Trending

Instaclass Branding 101: Jangan Menjadi Brand yang Easy Come Easy Go

"Banyak banget brand lokal yang muncul-tutup, muncul tutup. Ini dikarenakan brand lokal di Indonesia banyak yang tidak direncanakan dengan baik," itu lah kata-kata Hadi Ismanto yang cukup menusuk para peserta Instaclass Branding 101 pada 8 Desember 2018 kemarin di Bandung. Tepatnya di restoran Delapan Padi, berkolaborasi dengan Neighborlist, MLDSPOT mengangkat tema From Local To Global dengan speaker Hadi Ismanto founder dari Manual Jakarta, bersama para entrepreneur lain yakni Ipam dari Evil, Ardila Ramadhan dari Dominate dan Aldeo Plato dari Life Behind Bars (LBB) dan moderator Gregorius Andre mengupas tuntas mulai dari brand mapping sampai suka duka mereka membuat produknya hingga kini menjadi go internasional.

Terdapat dua sesi dalam Instaclass satu ini, nah, pada sesi pertama Hadi Ismanto yang juga membedah bagaimana lo memulai membuat suatu brand dengan benar. Tidak hanya soal penjualan, tetapi juga tentang identitas brand itu sendiri lebih long-lasting.

Sosok brand lo akan menjadi siapa?

Sosok brand lo akan menjadi siapa?

Memiliki suatu brand, tidak hanya soal angka penjualan saja, Urbaners. Tapi bagaimana lo membentuk suatu sosok yang akan melekat dengan produk brand tersebut. Hadi Ismanto pun kemarin bertanya pada para peserta, "Jika brand lo menjadi manusia, akan menjadi seperti apa?,". Pertanyaan ini terdengar mudah, tetapi memiliki jawaban yang rumit. Nggak cuma persona dari segi fashion-nya, tetapi juga lifestyle dari sosok brand lo sendiri. Mulai dari suka nongkrong dimana, hobby-nya apa, sampai warna musik yang disukai. Detail-detail ini harus dipikirkan, agar apa yang lo tuangkan pada brand tersebut tersampaikan oleh para customer. Dan mereka bisa merasakan relasi antara produk lo dan dirinya sendiri.

Hal ini juga berhubungan dengan tren & target market. Mulai dari umur, kegemaran sampai status sosial. Mungkin strategi ini tidak langsung terlihat dalam angka penjualan, tapi Hadi meyakinkan, brand yang long lasting adalah brand yang memiliki konsep yang cukup matang, tau tujuannya, dan tau apa yang mau ia buat. Karena saat lo menciptakan suatu brand, bukan hanya create stuff but aspiration.

Apa yang didapat customer dengan brand lo?

Apa yang didapat customer dengan brand lo?

Selain identitas dari brand, ada juga yang nggak kalah penting, yakni apa yang customer dapatkan pada brand lo itu sendiri. Hadi Ismanto menjelaskan terdapat 3 jenis value yakni Practical Value, Emotional Value dan juga Social Value. Practical Value merupakan sesuatu yang lebih bersifat fungsional terhadap produk itu sendiri. Emotional Value seperti apakah brand tersebut membuat gejolak emosi customer meningkat, mulai dari antusiasme, inspirasonal sampai emosi negatif. Terakhir yang sering terlupakan tetapi menurut Hadi padahal yang paling penting khususnya di market Indonesia adalah Social Value, yakni bagaimana tanggapan orang lain melihat lo menggunakakan brand tersebut, opini lingkungan sekitar dan sebagainya.

Brand surgery milik peserta

Setelah menjelaskan secara detail tentang brand mapping, Hadi Ismanto juga menantang para peserta untuk menunjukkan akun Instagram brand yang dimiliki untuk dijadikan study case teori-teorinya tersebut. @Messafinegoods milik salah satu peserta dipilih untuk dijadikan contoh, semua peserta saat itu diwajibkan untuk meneliti secara singkat tentang brand tersebut, dan memberikan opini tentang @Messafinegoods berdasarkan feed media sosialnya. Dan jika dilihat dari feed-nya, bran d ini masih banyak Practical Value-nya. Yang perlu ditingkatkan adalah Emotional & Social Value, dan ini bisa dipraktekan melalui visual yang mendekati brand tersebut, atau kolaborasi dengan public figure yang cukup mendekati persona brand tersebut.

Antusiasme para peserta

Antusiasme para peserta

MLDSPOT menggelar Instaclass tentang Branding 101 ini kota yang tepat. Bandung yang dijuluki kota kreatif ini memang banyak melahirkan banyak brand lokal dari segala bidang dan kelas. Antusiasme pada acara ini juga sangat terasa. Sejak pagi bahkan sebelum acara dimulai para peserta sudah datang di Delapan Padi, seperti tidak mau ketinggalan sedikitpun acara ini. Benar saja, saat sesi pertama berlangsung, meskipun belum dibuka sesi tanya jawab, banyak banget peserta yang langsung bertanya pada nara sumber yakni Hadi Ismanto tentang topik yang dijelaskannya. Pertanyaanya pun cukup menarik seperti kapan sebaiknya membuat brand positioning, apakah harus di awal, atau bisa sambil memulainya usaha tersebut. Dan ada juga yang bertanya tentang, how you define the trend? Hadi menjawab funfact tentang trend adalah curva yang selalu balik, seperti trend minimalis yang lagi naik, tapi pasti ada saatnya trend maksimalis yang naik. So, trend tidak ditemukan tetapi bisa di prediksi.

Nggak hanya sesi tanya jawab, Hadi pun membuat challenge untuk para peserta untuk membuat brand mapping sendiri. Dengan waktu yang cukup singkat, mereka diharuskan memberikan konsep yang cukup detail, Urbaners. Kira-kira bagaimana keseruanya ya?