Trending

Kepakan Sayap Sufjan Stevens

Nama Sufjan Stevens mulai melejit di tahun 2005, ketika itu albumnya yang berjudul Illonois dengan lagu Chicago menjadi salah satu top chart di tangga lagu Billboard. Setelah album Illonois, Stevens malah seakan menghilang dari peredaran. Selama 5 tahun menyendiri dengan proyek-proyek pribadi dan kolaborasi, Stevens baru mengeluarkan album lagi di tahun 2010 dengan judul The Age of Adz dan terakhir tahun 2015 kemarin album Carrie & Lowell menjadi album pamungkas Stevens.

 

Sempat berhenti jadi musikus dan jadi novelis

Ketika remaja, Stevens pernah menjadi anggota band bernama Marzuki. Di band rock tersebut Stevens masih hanya sekedar iseng-iseng dalam bermain musik, tetapi dia harus pindah ke New York untuk melanjutkan sekolahnya. Stevens pun masuk di New School for Social Research, di sana ia belajar banyak tentang penulisan. Dan bahkan Stevens pernah fokus untuk membuat novel.

Tetapi ternyata jalan hidupnya ini tertuju pada musik. Ketika sedang menulis novel, Stevens dikala bosan dirinya malah menulis lagu. Skill menulisnya ini malah membuat Stevens semakin gampang menulis lagu. Ciri khas dari Stevens adalah lagunya yang sangat instrumentalis, berirama akustik dengan gitar riuh rendah dan harmonika.

 

Album terakhir lebih folk

Jika lo mendengar lagu seperti Should Have Known Better atau The Only Thing, lo akan mendengar bagaimana petikan gitar Stevens yang sangat mendayu-dayu. Dan ternyata semua lagu di album terbaru Carrie & Lowell (diambil dari nama ibu dan ayah tirinya) tidak ada instrumen aneh-aneh, bahkan nggak ada drum. Stevens mengatakan ini adalah album paling easy listening yang pernah dibuatnya. Beberapa orang mengatakan album ini lebih santai karena untuk menghormati kematian ibunya pada tahun 2012 kemarin.

Album tersebut juga mendapatkan sambutan yang cukup apik oleh para fans-nya. Dan disebut album keluaran tahun 2015 adalah album paling sentimental yang pernah ditulis oleh Sufjan Stevens.

 

Source: pitchfork.com