4 Buku Travel Terbaik Tahun 2016

Thu, 26 May 2016

Baru-baru ini, The Royal Society of Literature merilis daftar calon penerima Ondaatje Prize, sebuah penghargaan dengan hadiah sebesar 10.000 poundsterling untuk karya fiksi, non-fiksi, atau puisi yang mengusung tema travel atau tempat. Bagi yang mengaku sebagai seorang traveller sejati, lo wajib membaca beberapa bukunya berikut ini.

 

The Shepherd’s Life: A Tale of the Lake District (James Rebanks)

Buku ini menceritakan tentang kisah penulisnya, James Rebanks, sebagai seorang anak penggembala yang tinggal di Lake District. Awalnya, kisah dari The Shepherd’s Life: A Tale of the Lake District mulai ditulis sebagai postingan blog, dan penuturannya nggak urut sesuai dengan fase kehidupan Rebanks. Melalui buku ini, Rebanks bakal mengajak lo untuk berternak domba, mulai dari menggembalanya, memberi makan, hingga mencukur buku-bulunya.

 

Nothing is True and Everything is Possible: Adventures in Modern Russia (Peter Pomerantsev)

Peter Pomerantsev adalah seorang produser asal Inggris. Ia dipercaya untuk menggarap salah satu program televisi di Rusia. Sejak saat itulah, Pomerantsev jadi mengerti tentang hal-hal di balik layar pemerintahan Rusia. Melalui buku inilah Pomerantsev menceritakan segala pengalamannya tersebut. Ia pernah bertemu dengan para ahli propaganda hingga mengunjungi mafia Siberia. Seiring dengan pemerintahan Presiden Putin yang semakin agresif, Pomerantsev jadi ikut terlarut di dalamnya.

 

Weatherland: Writers and Artists under English Skies (Alexandra Harris)

Membaca Weatherland: Writers and Artists under English Skies bakal membawa lo ke Inggris hanya untuk memperhatikan perubahan iklim di sana selama beberapa abad, Perubahan tersebut terjadi begitu cepat, tapi Alexandra Harris berhasil menuliskannya secara intim dan personal, terutama detail dari berbagai deskripsi yang ia jelaskan. Harris juga menyertakan beberapa tokoh terkenal dalam bukunya ini, seperti Jonathan Swift, Percy Shelley, dan John Ruskin.

 

This Divided Island: Stories from the Sri Lankan War (Samanth Subramanian)

Pada tahun 2009, ketua dari organisasi Tamil Tigers meninggal karena dibunuh, menimbulkan terjadinya perang saudara di Sri Lanka. Perang tersebut membawa dampak yang cukup besar pada berbagai daerah, mulai dari Colombo, Batticola, hingga Trincomalee. Melalui buku ini, Samanth Subramanian mencoba untuk menggambarkan kondisi “jiwa” dari Sri Lanka, bagaimana negara tersebut bertahan hingga kini. Ia banyak berbicara dengan penduduk di sana untuk menemukan jawabannya.

 

Pengumuman pemenang untuk penghargaan Ondaatje Prize ini disampaikan pada tanggal 23 Mei 2016. Buruan beli buku-buku tersebut, Urbaners. Cocok banget untuk menemani lo saat traveling nanti, apalagi kalau lo mengunjungi tempat yang nggak memperbolehkan lo untuk mengakses gadget. Anti mati gaya, deh.

 

 

Sources: telegraph.co.uk, goodreads.com

Pengin Jalan ke Museum? Coba Fitur Virtual Traveling Ini Bro!

Mon, 14 September 2020
traveling ke museum virtual

Perkembangan teknologi bisa jadi inspirasi tersendiri buat lo semua yang sudah rindu banget buat traveling tapi belum bisa dilakukan karena kondisi seperti ini yang tidak memungkinkan. Terlebih buat lo yang suka jalan-jalan ke museum, sekarang cara baru buat melakukannya, bro!

Kalau beberapa waktu lalu kita sudah bahas bagaimana kemungkinan adanya menikmati konser musik dengan konsep virtual reality – kali ini, dengan konsep yang hampir sama, bisa diterapkan juga buat lo yang mau jalan-jalan ke museum.

Terlebih buat di berbagai negara lainnya, yang mengakali pandemi ini dengan memanfaatkan perkembangan teknologi yang sudah semakin maju ini. Banyak museum di luar sana yang sudah memanfaatkan hal tersebut ditandai dengan terbukanya pintu museum secara virtual.

Lo bisa menikmati karya-karya seniman yang disimpan rapi di dalam museum hanya dari layer ponsel smartphone saja atau computer di mana lo berada. #MauLagiDimanapun lo tetap bisa jalan-jalan seru ke museum-museum.

Nah bagaimana di Indonesia sendiri? Perlu lo ketahui nih kalau setidaknya ada 4 museum atau galeri karya seni yang bisa lo datangi secara virtual. Penasaran di mana saja? Daripada menebak-nebak sendiri, sila simak bahasan kali ini sampai habis ya!

 

Virtual Traveling ke Biennale Jogja

virtual traveling museum biennale jogja 2020

Credit Image: goodnewsfromindonesia.id

Sudah menjadi wadah buat seniman lokal ataupun internasional buat berkarya, belajar dan berdiskusi terkait karya di bidang seni visual, dari tahun 1988, Biennale Jogja jadi tempat yang seru buat didatangi.

Bekerja sama dengan Google Arts & Culture, pagelaran seni yang prestis dari Biennale Jogja masih bisa lo nikmati secara virtual. Lo bisa langsung gas ke halaman utama websitenya buat menikmati hasil karya seni visualnya keren-keren.

 

Ciputra Artpreneur

Kurang lebih konsep dasarnya sama, bekerja sama dengan Google Arts & Culture, salah satu kolektor karya seni, Dr. Ir. Ciputra mempunyai Ciputra Artpreneur yang berisikan banyak sekali karya seni visual luar biasa indahnya. Lo bisa menikmati karya-karya luar biasa tersebut secara virtual.

 

‘Trajectory’: A Decade of Lawangwangi

Berlokasi di Bandung, melalui website ArtSociates lo bisa menikmati ‘Trajectory’ yang berisikan 10 karya dari 10 seniman lintas generasi yang karyanya benar-benar luar biasa. Di pameran ini, lo bisa menikmatinya dengan cara virtual.

 

Pameran #KilasBalik Selasar Sunaryo

Masih dari Bandung lagi, Selasar Sunaryo juga ikut memboyong karya-karya yang ada di dalamnya untuk bisa dinikmati secara virtual. Melalui pameran #KilasBalik, lo bisa menikmati kreasi-kreasi yang sebelumnya sudah pernah dipamerkan juga.

Tidak hanya kreasi-kreasi yang sudah ada saja, lo bisa melihat juga berbagai koleksi buku, katalog dan berbagai karya seni lainnya di dalam eksibisi tersebut. Secara virtual, karya-karya di sana bisa lo nikmati dari layar smartphone lo saja.

Wah bagaimana nih bro? Dari berbagai pameran dan museum yang menyediakan layanan kunjungan virtual, yang mana nih yang sudah lo rencanakan buat di datangi?

 

Feature Image – secretldn.com