Wregas Bhanuteja: Visi dan Prestasi Sang Sutradara Muda

Nama Wregas Bhanuteja mencuat sebagai sutradara muda dengan potensi tinggi dari Indonesia. Gimana nggak? Cowok yang satu ini sudah berhasil menjadi satu-satunya sutradara Indonesia yang meraih penghargaan film pendek terbaik di Semaine de la Critique Festival Film Cannes 2016 lewat “Prenjak (In The Year of Monkey)”. Tahu sendiri kan, Festival Film Cannes merupakan salah satu acara penghargaan paling prestisius buat insan perfilman, Urbaners.

Di tahun 2019, Wregas kembali mengoleksi penghargaan sinema lewat karya “Tak Ada yang Gila di Kota Ini”, dan membawa pulang Piala Citra untuk Kategori Film Pendek Terbaik. “Di dalam perkembangan manusia yang super cepat, buat gue film adalah medium diskusi, sebagai pengingat dan topik untuk mengevaluasi diri,” kata laki-laki asal Yogyakarta ini.

Yuk ngobrol lebih lanjut bareng Wregas!

 

Pernah Bekerja Bareng Mira Lesmana

Totalitas dalam berkarya lewat riset yang mendalam

Sejak kecil, pria kelahiran 20 Oktober 1992 ini sudah sangat akrab dengan dunia sastra. Kegemaran inilah yang pada akhirnya memotivasi Wregas untuk bergelut di bidang kesenian—dalam hal ini seni film. Lahir dan besar di Yogyakarta, Wregas mulai mengenal film pendek sejak duduk di bangku SMA.

Lepas dari bangku SMA, Wregas memilih melanjutkan kuliah di jurusan Film di Fakultas Film dan Televisi IKJ Jakarta. Peluangnya untuk berkembang di industri ini muncul saat dirinya menjadi anak magang dan mulai terlibat di film-film Mira Lesmana, salah satunya “Sokola Rimba”. Di luar pekerjaannya dengan tim Mira Lesmana, Wregas membuat film-film dengan tema sederhana tapi nyangkut di hati, seperti Prenjak, kemudian ada “Lemantun”, “Lembusura”, dan “The Floating Chopin”.

 

Jatuh Hati pada Karya Eka Kurniawan

Sempat tidak terdengar kabarnya setelah sukses dengan Prenjak, Wregas kembali menggaung lewat film Tak Ada yang Gila di Kota Ini, film yang diangkat dari novel Eka Kurniawan. “Gue suka karya-karyanya Eka Kurniawan, gue suka cara dia mengangkat kehidupan masyarakat kecil dan menuangkannya lewat tulisan,” cerita Wregas.

Alasan inilah yang membuat Wregas mengangkat novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan, yang kemudian menjadi film pendek dengan judul Tak Ada yang Gila di Kota Ini. Film ini pun ikut diputar dalam SUNDANCE Film Festival 2020, Singapore International Film Festival, hingga Busan International Film Festival 2020.

Poster film “Tak Ada yang Gila di Kota Ini” yang ditayangkan di SUNDANCE Film Festival 2020

Ketika ditanya mengenai kesulitan mengubah novel menjadi film, Wregas mengaku ia sempat kewalahan dengan alur waktu, terutama memotong bagian tertentu supaya durasinya tercukupi. Untungnya, kolaborasi dengan Eka Kurniawan terbilang mulus. Penulis yang meraih penghargaan Prince Claus Awards 2018 tersebut mempercayakan semua perubahan dan adaptasi ke tangan Wregas. “Eka itu tipikal penulis yang membebaskan pembaca ataupun seniman lain menginterpretasikan karyanya,” ungkap Wregas.

Demi “memurnikan” penafsirannya mengenai karya Eka, Wregas enggan bertanya banyak ke Eka mengenai proses kreativitas pembuatan buku tersebut. Bahkan, Wregas juga ogah terlalu mendalami film “Sunya” yang diangkat dari cerita pendeknya Eka Kurniawan. Baru setelah draft selesai dan eksekusi pengambilan gambar dilakukan, Wregas mau membagi isi kepalanya dan menanyakan proses kreatif Eka Kurniawan. “Bukan untuk mengubah apa-apa, hanya sekedar tahu saja,” cetusnya.

 

Proses Kreativitas

Adhyaksa Ekatama (produser) dan Wregas Bhanuteja (sutradara) wakili Indonesia pada pagelaran Sundance Film Festival 2020 

Isu-isu kemanusiaan selalu menjadi tema yang menarik untuk digarap buat Wregas. Terkait proses kreativitasnya, buat Wregas tegas menyebut riset sebagai bagian yang paling penting. Proses kreativitas nggak akan lepas dari yang namanya riset. Pemahaman mengenai suatu isu sangat penting sebelum akhirnya dituangkan ke dalam bentuk film. Proses ini akan membuat film menjadi lebih berisi dengan pemaknaan yang bisa diterima oleh penonton.

“Buat gue, film bagus itu adalah sesuatu yang personal, karena semua orang punya perspektifnya masing-masing,” kata Wregas. Sebagai seorang filmmaker, Wregas mengaku mencintai semua bentuk sinema dan penilaian suatu film disebut bagus bisa dilihat dari berbagai aspek.

Film bisa dilihat bagus dari sisi style-nya meskipun secara cerita sangat biasa, tapi karena pembaruan visual yang oke, maka film tersebut bisa disebut bagus. Ada juga film yang secara visual biasa banget, saking biasanya satu scene hanya satu shoot saja, tapi karena secara cerita punya kekuatan dan relevan jadinya film yang masuk kriteria bagus juga.

 

Membuat Catatan untuk Setiap Film yang Ditonton

Menonton film adalah salah satu bentuk riset yang dilakukan Wregas. Di rumah, ia selalu meluangkan waktu menonton film dan nggak lupa mencatat kesan yang dirasakannya saat menonton pertama kali. “Buat gue, kesan pertama itu adalah impresi kita yang sesungguhnya, dan itu menarik untuk dicatat sebagai bahan renungan dan pengingat ketika film ini ditonton lagi,” terang Wregas.

Tertarik berkolaborasi dengan Oka Antara saat melihat karakter Rasus yang diperankan Oka Antara di Sang Penari

Wregas punya harapan lebih untuk industri film Indonesia. Salah satunya adalah semoga teknologi sinematografi lebih mumpuni untuk menerjemahkan film-film dengan spesial efek tertentu. “Gue punya keinginan untuk memfilmkan novel Seno Gumira Ajidarma yang judulnya ‘Kitab Omong Kosong’,” jelas Wregas.

Sebelum menutup perbincangan, Wregas sempat mengutarakan keinginan untuk membuat film panjang. Dan lagi-lagi buatnya, riset adalah poin terpenting sebelum mengeksekusi ini. “Keinginan untuk membuat film panjang pasti ada, tapi belum tahu bakal seperti apa. Yang pasti, gue akan terus melakukan riset,” tutupnya mantap.

Buat Urbaners yang mau tahu lebih banyak mengenai proses kreativitas Wregas, simak update-nya di @wregas_bhanuteja.