Ivan Mario: Tangkap Momen Romansa di Balik Lensa

Bro, buat lo yang suka fotografi, pasti familier dengan Axioo. Ya, Axioo adalah salah satu nama vendor wedding yang terdiri dari fotografer, videografer, designer, editor dan stylist yang berkolaborasi untuk membuat konten fotografi menarik dan berkelas. Mulai dari foto-foto pre-wedding, wedding, ulang tahun, sampai kelahiran anak, Axioo bisa mengabadikan momen-momen berkesan dalam hidup lo!

Saat ini, ada sepuluh fotografer yang tergabung dalam tim Axioo Jakarta, salah satunya adalah Ivan Mario. Ivan adalah seorang fotografer yang ahli menangkap momen-momen spesial yang nggak bisa ditunjukkan lewat kata-kata, tetapi melalui keindahan foto. Penasaran dengan kisah inspiratif dari fotografer yang satu ini? Yuk, simak cerita lengkapnya!

 

Awal Terjun ke Dunia Fotografi

Bisa dibilang, kini Ivan Mario merupakan salah satu fotografer spesialis wedding dan prewedding terkenal di Indonesia. Ia sudah meniti karir di bidang fotografi kurang lebih 13 tahun lamanya. Ivan mengaku bahwa yang pertama kali mengenalkannya kepada dunia fotografi adalah keluarganya sendiri.

Salah satu hasil pemotretan Ivan Mario di Kapadokia, Turki

Ia tumbuh di keluarga yang menyukai kamera, fotografi, dan bekerja di industri pernikahan. Bahkan, pamannya sendiri memiliki usaha cuci cetak foto dan photo studio. “Ayah saya juga kebetulan suka kamera dan kalau senggang menjadi juru foto di pernikahan. Paman saya ada yang bekerja di wedding videography. Jadi, dari kecil saya sudah melihat mereka bekerja dan berkarya melalui lensa kamera, sehingga hobi saya pun bisa terasah dan berkembang sampai sekarang,” tutur Ivan.

Sebagai fotografer, Ivan mengatakan bahwa untuk berhasilnya suatu pemotretan, kita harus bisa mengerti keinginan atau impian sebuah foto pernikahan dari pasangan yang akan menikah. “Hal itu akan membuat kita jadi terus belajar mengenai karakter, ide, maupun lokasi pemotretannya,” kata Ivan.

 

Pemotretan Bersama Jerapah

Sebagai media perekam kenangan yang nggak akan terulang, ada satu photo project yang paling diingat. Ketika itu ia melakukan pemotretan prewedding di Afrika Selatan, 5 tahun lalu. “Jadi di sana tema kita adalah safari, di mana kita naik mobil untuk mencari satwa-satwa liar. Kita ingin banget bisa mengambil foto dengan jerapah sebagai background-nya. Jadi selama 1 jam kita berusaha untuk mendekatinya pelan-pelan sampai akhirnya jerapahnya lelah dan akhirnya kita bisa mendapatkan foto dengan jerapah itu, hahaha!” cerita Ivan.

Pemotretan prewedding kerap kali dilakukan di luar negeri seperti Kanada dan Prancis

Bila dilihat dari hasil-hasil foto @Axioo, sesi pemotretan sering dilakukan di luar negeri. Menurut Ivan, pemotretan di luar negeri dapat meningkatkan kualitas foto yang dihasilkan. “Setiap negara mempunyai kebudayaan dan landscape yang berbeda-beda, jadi secara lokasi menurut saya semua negara mempunyai daya tarik yang berbeda-beda. Tapi kalau berdasarkan pengamatan pribadi, dalam 3-4 tahun terakhir ini, Eropa adalah destinasi yang paling diminati, dilanjutkan dengan Jepang dan Australia,” imbuhnya. 

 

Mengatasi Kecanggungan Saat Pemotretan

Saat melakukan pemotretan, wajar bila ada rasa kaku, terutama untuk pasangan yang nggak biasa difoto. Salah satu hal yang selalu Ivan lakukan sebelum pemotretan adalah melakukan pendekatan dengan para kliennya supaya nggak ada suasana canggung. “Di era media sosial ini, kita dapat mengenali ketertarikan ataupun hobi klien kita melalui media sosial mereka masing-masing. Kita bisa memulai pembicaraan dari apa yang klien suka, bukan apa yang kita suka. Dari situ, biasanya suasana akan bisa lebih cair,” katanya. Menurut Ivan, menciptakan hubungan yang akrab dan enjoyable berperan besar agar proses pemotretan berjalan lancar.

Ivan Mario merasa beruntung karena bisa bekerja sesuai dengan hobinya

Selain soal kecanggungan, salah satu tantangan utama seorang fotografer adalah jam kerja yang cukup tinggi. Di suatu pernikahan, rata-rata fotografer akan bekerja minimal 16-17 jam dalam satu hari. “Contohnya, kita mulai dari jam 5 pagi, selesai kurang lebih jam 10 malam. Selama 16 jam tersebut, penting untuk menjaga mood dengan baik, fisik yang stabil, dan ide-ide fresh untuk menghasilkan foto-foto yang oke,” kata Ivan.

Terkadang, sebagai seorang fotografer dengan jam kerja yang tinggi, Ivan yang kini sudah berkeluarga dan memiliki 2 orang anak menyesalkan kurangnya waktu untuk kumpul dengan keluarga. Ia seringkali harus meninggalkan mereka ketika bepergian dalam waktu yang cukup lama untuk melakukan pemotretan.

Buat lo yang tertarik untuk menjadi seorang fotografer, Ivan punya tips dan trik nih, Bro. “Mulai dari apa yang kita punya dan belajar terus. Saya masih ingat waktu pertama kali saya mulai foto wedding, saya nggak mulai dengan kamera yang terbaik, bahkan bisa dibilang tipenya rendah dan alat-alatnya pun sederhana. Mengerti tentang teknik itu penting, tapi memahami kemauan klien itu jauh lebih penting. Itulah yang membuat saya terus mempersiapkan dan memperbaiki diri,” ujar Ivan.

Pemotretan prewedding oleh Ivan yang dilakukan di Swiss

Seni fotografi dimanfaatkan sebagai medium untuk mengabadikan momen-momen penting dalam hidup. Tentunya nggak mudah untuk menangkap momen-momen itu. Ivan pun memerlukan banyak latihan sehingga kemampuannya terasah dan akhirnya mendapat hasil foto yang memuaskan. Ia mengaku bahwa memotret apa yang lo suka juga menjadi kunci keberhasilan lo sebagai fotografer. Karena bisa mengoperasikan kamera dengan baik bukan berarti kita bisa mengeksekusi sebuah karya dengan baik.

Sebagai fotografer, lo harus memiliki passion, kreativitas, dan kegigihan. Kalau lo mempunyai ketiganya, dijamin lo bisa mendapatkan hasil foto seperti milik Ivan Mario yang emosional, personal, dan tentunya memorable. Penasaran dengan kerennya hasil-hasil foto yang dipotret Ivan? Lo bisa langsung cek Instagram-nya di @ivanmario ya, Bro!