Trending

Mengapa The Battle of Five Armies jadi akhir Trilogi yang buruk

Urbaners, setiap Peter Jackson kembali ke Middle-Earth kita selalu mengharapkan sesuatu yang istimewa. Semua film Lord of The Rings mendapatkan nominasi untuk Best Picture, sedangkan ketiga film The Hobbit belum mampu untuk mendapatkannya, well, they’ve had their moments.

Berikut adalah alasan kenapa The Hobbit: The Battle of Five Armies adalah karya Peter Jackson yang “terburuk”

Return of The King VS The Battle of Five Armies
Pada saat Peter Jackson menyimpulkan suatu trilogi, dia membuat mahakarya melalui Lord of The Rings: The Return of the king, bisa dibilang film ini adalah film terbaik sepanjang masa. Bisa jadi menjadi film-yang-setiap-kita-tonton-dan-setiap-kita-tonton-kita-merasa-emosional-terhadap-film-tersebut.

Karena selain mempunya fantastic cap dalam sebuah cerita secara keseluruhan tapi juga it works perfectly as its own story, ada awal, tengah cerita, dan akhir.

Fakta lo bisa melihat karakter yang berbeda antara contoh Aragorn dan Frodo, memperkuat alur cerita, “naik turun” karakter-karakter tersebut memberikan bumbu lebih pada cerita ini. Dan bagaimana Return of The King bisa “berdiri kokoh” dihadapan dua sebelumnya, membuat film ini menjadi istimewa.

Bisa dikatakan dari semua diatas itu karena, The Hobbit: The Battle of Five Armies rasanya gagal sebagai penutup, film ini berdurasi 144 menit yang tidak berhenti dengan action. Penuh dengan excitement tapi rasanya emosi tidak bisa beresonansi dengan baik disini, seperti film yang harusnya dilakukan hanya berdurasi 30 menit tapi di “stretch” jadi 2 jam. Somehow film yang harusnya indah tapi malah menjadi “kosong”. Pasukan Elf memang selalu keren tapi ini bercerita tentang bagaimana Dwarves mau mengambil kembali “rumah” mereka bukan tentang Elf itu sendiri.

Dua Film pertama ada komponen penting dalam cerita ini
Jangan sampai salah langkah Urbaners, kalau lo belum nonton dua film pertama, sebaiknya lo jangan dulu nonton film ini, film ini secara harfiah melanjutkan ending terakhir film ke-2 menceritakan bagaimana Smaug akhirnya menyerang kota. Tidak ada prolog atau panduan untuk bisa membuat lo “keep up” dengan film ini.

Big, Jaw Dropping Moments menyangkal satu sama lain.
Lo pasti ingat momen-momen iconic dalam Return of The King, Eowyn membunuh The Witch King, The Rohan Storm Pellennor fields, terus Aragorn datang dengan tentara hantu yang harus membayar hutang ke Gondor? Itu benar-benar moment besar yang membuat merinding. Ya kalau The Battle of Armies basically berisi 2 jam dari momen-momen tersebut, jadi tidak spesial lagi yang membuat audiens jadi ga bisa “wow gila” lagi, instead hanya bisa. “hmm okay”.

Pengembangan Karakter

Dan belum rasanya kurangnya pengembangan karakter disini, berbeda dengan Return of The king yang mempunyai “naik-turun setiap karakternya yang luar biasa” dalam film ini hanya terlihat dari Thorin yang tetiba terkena “Dragon Sickness” rasa tamak karena harta yang mereka miliki.

Konklusi

Walaupun The Battle of Five Armies mempunyai ending yang baik, mungkin tidak adil rasanya untuk membandingkan The Return of The King dengan ini, After All, Jackson mustinya bisa mengadaptasi dari keseluruhan buku ini,  namun rasanya dia meninggalkan beberapa halaman. Namun tetap mutlak rasanya kepuasan tidak terwakilkan disini. Tapi disisi lain kita dapat merasakan kita bagian dari keistimewaan di film ini.