• Fashion
  • Muklay dan Sentuhan Imajinatif pada Karya Visual

Muklay dan Sentuhan Imajinatif pada Karya Visual

Tue, 23 June 2020
Muklay mengenakan topi merah sedang berpose tersenyum di depan lukisannya

Pria bernama Muchlis Fachri atau biasa dikenal dengan Muklay sudah aktif di dunia seni selama lebih dari 10 tahun. Lulusan Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta ini semakin dikenal berkat titelnya sebagai Forbes Indonesia 30 Under 30 di tahun 2020. Bukan pencapaian yang mediocre, kesuksesan Muklay berasal dari keberhasilannya dalam menemukan identitas dan ciri khasnya serta kejeliannya dalam mengobservasi tren pasar.

 

Ide Bisnis dari Karya Seni

Muklay sedang menggoreskan kuas di atas kanvas yang dipenuhi lukisan warna-warni

Sama seperti kebanyakan seniman lainnya, Muklay sudah memiliki bakat dan minat melukis sejak kecil. Tetapi, yang membuat Muklay berbeda dari seniman lainnya adalah kemampuannya untuk menjadikan minat seninya sebagai ide bisnis sedari masa SMP. Semua bermula dari kebiasaannya untuk melukis sneakers teman-temannya. Dari sana, ia bisa Rp200.000 per komisi. Uangnya dihabiskan lagi untuk membeli keperluan melukis dan sneakers baru.

Masa sekolahnya juga sampai sekarang masih jadi acuan seni bagi Muklay. Dulu, karya dari Darbotz dan Tokidoki sedang populer. Kedua gaya seni ini menggabungkan street style dengan animasi kartun, dua aspek yang terlihat jelas dalam setiap artwork Muklay.

Tetapi, itu saja nggak cukup. Menurut Muklay, memasarkan karya seni merupakan skill yang paling penting bagi seniman agar bisa mendapatkan profit. Profit ini juga yang membuat para seniman tetap aktif berkarya. “Seni bisa jadi ladang bisnis. Lo bisa bikin merchandise karena penjualannya bisa global. Kalau visual art cuman bisa dijual di kalangan tertentu, merchandise jadi wearable art yang menjangkau semua orang,” imbuh Muklay.

 

Sneakers Sebagai Sumber Inspirasi

Muklay sedang duduk di dalam studionya, terlihat koleksi sneakers

Kalau diteliti lebih dalam lagi, sebetulnya bakat seni Muklay berakar dari kecintaannya terhadap sneakers. Betul, Muklay is a sneakerhead! Studionya bahkan dipenuhi oleh koleksi sneakers warna-warni. Begitu pula dengan karya seninya, Muklay sudah sering melukis sneakers-sneakers dari brand Nike, Adidas, Vans, dan Converse.

Muklay sendiri terkenal karena kemampuannya dalam memadukan warna-warna bold, tanpa membuatnya terlihat norak. Quirky street style, deskripsi yang cocok untuk artwork Muklay. Untuk ini, Muklay sepenuhnya terinspirasi dari sneakers scene. Ia selalu membeli sneakers berdasarkan warna-warnanya, apakah kombinasi warnanya sudah tepat atau belum. Dari sini, ia pun bisa mengasah instingnya dan memasukkannya ke dalam karya-karya seni khas Muklay.

Peran sneakers juga dirasakan oleh Muklay saat ia harus bersosialisasi di kalangan seniman lainnya. Meski setiap seniman ini dibedakan berdasarkan jenis seni masing-masing, tetap saja Muklay merasa kalau kecintaannya terhadap sneakers menjadi penghubung. Sneakers dijadikan sebagai conversation starter, apalagi mengingat popularitas sneakers yang kini semakin meningkat, dinikmati oleh berbagai kalangan.

 

Melebarkan Sayap Lewat Kolaborasi

Muklay mengenakan ensemble warna-warni sedang duduk di atas bangku putih

Muklay mengungkapkan bahwa kini ia memiliki 3 model bisnis. Pertama, exhibition untuk memproduksi karya seni sebebas mungkin. Kedua, komisi sebagai sumber pendapatan utamanya. Ketiga, kolaborasi sebagai marketing tool. Melalui kolaborasi inilah nama Muklay semakin dikenal dan diperhitungkan sampai ke seluruh dunia.

Nggak main-main Bro, Muklay sudah pernah berkolaborasi bersama Uniqlo untuk desain T-shirt sekaligus menjadi ambassador brand fashion asal Jepang ini. Kemudian, karya Muklay juga sempat viral berkat grup musik RAN yang mengenakan pakaian hasil lukisan Muklay di acara penutupan Asian Games 2018 dan AMI Awards 2018.

Sementara itu, Muklay juga terus aktif berkolaborasi bersama brand lokal dan internasional lainnya, contohnya seperti Dufan, Lock&Lock, Gramedia, Xiaomi, Pepe Jeans, dan Citilink. Muklay juga ikut kolaborasi sama MLDSPOT lewat Instaclass: Live Sketch 10 Juni lalu, di mana Muklay sketch bareng bersama audiens juga. Menurutnya, seni bukanlah ajang kompetisi, melainkan ajang kolaborasi untuk bisa menghasilkan karya yang lebih baik lagi, terutama di kala PSBB ini #MumpungLagiDirumah.

 

 

 

 

Sources: Detik Hot, Manual, Kumparan.

5 Brand Lokal Sepatu Kulit Terbaik

Tue, 21 July 2020
Beberapa pasang kaki dengan berbagai sepatu kulit berbeda

Lagi butuh sepatu kulit untuk acara-acara formal? Yuk, cek sepatu kulit brand lokal yang nggak kalah stylish dengan model-model brand populer yang biasa lo pakai. Beberapa di antara brand sepatu ini bahkan ada yang bisa lo pesan secara custom lho!

 

Kythshoes

Wingtip Boots dari Kythshoes dengan warna cokelat ashy

Local pride yang pertama adalah Kythshoes, brand sepatu kulit yang berasal dari Magetan, Jawa Timur. Kythshoes mematok harga untuk sepatu kulitnya yang sudah jadi di angka Rp500.000 ke atas. Sementara untuk sepatu custom harganya bisa lebih tinggi, itu tergantung bahan dan desain sepatu yang lo request.

Pembuatan sepatu custom di Kythshoes memungkinkan lo untuk bisa memilih bahan sepatu apa yang paling cocok dengan fashion style lo. Mulai dari bahan kulit asli full grain, sampai kulit nabati atau foam untuk sol sepatunya, semua tersedia di Kythshoes.

 

Portee Goods

Oxford Wingtip L.I.F.E. dari Portee Goods dengan warna hitam sepenuhnya dan aksen motif berlubang

Sama seperti Kythshoes, Portee Goods juga menyediakan jasa sepatu custom. Harga sepatu custom dimulai dari harga Rp800.000 ke atas. Sepatu-sepatu Portee Goods umumnya terbuat dari kulit sapi.

Selain sepatu custom, Portee Goods punya beberapa produk sepatu kulit jadi yang siap lo pesan sesuai ukuran. Portee Goods menggunakan teknologi L.I.F.E. (Lightweight Injected Foam Exthane) dalam pembuatan outsole-nya. Itu mengapa sepatu kulit Portee Goods terasa ringan dan lebih nyaman untuk dipakai. Harga sepatu jadi Portee Goods berkisar Rp500.000.

 

Brodo

Signore Ventura Low dari Brodo dengan warna kecokelatan

Brand lokal yang satu ini sudah nggak perlu diragukan lagi kualitasnya. Brodo bahkan sudah direkomendasikan langsung oleh beberapa selebriti, mulai dari Chicco Jerikho sampai Bambang Pamungkas. Dibanding dua brand sebelumnya, harga sepatu-sepatu Brodo relatif lebih murah, hanya sekitar Rp275.000 ke atas.

Brodo memberikan garansi selama tiga bulan untuk sepatu-sepatu mereka sebagai tanda komitmen akan kualitas sepatu yang dijual. Garansi ini disebut Janji Om Bro.

 

Amble Footwear

Carter Dark Brown dari Amble Footwear dengan warna cokelat yang khas

Brand sepatu kulit asal Bandung ini memproduksi berbagai jenis sepatu, mulai dari loafers, sneakers, sampai boots. Proses pembuatan sepatunya dilakukan secara handmade dengan bahan kulit kualitas tinggi. Gaya desain yang diusung Amble sendiri kebanyakan diadaptasi dari gaya urban modern dengan mengedepankan rasa nyaman saat mengenakan sepatu.

Sepatu-sepatu kulit Amble Footwear berkisar di harga Rp500.000 ke atas. Salah satu model yang paling populer adalah edisi Carter – The Iconic & Timeless Derby Shoes. Desainnya yang simple dengan tiga potongan upper pattern membuat kesan minimalis sehingga cocok untuk dipakai di acara-acara formal atau casual.

 

Suedehead Shoes

Kasabian Double Sol dari Suedehead Shoes dengan warna hitam dan sol kulit cokelat

Brand lokal yang terakhir ini berasal dari Bali. Suedehead Shoes hadir dengan gaya yang klasik dan elegant. Sepatu-sepatu kulit yang diproduksi di sini semuanya handmade oleh para pengrajin lokal.

Yang menarik, Suedehead Shoes menghadirkan genre-genre musik pada sepatu kulitnya. Ada yang memiliki sentuhan rock n roll pada beberapa produk boots, ada juga yang hadir dengan sentuhan klasik yang identik dengan warna-warna gelap seperti cokelat dan hitam. Dibanding 4 brand sebelumnya, Sudehead Shoes memiliki harga yang paling mahal. Produk sepatu buatan tangan ini dijual dengan harga berkisar Rp1,2 juta ke atas.

 

 

Sources: Kurio, MyBest, Pemoeda.co.id