke masyarakat luas.

 

Nikita Fima: Freediving Mengajarkan untuk Melepaskan Yang Tidak Perlu

Nikita Fima menggunakan t-shirt merah mertuliskan "Freediving Society"

Mermaid doesn't exist! Sepertinya kalimat sudah tidak valid lagi. Karena Nikita Fima seorang freediver wanita Indonesia ini memiliki keseharian menjadi mermaid atau freediver. Wanita cantik satu ini tidak menyangka akan menghabiskan hidupnya under the sea. Sebelum fokus di freediving, Nikita sebenarnya sudah sempat mencoba peruntungan di berbagai bidang lainnya, tetapi ia mengaku, dunia freedive membuat hidupnya lebih simpel dan menantang secara bersamaan. Nikita mengakui kalau bukan hanya kesehatannya saja, tapi cara pandang hidupnya juga ikut berubah karena pengajaran dan teknik pernapasan freediving. Nikita juga kerap mengikuti kompetisi seperti Indonesia Apnea Competition (IAC) dan Sabang International Freedive. Ajang IAC menjadi yang paling berkesan baginya, soalnya kenekatannya kala itu justru membuatnya menyabet gelar juara untuk 6 kategori. Dan sekarang, ia menekuni dunia tersebut dengan menjadi professional mermaid di Jakarta Aquarium, Neo Soho Mall dan juga membuka Jakarta Mermaid School yang merupakan sekolah mermaid berlisensi pertama di Indonesia.