Sustaination: The Zero Waste Lifestyle Journey - MLDSPOT
  • Food
  • Sustaination: The Zero Waste Lifestyle Journey

Sustaination: The Zero Waste Lifestyle Journey

Thu, 11 April 2019
Sustaination: The Zero Waste Lifestyle Journey

Kini reusable straw berbahan stainless steel, kaca, juga bambu mulai dipilih banyak orang untuk mengurangi penggunaan sedotan plastik. Begitu pula dengan cutleries, tumbler, serta reusable shopping bag yang setia menemani Urbaners belanja bulanan. Dengan banyaknya biota laut yang jadi korban limbah plastik, orang-orang mulai concern dengan lingkungan dan mulai berusaha menerapkan zero waste lifestyle.

Salah satunya adalah Sustaination. All-in-one platform yang menjadi tempat belajar mengenai zero waste lifestyle ini belakangan lagi happening banget. Sustaination yang nggak lain adalah akronim dari “sustainable nation ini menawarkan berbagai produk ramah lingkungan yang bisa mendukungmu dalam mengurangi produksi sampah. Founder-nya memiliki harapan besar untuk membuat bumi menjadi hunian yang lebih baik. Yuk, simak kisahnya di bawah ini, Urbaners!

 

Titik Balik Lahirnya Sustaination

Titik Balik Lahirnya SustainationNggak semua orang yang hidup di bumi aware dengan kondisi planet ini, begitu juga dengan Dwi Sasetyaningtyas. Saat menghubungi perempuan yang akrab disapa Tyas untuk mengulik Sustaination lebih lanjut, ia pun menceritakan kisah di balik lahirnya platform zero waste lifestyle ini. “Titik balik lahirnya Sustaination sebetulnya dari tahun 2017 akhir,” jawabnya. Dua tahun lalu, Tyas memutuskan untuk beralih ke gaya hidup minim sampah nan berkelanjutan.

Sayangnya, informasi mengenai zero waste lifestyle yang sesuai dengan budaya Indonesia sangatlah terbatas. Saat itu, informasi seputar gaya hidup minim sampah tersebut kebanyakan mengacu pada gaya hidup orang Amerika. Akhirnya, demi mendapatkan informasi yang dibutuhkan, Tyas mencoba belajar sendiri alias otodidak. Pun kalau ada hal yang nggak diketahui, Tyas nggak ragu bertanya ke mereka yang lebih ahli. Nah, karena nggak mau belajar sendirian, Tyas memutuskan untuk mulai menulis zero waste lifestyle journey-nya di www.sustaination.id.

 

Berbagai Produk Zero Waste Sustaination

Berbagai Produk Zero Waste SustainationNggak hanya mendapat banyak ilmu tentang zero waste lifestyle, Urbaners juga bisa membeli produk-produk zero waste dari berbagai brand di website Sustaination. Kategori yang ada pun beragam, mulai dari Zero Waste Kit, Personal Care, Health & Beauty, Straw and Cutleries, To Go, Cleaners, dan Books. Dengan tawaran produk yang lengkap, Urbaners nggak perlu repot lagi mencari reusable straw dan cutleries, natural soap, shampoo bar, natural deodorant bebas aluminium, sampai reusable bag!

 

The Zero Waste Lifestyle Journey

The Zero Waste Lifestyle Journey

Karena terkesan nggak praktis dan butuh banyak effort, zero waste lifestyle memang bikin sebagian orang berpikir dua kali untuk mewujudkannya. Padahal, menurut Tyas justru sebaliknya, lho. “Menerapkan gaya hidup zero waste itu nggak susah selama ada akses yang memungkinkan, masalahnya kita mau berubah atau tidak?” tandasnya. Sebab, saat memutuskan untuk beralih ke gaya hidup minim sampah, niat yang dibutuhkan bukan lagi 100 melainkan harus 1000%.

Urbaners, usaha menyelamatkan bumi memang nggak cukup hanya dengan membeli produk zero waste. Karena berhubungan dengan daily basis, kebiasaan yang sudah ada juga harus diubah. Padahal, mengubah kebiasaan jelas bukan hal yang mudah dilakukan. Paling nggak, seseorang membutuhkan waktu selama kurang lebih 21 hari untuk menerapkan kebiasaan baru. Selain niat, Urbaners juga harus berkomitmen untuk mewujudkan zero waste lifestyle. So, sebelum nge-date bareng pasangan, jangan lupa bawa reusable straw dan cutleries yang sudah dibeli, ya!

 

Harapan Besar Sustaination

Harapan Besar Sustaination

Berbagi ilmu melalui blog Sustaination miliknya, Dwi Sasetyaningtyas mengaku punya harapan tersendiri. “Harapanku adalah Sustaination dapat menemani dan membantu teman-teman yang ingin beralih ke gaya hidup minim sampah dan berkelanjutan,” jawabnya. Lanjut lagi, dengan informasi dan produk-produk zero waste yang ditawarkan Sustaination, Tyas berharap agar proses beralih ke gaya hidup minim sampah nggak terasa terlalu berat. Sebab, segala hal yang dilakukan sendirian, rasanya memang kurang menyenangkan, kan?

Nah, selain terus membagikan informasi dan dukungan, Tyas juga berharap Sustaination menjadi all-in-one platform zero waste lifestyle yang mengedepankan isu lingkungan. Berusaha mengurangi sampah dengan meninggalkan produk sekali pakai, Sustaination ingin menjadi bagian dari solusi untuk masalah sampah yang ada di Indonesia saat ini. Nggak sampai di situ saja, Sustaination juga memiliki harapan besar untuk membuat bumi menjadi hunian yang lebih baik.

 

So, gimana Urbaners? Hal kecil apa yang lo lakukan untuk menerapkan zero waste lifestyle?

4 Fakta French Fries: Ternyata Bukan Dari Prancis, Bro!

Mon, 19 October 2020
ini alasannya kentang goreng namanya french fries!

#MauLagiDimanapun even lo lagi nongkrong di café favorit atau santai saja di rumah, yang namanya cemilan memang mesti ada buat jadi penyambung obrolan. Setuju nggak sama pernyataan tadi? Kalau iya, boleh dong sebut apa cemilan yang suka jadi teman ngobrol lo!

Bicara soal cemilan, sebenarnya banyak sekali jenisnya apalagi kalau sudah terkait dengan cemilan-cemilan lokal. Mulai dari yang manis, sampai yang savory atau gurih-gurih asin, cemilan memang cocok banget buat jadi teman saat ngopi sampai ngebir.

Nah, kalau lagi nongkrong di café favorit, pilihan cemilan yang paling sering dipesan sama banyak orang adalah kentang goreng. Kenapa kentang goreng? Karena biasanya disajikan dengan kuantitas yang cukup buat nemenin lo ngobrol satu sampai dua jam, bro!

Eits, nggak hanya itu saja sih – kentang goreng di mana rasa base nya itu adalah gurih atau savory, biasanya memang cocok banget jadi teman ngopi sampai ngebir. Kalau di menu café tersebut, biasanya dijadiin bahasa Inggris dengan istilah French Fries.

Tapi, bentar-bentar, bahasanya sudah dari bahasa Inggris, tapi kenapa ada kata French di mana artinya kan negara Perancis ya bro? Tenang-tenang, nggak usah ikutan bingung karena di bawah ini, bakal ada penjelasan lebih lengkapnya.

Daripada penasaran dan menebak-nebak sendiri, langsung saja dibahas nih perihal French fries alias kentang goreng cemilan sejuta anak nongkrong!

 

Dasar Dari Sejarahnya

ini alasannya kentang goreng namanya french fries!

Credit Image: thedailymeal.com

Kalau dari sejarah panjangnya bagaimana kentang jadi salah satu makanan favorit atau cemilan populer, Jo Gerard – sebagai salah satu sejarawan asal Belgia mengklaim kalau resep pertama kentang goreng sudah ada di Belgia sejak tahun 1680.

Klaim ini terhubung dengan adanya fakta kalau orang Belgia ternyata kalau sedang tidak bisa memancing karena danau atau sungai mereka beku karena musim dingin, mereka mencari sesuatu yang bisa dimakan lagi dan ketemulah dengan kentang!

Mungkin ini berhubungan juga dengan menu fish and chips bro. Di mana di menu tersebut ada olahan ikan dan olahan kentang yang saling bersanding. Menurut lo apakah semuanya berkesinambungan?

 

Terus Kenapa Bisa Dibilang French Fries?

Jadi gini bro – masih seputar sejarahnya, ya – sekitaran tahun 1862, tentara Inggris datang ke Belgia saat perang dunia pertama dan mencicipi kentang goreng di sebuah gerai bernama Max en Fritz di Kota Antwerp.

Nah, gerai yang dikelola oleh orang Belgia asli itu menawarkan menu kentang goreng di mana ternyata tentara Inggris pada suka, bro! Lalu, tentara Inggris memberi nama French lantaran orang Belgia tersebut menggunakan bahasa Perancis sebagai bahasa resminya.

Nggak sangka kalau ternyata prosesnya seperti itu ya bro? Well, tapi itu adalah fakta yang ada dan yang bisa lo ketahui terkait penamaan French fries. Lalu, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kentang goreng atau French fries ini bisa sangat populer?

 

Populer Karena Thomas Jefferson

ini alasannya kentang goreng namanya french fries!

Credit Image: smittenkitchen.com

Seiring berjalannya waktu, French fries semakin banyak disukai dan mulai tersebar ke seluruh Eropa seperti Perancis tersendiri. Nah, pada saat itu, Thomas Jefferson, yang menjabat sebagai Duta Besar Amerika untuk Perancis, sangat jatuh hati dengan menu yang satu ini.

Thomas sendiri sangat senang makan kentang goreng atau French fries yang dimasak ala Perancis. Nah, ketika ia pulang ke Amerika dan menjadi Presiden Amerika ketiga, Thomas sangat senang menjamu tamunya dengan menu French fries tersebut.

Mulai dari situ, istilah French fries tersebar di Amerika. Berbagai restoran di sana mulai menyediakan French fries di menu mereka dan mendapat respon positif dari para pelanggan mereka!

 

Fakta Dibalik Bentuknya yang Tipis

Populernya French fries di manapun membuat banyak restoran, kedai atau café membuat menu tersebut masuk ke dalam penawaran mereka. Akan tetapi, tidak terlepas dari kritik – di Amerika sendiri, ada pelanggan dari sebuah restoran yang protes karena potongan kentang gorengnya terlalu tebal.

Nah, karena dari kritik tersebut, Chef dari restoran tersebut akhirnya memotong kentang dengan bentuk yang tipis-tipis dan panjang. Dipikir bakal dikritik lagi – Chef tersebut malah mendapat pujian dan akhirnya bentuk kentang goreng yang sekarang lo suka temui adalah hasilnya revisi Chef tersebut.

Dari hasil kritik tersebutlah French fries dengan bentuk yang tipis bisa semakin populer dan bahkan mendunia hingga populer juga di Indonesia. Bayangkan bro, kalau lo makan kentang goreng dengan potongan yang tebal, bisa-bisa lo malah kekenyangan karena nyemil kentang goreng tersebut!

Wah bagaimana nih? Cukup mengejutkan ya bagaimana istilah French fries ini berasal. Sekarang lo sudah paham nih bagaimana sejarahnya. Kuy, bikin kentang goreng buat nemenin lo santai di rumah, bro!

 

Feature Image – freepik.com