Nostalgia Film Klasik Bersama Komunitas Pecinta Film Indonesia Jadul - MLDSPOT

Nostalgia Film Klasik Bersama Komunitas Pecinta Film Indonesia Jadul

Sejak zaman dulu, dunia sinematografi Indonesia sudah melahirkan berbagai film yang legendaris. Jadi, jangan heran kalau beberapa film jadul Indonesia itu masih terkenal hingga masa sekarang, Bro! Bahkan, para penggemarnya sampai mendirikan komunitas khusus bernama Komunitas Pecinta Film Indonesia Jadul (KPFIJ).

Bagaimana komunitas ini bisa terbentuk? Apa aja keseruan kegiatannya? Yuk, baca ulasan lebih lengkap di bawah ini!

 

Bermula dari Sebuah Blog

Koleksi VCD salah satu anggota KPFIJ yang dibawa saat nobar

Komunitas ini bermula terbentuk dari sebuah blog yang ditulis oleh salah seorang pendiri, yaitu Suyoto Achmadi. Pria yang lebih akrab dipanggil Toto ini adalah penggemar “Saur Sepuh”, serial sandiwara radio ternama tahun 1980-an yang telah diangkat ke layar lebar menjadi 5 judul film yang berbeda.

Saking sukanya sama serial sandiwara radio ini, Toto pun menulis review tentang film adaptasi Saur Sepuh. “Aku tulis seputar menariknya lewat film ini, para penggemar Saur Sepuh bisa dapat gambaran riil tentang cerita yang selama ini hanya ada di imajinasi mereka saja,” kata Toto. Nggak disangka, banyak penggemar Saur Sepuh dan pencinta film klasik lainnya yang merespon tulisan blog Toto. “Aku jadi sadar kalau banyak juga orang yang sama-sama suka film klasik, bahkan sampai punya koleksi pribadi,” tambahnya.

Setelah ketemu langsung dan ngobrol dengan sesama pencinta film klasik lainnya, yaitu Theo Valentino dan Ruri Mabruri, tercetuslah ide untuk membentuk sebuah komunitas. Akhirnya, tepat pada tanggal 10 Januari 2010, Komunitas Pecinta Film Indonesia Jadul (KPFIJ) resmi terbentuk dengan memulai sebuah akun Facebook page.

 

Bernostalgia Bersama

Suasana nobar kerjasama dengan Komunitas Paramitha Rusady Fans Club

Saat ini anggota KPFIJ yang terdaftar di akun Facebook sudah berjumlah 12.000 orang. Setidaknya, 10 persen dari member akun Facebook KPFIJ tersebut adalah anggota aktif yang sering ikut dalam kegiatan offline KPFIJ. Kalau sedang berkumpul, biasanya mereka mengadakan nonton bareng (nobar) film-film klasik Indonesia. Serunya, acara nobar KPFIJ ini juga sering mengundang bintang tamu pemeran film tersebut.

“Kita pernah ngadain nobar sama Komunitas Paramitha Rusady Fans Club dan mengundang Paramitha Rusady untuk ikutan nonton. Terus beberapa pemain film lawas lainnya yang pernah hadir di nobar kita ada Dina Mariana, Johan Saimima, Avent Christie, dan Alm. Deddy Sutomo,” cerita Toto.

Karena setiap anggota punya film kesukaan yang berbeda, film-film yang diputar pun berasal dari berbagai genre, ada silat, horror, drama, hingga komedi. Tapi, film silat dan drama adalah dua genre film yang paling sering dibahas dan diputar pas nobar. “Alasannya sih, karena genre film itu paling banyak menyimpan nostalgia masa kecil. Contohnya, aku pribadi lebih suka film silat karena pas kecil dulu sering nonton film silat di layar tancap,” aku Toto.

Acara nonton bareng KPFIJ dengan Komunitas Pencinta Benyamin Sueb di Museum-Mandiri

Yup! Bernostalgia lewat film adalah alasan utama komunitas ini bertahan hingga usia 10 tahun. Mengenang masa lalu dengan menonton dan berdiskusi film jadul jadi kesenangan sendiri bagi anggota KPFIJ. “Mulai dari mengenang merasakan nonton film di layar tancap yang murah meriah sampai kehidupan di masa itu yang tergambar di film. Misalnya, model mobil dan fashion tempo dulu, bentuk Monas di zaman itu, dan jalanan Jakarta yang masih sepi,” tambah Toto.

Buat lo yang ingin coba nonton film jadul Indonesia, Toto memberikan rekomendasi film yang oke untuk dilihat nih. “Era 80-an merupakan masa-masa keemasan film Indonesia. Di tahun itu, film yang diproduksi merata dari semua genre, mulai dari film drama, silat, komedi maupun horror. Nah, untuk film terbaik, KPFIJ selalu berkaca pada film-film yang sudah lolos penjurian Festival Film Indonesia (FFI). Pemenang film tersebut boleh dianggap sebagai film klasik yang sangat direkomendasikan untuk ditonton,” jelas Toto.

Dari beberapa judul film yang direkomendasikan Toto ada “Naga Bonar” (FFI 1987), “Serangan Fajar” (FFI 1982), “Ibunda” (FFI 1986), “Cut Nyak Dhien” (FFI 1988), “Pacar Ketinggalan Kereta” (FFI 1989), serta “Ramadhan dan Ramona” (FFI 1992).

 

Lebih dari Sekedar Nobar

Acara Bioskop Klasik yang bekerja sama dengan OLX dan menghadirkan artis senior

Selain nobar, para anggota KPFIJ pastinya juga sering diskusi tentang film-film klasik Indonesia. Berbagi info soal film lokal Indonesia ini paling sering dilakukan via socmed oleh para anggotanya. Lo bisa coba cek-cek akun sosmed mereka kalau penasaran sama film-film jadul Indonesia, karena info yang di-share lumayan lengkap.

Berkat bergabung di KPFIJ, para anggota jadi bisa saling bertemu dengan para kolektor film jadul Indonesia. Nggak heran kegiatan hunting video film jadul sering dilakukan bersama para anggota komunitas ini. Koleksi video mereka pun cukup beragam, ada versi VCD, DVD, Laser Disc, Kaset Beta, maupun VHS.

KPFIJ juga beberapa kali bekerja sama dengan pihak lain dalam membuat acara yang bertujuan mendukung dunia perfilman Indonesia. Sebut saja acara Bioskop Klasik bersama situs OLX, acara dengan situs Jualo.com, dan dengan Museum Mandiri dalam rangka peringatan Hari Film Nasional.

“KPFIJ juga sedang menyusun Edisi Buku Poster Silat Indonesia. Ini adalah proyek buku poster kedua yang kita kerjakan untuk kalangan sendiri. Materinya kita dapatkan dari poster-poster bioskop dan majalah film. Seharusnya buku ini sudah jadi pada bulan Maret kemarin untuk menyambut hari Film Nasional ke-70. Namun, karena pandemi Covid-19, kita sepakat untuk menunda proyek ini dan siap cetak setelah pandemi berakhir,” ungkap Toto.

 

Harapan untuk Film Indonesia

Pameran poster di Museum Mandiri pada Hari Film Nasional

Ke depannya, KPFIJ bakalan terus menyebarkan rasa cinta ke film-film klasik Indonesia dengan terus memperbanyak koleksi mereka dan saling berbagi cerita tentang kehebatan film-film itu di berbagai platform sosial. Mereka berharap akan semakin banyak orang yang kenal dengan film klasik Indonesia dan jatuh cinta sama film produksi dalam negeri.

“Harapan lainnya, semoga bioskop murah yang pernah ada di tahun 80-90an kembali bermunculan. Harga tiket yang murah bisa menarik lebih banyak penonton untuk nonton ke bioskop dan nggak menggunakan jurus “download gratis” yang merusak industri perfilman,” harap Toto.

Jika masyarakat bisa menghargai film lokal Indonesia, maka industri perfilman Indonesia pun akan semakin maju. “Film Indonesia akan mampu bercerita di kancah dunia dan tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” tutup Toto.

Nah, kalau lo tertarik bergabung di komunitas KPFIJ, bisa langsung follow page Facebook Komunitas Pecinta Film Indonesia Jadul dan akun Instagram @komunitas_kpfij. Yuk, nostalgia ke masa lalu lewat film jadul, Bro!