Trending

Slapdash 3.0: Apa Future Memories yang Lo Pilih?

"Traveling adalah investasi masa depan", itu lah yang di share Marischka Prudence pada Slapdash 3.0 kemarin. Yap, bener banget, acara yang bertujuan untuk membangkitkan semangat anak muda dalam berkarya ini hadir kembali dengan pembicara yang keren, tenant yang semua 100% lokal, dan tentunya live perfomance dari para musisi muda yang sedang naik daun. Talk show yang insightful non-stop dari siang sampai sore hari, membuat acara ini memang berbeda dari acara lainnya. Apalagi setiap pengunjung diharuskan menggunakan tag nama agar bisa kenal satu sama lain.

Acara untuk membangun relasi

Ada acara didalam acara. Itulah definisi Slapdash 3.0. Karena selain membagi informasi untuk anak-anak muda yang ingin berkarya, acara ini juga sebagai ajang membangun relasi. Terbukti dengan di setiap talk show akan dimulai ada games menarik untuk pengunjung, dan tentunya bermanfaat. Para pengunjung yang datang disuruh absen berhitung angka 1 dan 2, lalu dikumpulkan sesuai dengan angka dan diberikan topik simple seperti musik kesukaan atau makanan kesukaan. Setiap orang pun mengutarakan kesukaan pribadinya. Hal tersebut hanyalah pembuka, seterusnya mereka pun bercerita masing-masing tentang berbagai hal. Aktivitas ini bermanfaat untuk mendapatkan teman baru ataupun relasi baru, bahkan di Slapdash sebelumnya, ada pasangan yang bertemu karena event ini, lho!

Talk Show insightful dari para professional

Pada Slapdash 3.0 ini, banyak banget hal yang dibicirakan mulai dari fenomena fotografi "harga teman", bagaimana media sosial Folkative berkembang sangat pesat, hal yang tak ternilai saat menjadi travel blogger, sampai bagaimana Efek Rumah Kaca menyampaikan makna lewat lagunya. Pada pukul 14.00 WIB talkshow dimulai dengan Talk Show dari Komposisi.id yang membahas tentang fenomena "Harga Teman". Di Indonesia, dunia fotografi masih dianggap sebelah mata, padahal hal ini merupakan sebuah "Eye Opening Experience", karena selalu ada cerita di setiap foto baik sebelum dan sesudah. Selain itu, menurut Komposisi.id sendiri ada andil kebanyakan fotografer tidak bisa marketing diri sendiri karena budaya Indonesia yang nggak bebas memilih dan berbicara. Misalnya berbicara tentang seni, zaman dulu tidak semua orang disetujui oleh orang tuanya untuk fokus di dunia seni, karena tidak menjamin penghasilan yang pasti. Meskipun sekarang sudah berubah, tetapi pola pikir seperti ini masih tersisa sampai sekarang. Komposisi.id juga memberikan masukan jika ada yang meminta jasa fotografi atau yang lainnya dengan "Harga Teman" lo bisa mensiasati dengan adjust output yang akan lo berikan, jangan menurunkan harga. Dan pastikan lo lebih pintar daripada client jadi punya kontrol penuh dengan output yang dihasilkan.

Talk show yang kedua ada Kenneth William yang merupakan founder dari Folkative. Salah satu media sosial yang memperjuangkan produk lokal Indonesia. Tidak hanya produk, mereka juga aktif membahas tentang culture, film dan masih banyak lainnya. Pada talk show kali ini, Kenneth lebih bercerita tentang perjalanannya sebelum membuat Folkative. Dari mulai jualan pulsa, jersey KW, jualan bunga sampai sabun cuci sepatu sudah dilakukan. Sebelumnya ia tidak pernah berpikir untuk membuat Folkative, berawal dari mengikuti kompetisi bisnis model dan menyadari bahwa setengah dari harinya hanya dihabiskan untuk melihat Instagram dan Youtube. Dari sinilah ia melihat peluang yang cukup besar. Barulah ia fokus untuk mengembangkan Folkative, ia tidak pernah merasa ada moment kalau Folkative akan menjadi "Big Thing". Tapi saat orang lain merespon apa yang ia kerjakaan atau share tentang Folkative, itulah yang menjadi kepuasan tersendiri.

Lanjut ke talk show yang ketiga, kali ini ada Marischka Prudence yang bercerita tentang karirnya menjadi full-time Travel Blogger. Wanita yang akrab dipanggil Pru ini mengambil keputusan beralih profesi saat belum banyak yang namanya 'influencer' bahkan Instagram belum booming menjadi paid promote. Melalui tulisannya, ia ingin membantu orang lain menyadari arti dari sebuah traveling. Karena ia merasa traveling adalah sebuah investasi waktu, memori masa depan. Kalau lo membeli barang-barang mahal, kegemaran akan material goods tersebut akan surut, atau bahkan dilupakan, selalu ada yang baru sebagai penggantinya. Tetapi ingatan lo saat traveling akan selalu indah sampai kapanpun. Yang dimaksud sebagai investasi adalah waktu, yakni apakah lo living the life, dan apa sih future memories yang lo inginkan. Belum lagi moment dimana lo bertemu banyak orang dari berbagai belahan dunia. Yang membuka pikiran lo menjadi lebih luas. Nah, satu saran yang simple namun bermakna dari Pru, bagaimana sih memulai itu semua? "Ya, mulai aja dulu", begitu jawabnya. Karena percuma kalau lo hanya memikirkannya tanpa bergerak.

Terakhir, ada Music & Beyond session dari Bayu Adisapoetra dan Bam Mastro dari Elephant Kind dan Poppie Airil yang merupakan bassist Efek Rumah Kaca. Mereka bercerita bagaimana struggling dalam bermusik. Mulai dari anggapan remeh dari orang tua sampai karya yang "tidak dianggap oleh label besar". Contohnya kisah pembuatan lagu Efek Rumah Kaca yang berjudul "Cinta Melulu". Awalnya ia ditolak oleh label besar, karena lagunya yang tidak biasa, saat itu sedang booming lagu percintaan, dan patah hati. Para label musik tersebut ingin memproduksikan karya mereka kalau karyanya similar seperti band-band lain. Makanya terciptalah lagu "Cinta Melulu". Dan terbukti, meskipun berbeda, malahan lagu tersebut yang dihafal semua orang bahkan masih eksis sampai sekarang. Bagi Efek Rumah Kaca, karya mereka adalah arsip, merekam momen lewat musik.

Tenant 100% lokal

Nggak cuma talk show yang insightful, ada banyak tenant yang keren-keren banget dan tentunya 100% produk lokal. Mulai dari apparel seperti Lecathva yang merupakan brand dengan desain yangg sangat unik, atau The Statements dengan desain kaos yang menunjukkan statement tentang realita masa sekarang. Lalu ada #KopiBening, produk kopi grab to go yang cocok menemani saat menghadiri talk show. Ada juga Everyday C+ yang merupakan produk jus asli dengan campuran rasa buah yang segar dan masih banyak tenant-tenant lainnya.

Live performance berbagai genre

Keseruan terakhirnya adalah music performance dari band-band yang sedang merintis karyanya seperti Tokyolite, MLDJAZZPROJECT Season 2, Oscar Lolang, Mothern, Janitra Satriano dan ditutup oleh Reality Club. Serunya band-band tersebut memiliki perbedaan genre yang cukup signifikan. Seperti MLDJAZZPROJECT Season 2 yang kental akan alunan jazz. Mereka menyulap lagu-lagu seperti "The Way You Make Me Feel" dari Michael Jackson atau "How Deep Is Your Love"-nya Bee Gees menjadi bernuansa jazz. Para penonton banyak yang tidak mengetahui MLDJAZZPROJECT Season 2 sebelumnya, tapi seusai penampilan sangat terlihat raut wajah penonton yang berdecak kagum. Acara ini ditutup oleh band dengan former si cantik Fathia Izzati yakni Reality Club. Performance-nya yang sangat lincah, membuat para penonton tidak malu untuk ikutan berjoget.