Trending

Tesla Habiskan 5 Miliar Rupiah Per Jam untuk Kembangkan Mobil Listrik

Tesla dibuat pertama kali oleh Elon Musk pada tahun 2003. Ketika itu, nama Tesla masih belum setenar sekarang, apalagi visi misinya masih terlalu nggak masuk akal, yakni membuat mobil listrik tanpa bahan bakar. Siapa sangka, sekarang Tesla menjadi salah satu perusahaan dengan keuntungan mencapai 7 miliar dolar per tahun.

Untuk mencapai kesuksesan seperti sekarang, Tesla ternyata mengeluarkan uang yang nggak sedikit lho, Urbaners. Menurut laporan Bloomberg, selama 12 bulan terakhir Tesla menghabiskan 480 ribu dolar per jam atau 8 ribu dolar per menit atau 133 dolar per detik. Itu berarti Tesla menghabiskan uang 5 miliar rupiah per jam untuk mengembangkan mobil listriknya.

 

Fokus pada pengembangan

Laporan yang diterima oleh Bloomberg memang cukup mengejutkan karena Tesla menghabiskan cukup banyak uang untuk melakukan pengembangan. Memang Tesla sangat cepat untuk melakukan perubahan dan inovasi. Apalagi sekarang banyak sekali persaingan mobil listrik dari beberapa merek kenamaan.

Lucunya nih Urbaners, Bloomberg memprediksi bahwa Tesla akan kehabisan uang pada tanggal 6 Agustus 2018 jam 2 pagi. Walaupun itu masih prediksi dari Bloomberg dan masih belum tentu kebenarannya, tentu akan jadi berita besar jika Tesla ternyata bangkrut.

 

Kisah pendanaan Tesla

Elon Musk memang sangat berjasa dalam pengembangan Tesla sejak awal. Bayangkan ketika pertama kali berdiri, Tesla mendapatkan suntikan sebesar 7,5 juta dolar dari uang pribadi Elon Musk. Nggak lama setelah itu, tahun 2006 Tesla mendapatkan pendanaan “resmi” untuk pertama kalinya, yaitu 40 juta dolar dari founder Google, Sergey Brin dan Larry Page.

Sebelum resmi IPO pada tahun 2010, Tesla total sudah mendapatkan pendanaan mencapai 400 juta dolar. Padahal saat itu belum ada satu pun mobil yang dijual oleh Tesla. Mobil yang dijual Tesla pertama kali adalah Model S Sedan di bulan Juni 2012. Sepanjang tahun 2017 ini, Tesla sudah menjual 75 ribu lebih mobil listrik dari seluruh dunia.

 

Source: Bloomberg.com