The World most iconic toys - MLDSPOT
  • Hobby
  • The World most iconic toys

The World most iconic toys

Tue, 31 March 2015

Meski hanya diciptakan dengan plastik atau cetakan pabrik, namun ada beberapa mainan yang benar-benar “nggak bisa mati”. Seiring dengan berjalannya waktu, kepopuleran mainan-mainan tersebut nggak memudar, namun justru bertambah. Didukung dengan perbaikan kualitas, mainan “abadi” ini juga semakin menarik hati para pencintanya. Berikut adalah tiga mainan yang pantas mendapat predikat sebagai “the most iconic toys”:

Lego

Mainan yang udah tercipta sejak tahun 1949 di Denmark ini selalu punya daya tarik tersendiri. Terhitung sejak tahun 2013, lebih dari 560 milyar suku cadang Lego udah diproduksi. Mainan ini memang relatif menantang karena berkaitan dengan daya kreativitas pemainnya. Saat ini, Lego nggak hanya bisa membentuk kendaraan atau bangunan aja, tapi juga bisa membentuk robot yang sungguh-sungguh bergerak! Lego pun udah dikembangkan menjadi film, permainan digital, kompetisi, dan enam taman hiburan di dunia. Lo bisa bergabung dalam dunia Lego digital di program komputer bernama “LEGO Digital Designer”. Bahkan, di bulan Februari 2015, Lego berhasil menggantikan Ferrari dalam posisi “the world’s most powerful brand”.

Monopoly

Siapa sangka kalau permainan papan ini memiliki filosofi yang sangat mendalam? Tujuan awal dari mainan Monopoly adalah mengajarkan tentang efek negatif dari monopoli lahan pribadi. Walau mainan Monopoly terus di-update, namun filosofi ini masih erat menempel. Salah satu versi update dari Monopoly bernama “Monopoly Here and Now” yang mengganti skenario, properties, dan token permainan agar terlihat lebih modern. Dan di tahun 2015, memperingati hari jadi Monopoly yang ke-80, pihak Monopoly melakukan online vote untuk menentukan kota apa aja yang pantas dimasukkan ke dalam permainan Monopoly edisi “Here and Now”.

Hot Wheels

Saat ini, mungkin Hot Wheels lebih layak disebut sebagai “barang koleksi” daripada “mainan”. Bekerja sama dengan berbagai pabrik mobil,  Hot Wheels mampu memproduksi replika mobil yang sesuai dengan desain blueprints aslinya. Ditambah dengan terbatasnya replika kendaraan yang diciptakan, membuat produk Hot Wheels semakin diburu oleh para kolektor kelas dunia. Hot Wheels sendiri memiliki tiga line utama, yaitu “Hot Wheels Classics”, “Special Model Lines”, dan “Treasure Hunt Series”. Ketenaran Hot Wheels juga bakal diangkat ke dalam suatu live action movie. Rencananya, film yang diproduksi oleh Columbia Pictures, Flying Glass of Milk Films, dan Silver Pictures ini bakal dirilis tahun 2015.

 

 

 

Lego dalam Buku
Menggandeng percetakan Dorling Kindersley, Lego udah beberapa kali hadir dalam bentuk buku. Beberapa di antaranya adalah buku berjudul “The Ultimate Lego Book”, “The LEGO Book”, dan “Lego Star Wars: The Visual Dictionary”.

 

Special Tokens from Monopoly
Monopoly termasuk rajin dalam meng-update token-token miliknya. Di beberapa edisi khusus, Monopoly menyertakan token-token yang terbilang istimewa, seperti: lokomotif uap, robot, gitar, helikopter, cincin, dan kursi direktur.

 

“Sweet 16” Hot Wheels
Di tahun kelahirannya, 1968, Hot Wheels memproduksi 16 replika mobil pertama, yaitu: Barracuda, Camaro, Corvette, Eldorado, Firebird, Fleetside, Mustang, T-Bird, Cougar, VW, Deora, Ford J-Car, Hot Heap, Python, Silhouette, dan Beatnik Bandit. Para kolektor menyebutnya dengan “Sweet 16”.

 

Bukan Jenis Genre, Ini Arti dari Band Indie Indonesia yang Sebenarnya!

Wed, 17 March 2021
Band Indie Indonesia

Gaya musik sekarang ini emang beragam banget, kalo kemarin sempet ngebahas Indonesian City Pop sama Irama Nusantara dan genre Lo-Fi yang sekarang juga banyak peminatnya, ada satu genre – yang sebenarnya juga bukan genre, yang saat ini banyak diminati, yaitu Indie!

Semakin banyaknya muncul band indie Indonesia membuat para penikmat musik awam menganggap bahwa indie merupakan sebuah genre. Nyatanya, indie bukan genre ataupun gaya musik, bro!

Identik dengan musik dan lagu yang easy listening dan memiliki lirik yang kreatif, musik Indie memnghadirkan Terus kenapa kehadiran band indie Indonesia bisa membawa pemahaman kalau Indie merupakan sebuah genre? Langsung aja simak ulasan selengkapnya di bawah ini, bro!

Mengenal Arti Indie yang Sebenarnya

Band Indie Indonesia

Credit image – Careers in Music

Sebelum dikenal sebagai sebuah genre, Indie sebenarnya memiliki arti independen – atau sesuatu yang bersifat mandiri, bebas, atau bahkan ‘merdeka’. Indie dalam musik digambarkan sebagai sesuatu yang dilakukan sendiri, bebas, tanpa ada gangguan dari pihak lain yang mencoba mengatur proses produksi.

Hal ini dilakukan oleh seorang musisi atau band indie Indonesia biasanya memilih jalan ini untuk berkarya dengan bebas tanpa adanya label yang menaungi. Para musisi indie biasanya membiayai semua pengeluaran secara independen – mulai dari biaya produksi, pemasaran sampai distribusinya.

Sebutan indie  awalnya digunakan untuk membedakan antara musisi independen dengan musisi lain yang terikat label. Hal itu dilakukan untuk menekan bahwa musisi indie berada di label rekaman independennya sendiri dan lebih bebas mengekspresikan gaya musiknya ataupun dalam membuat suatu karya. 

Indie Bukan Genre, Bro!

Band Indie Indonesia

Credit image - Spotify

Pemahaman bahwa genre merupakan sebuah genre masih banyak dinilai salah oleh banyak orang. Seperti yang udah disebutkan di atas – jelas indie bukan sebuah genre, melainkan gerakan mandiri dari musisi untuk menciptakan karyanya.

Namun kata indie dapat menjadi tambahan deskriptif untuk sebuah genre, misalnya memberikan pemahaman dari perbedaan antara aspek musik dan aspek bisnis dalam musik. Misalnya: indie-rock, indie-pop, indie-rap, dan sebagainya. Tambahan deskriptif ini juga digunakan oleh platform musik Spotify untuk membuat playlist dari musisi-musisi Indie Indonesia – dengan judul IndieNesia.

Nggak heran lagu-lagu karya musisi indie terbilang unik dan beda dengan lagu kebanyakan – atau lagu-lagu yang biasa ada di peringkat Top 40. Hal inilah yang juga mendorong sebagian orang menganggap indie sebagai sebuah genre musik.

Idealisme Musisi dan Band Indie Indonesia

Tren musisi indie di Indonesia udah berkembang sejak era 80-an. Saat itu kemunculannya identik dengan musik punk-rock yang bergerak tanpa ada bantuan dari major label dan memproduksi musik dan karyanya sendiri tanpa terikat regulasi yang ada saat itu.

Hingga pada era 90-an, istilah indie berkembang menggantikan istilah underground. Saat ini, cukup banyak band-band indie bermunculan, menggambarkan bahwa indie memang terus berkembang di Indonesia. Seperti Sore, The S.I.G.I.T, Danilla Riyadi, dan lain-lain yang musiknya pasti udah sering lo denger.

Pastinya untuk bertahan di industri musik dengan cara yang mandiri ini terbilang susah-susah-gampang, karena biasanya hasil karya yang dipublikasikan akan lewat teman terdekat terlebih dulu dan melakukan konser sederhana ke kota-kota di Indonesia.

Tapi fenomena banyaknya musisi indie saat ini berhasil menghadirkan warna baru dalam industri musik Indonesia dan membuktikan bahwa dengan produksi dan promosi mandiri dapat bertahan di Industri musik.

Pergeseran Makna dari ‘Indie’

Band Indie Indonesia

Credit image – Outfit Styles

Pergeseran makna indie sendiri semakin jauh – nggak cuma dalam hal musik, tapi juga ke dalam gaya hidup. Seperti banyaknya orang yang menjadikan indie sebagai fashion. Pasti lo juga pernah denger kan kata-kata yang bilang; “style lo Indie banget, bro!”

Hal ini berangkat dari stigma musik indie merupakan sebuah genre dan identik dengan sore, senja, kopi, dan hal sebagainya. Padahal, indie nggak ada hubungannya dengan hal-hal tersebut!

Semua hanya menjadi stigma di masyarakat dan menganggap indie sebagai sesuatu yang menunjukan eksistensi diri – padahal sebenarnya nggak paham apa indie yang sebenarnya.

Sekarang lo udah paham kan – kalau indie itu bukan genre lagu, cuman emang gaya musik yang ditampilkan sama musisi indie emang berbeda dari musik-musik dari genre musik kebanyakan.

Kalau lo lebih suka denger yang mana nih, bro? mengingat lo lagi berkunjung ke MLDSPOT, udah jelas kalau lo penikmat jazz, kan?

 

Feature image – BlackXperience