Jatiraga Seru Bermusik Jazz dengan Instrumen Tradisional

Kalau mendengar musik jazz, mungkin yang terbayang dalam benak adalah instrumen musik seperti piano, terompet, atau saksofon. Tapi, gimana jadinya kalau musik jazz dimainkan menggunakan instrumen tradisional Indonesia seperti tetabuhan? Keunikan itulah yang diusung oleh Jatiraga, band musik asal Kota Yogyakarta yang menawarkan olahan jazz dengan sentuhan lokal yang berbeda.

Nggak hanya piawai mengkolaborasikan musik tradisional dengan modern, hampir sebagian besar proses penciptaan karya Jatiraga selalu berangkat dari spiritualitas budaya yang melebur ke dalam komposisi musik dan lagu lagu yang dihasilkan. Seperti apa proses kreatif mereka? Dari mana mereka mendapatkan inspirasi bermusik? Yuk, simak ulasan lengkapnya!

 

Berawal dari Tugas Akhir Kuliah

Setiap manggung, Jatiraga selalu memasukkan unsur pakaian tradisional

Cerita terbentuknya band Jatiraga berawal dari proyek musik tugas akhir Ragipta Utama, yang merupakan sang gitaris, Urbaners. Saat itu, Gipta - sapaan akrab Ragipta - sedang menyelesaikan tugas akhir kuliah di Institut Seni Indonesia Yogya. Ia kemudian mengajak beberapa teman untuk membantunya dalam proyek tersebut. Setelah tugas akhir selesai, Gipta dan teman-temannya justru menemukan kecocokan satu sama lain, terutama dalam hal feeling bermain musik. Dari situlah mereka kemudian membentuk band Jatiraga pada Januari 2016. 

Band Jatiraga terdiri dari 5 orang personil, Ragipta Utama pada gitar, Zuhdi Sang pada vokal, Andar Prabowo pada drum dan perkusi, Sutan Mulia pada bass, dan Rudi Abimatara pada alat musik Kendang. Nama “Jatiraga” sendiri memiliki arti “kesejatian diri” dalam Bahasa Jawa. Nama ini dipilih dengan harapan, nantinya semua personil yang terlibat dalam pekerjaan bermusik ini bisa menjadi sosok manusia yang seutuhnya.

 

“Kawinkan” Musik Jazz dengan Nuansa Tradisional

Kendang menjadi unsur musik tetabuhan yang selalu hadir dalam proses karya lagu jatiraga

Salah satu keunikan Jatiraga terletak pada kemampuannya memadukan unsur musik tradisional dan modern dalam aliran musik etnik jazz dan jazz kontemporer yang diusung. "Mengawinkan musik tradisional dengan modern sebenarnya cukup sulit dan hal ini jadi tantangan tersendiri buat kami. Sebelum membuat lagu, kami harus betul-betul mendengarkan dan mendalami alat musik tradisional yang akan kami gunakan. Proses ini memang cukup memakan waktu lama, agar kami mendapatkan tone musik yang pas," ujar Zuhdi, vokalis Band Jatiraga.

Zuhdi menambahkan, ia dan para personil band berusaha agar musik tradisional dan modern bisa diolah menjadi sebuah alunan yang harmonis, bukan hanya sekedar saling menumpuk bunyi. Pada prakteknya, proses mixing musik tradisional dan modern juga nggak semudah yang dibayangkan. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menuangkan konsep yang dipunya ke dalam permainan musik, supaya menemukan feel yang pas.

"Dalam musik tradisional di Indonesia, unsur utamanya terletak pada ritme tetabuhan. Membahasakan tetabuhan ke alat-alat musik modern seperti gitar, drum, atau bass, itu yang sulit," tutur Andar, drummer Jatiraga.

Selama ini, alat musik yang sering digunakan Jatiraga adalah gitar, bass, drum, gendang, seruling Jawa, alat musik jimbe, dan slompret (alat musik tradisional yang biasa digunakan pada pentas reog Ponorogo). Walaupun sekarang lebih banyak menggunakan alat musik tradisional dari Jawa, ke depannya, mereka juga ingin mengeksplorasi alat musik tradisional dari daerah-daerah lain di Indonesia.

 

Spiritualitas Budaya Jadi Dasar Penciptaan Karya

Penampilan dan olah suara Zuhdi mampu memberikan performance yang powerful

Lirik lirik lagu yang dibawakan Jatiraga sebagian besar menggambarkan tentang refleksi diri di tengah realitas sosial politik yang ada saat ini. Dalam pembuatan karya, Jatiraga selalu memegang nilai-nilai spiritualitas yang hidup pada tradisi dan budaya Indonesia. Hal ini terbukti dari album perdana bertajuk “Jatiraga” yang dirilis pada Oktober 2019. Lagu-lagu dalam album pertama ini banyak menggambarkan fenomena sosial budaya yang terjadi di Indonesia. 

Album pertama Jatiraga terdiri dari 5 komposisi lagu. Lagu pertama berjudul ‘Lampor Kendheng’, yang menceritakan tentang tradisi masyarakat Jawa Tengah ketika mengusir hama pada masa tanam padi. Lagu kedua berjudul ‘Kutut Manggung’, yang menggambarkan eksplorasi seorang manusia. Sebagai manusia, dengan segala yang dimilikinya, ia harus mampu memajukan dirinya sendiri. Lagu ketiga ada ‘Kidung Lembayung’, di sini Jatiraga ingin mengungkapkan refleksi masyarakat Indonesia akan dinamika sosial politik yang terjadi saat ini.

Komposisi lagu keempat berjudul ‘Caplokan’, menggambarkan semangat pembebasan tradisi barongan dalam budaya Reog Ponorogo dan budaya Jathilan dari Jogja. Lagu kelima berjudul ‘Jatiraga’ yang menceritakan tentang semangat dari tembang Jawa berjudul ‘Wedotomo’ yang menggambarkan eksistensi diri sebagai manusia. Lagu kelima ini pula yang akhirnya sepakat dijadikan nama grup band Jatiraga.

 

Persiapan Membuat Album Kedua

Peluncuran album Jatiraga di Sangkring Art Space, Yogyakarta

Dalam waktu dekat ini, Jatiraga sedang disibukkan dengan persiapan pembuatan album kedua yang akan mengangkat musik tradisional nusantara lebih dalam. Rencananya, para personil akan tinggal beberapa waktu di Medan untuk riset tentang musik tradisi di daerah tersebut.

"Kami ingin mengangkat budaya anti mainstream di Medan. Kami akan mencoba menggali lebih dalam tentang musik tradisi Simalungun di Medan, karena selama ini musik yang sering kita dengar adalah musik dari daerah Karo dan Toba. Kami akan lebih banyak bersinggungan langsung dengan masyarakat, untuk menggali unsur-unsur musik tradisional yang berkembang di masyarakat," ujar Zuhdi.

Kita doakan semoga album keduanya makin sukses, ya! Buat Urbaners yang penasaran dengan konsep bermusik Jatiraga, lo juga bisa follow langsung Instagram mereka di @Jati_raga.