Inspiring People
Senin, 20 Juni 2022

Sukses Berkarier Itu Kuncinya Adalah Work-life Integration

  • Share
  • fb-share
Sukses Berkarier Itu Kuncinya Adalah Work-life Integration

Di dunia kerja, lo pasti familiar dengan istilah work-life balance dan itu menjadi sebuah cita-cita bagi kebanyakan pekerja. Makin bertambahnya umur enggak menutup kemungkinan makin bertambah pula kebutuhan hidup lo. Persaingan ketat di lingkungan kerja juga menuntut lo supaya lebih keras bekerja demi mendapatkan hasil maksimal.

Pilihan utama para pekerja (mungkin lo juga termasuk) rela merantau di ibukota untuk mendapatkan pekerjaan yang sekiranya layak dan dapat mendukung semua kondisi tersebut. Seiring berjalannya waktu, kembali datang istilah lainnya yaitu work-life integration. Baru denger, kan lo? Istilah baru ini akan menggeser work-life balance karena katanya lebih relevan. Kok bisa?

Nah, di episode terbaru MLDPODCAST yang ke-78, Basboi (BB) bakal ngobrol sekaligus ngebahas work-life integration bareng konten kreator yang bergerak di bidang self improvement yaitu Jonathan End (JE) dan seorang wanita yang aktif sebagai entrepreneur dan ex-Venture Capitalist yaitu Stephanie Yoe (SY).

 

(BB) What you know about work-life integration? Mungkin kalo dulu kan sebelumnya terms yang populer adalah work-life balance. Kita mulai dari work-life balance aja, kalo menurut lo gimana?

(JE) Work-life balance ini ya dalam artian kita mencoba mencari jangan sampai gue kerja diforsir melulu, hidup gue hanya buat kerja, gue jadi nggak bisa merasakan hidup, kasarnya gitu kan. Makanya kayak ya udah kerja 8 jam, mungkin dulu kerja 8 jam tapi gimana caranya setelah 8 jam kerja gue punya kehidupan nih, 8 jam kerja, 8 jam tidur, sisa 8 jam nih. Itu aja 8 jam belum kepotong 4 jam sama mandi, makan, commuting gitu kan jadi gue pengen experience life. Apalagi kalo ngomongin Gen-Z it’s all about experiences, makanya work-life balance jadi cukup penting. Kalo mungkin di generasi boomer, gue kerja buat keluarga jadi sacrifice-nya juga gede, gue kerja ya udah lembur yang penting keluarga gue bahagia. Kalo Gen-Z lebih individualis sedikit ya, karena okay gue pengen experiences life dong, which is fair dan gimana caranya jangan sampai hidup nggak cuma kerja doang nih. Sekarang kalo kita ngomongin integration ya, hmm gimana caranya kerja nggak berasa kerja bisa playful juga bisa kerja dimana-mana. Apalagi dengan adanya teknologi bisa work from Bali, gue bisa menikmati hidup Zen di Bali tapi juga bisa sambil kerja, di bagian itu yang dicari. Mungkin nggak semua company bisa kayak gitu, apalagi pandemi dipaksa WFH toh ternyata bisa nih tinggal rumahnya aja nih dimana. Pokoknya buat gue fleksibel kalo lo kerja dimana aja yang penting kerjaan kelar sebelum deadline nggak masalah.

(BB) Kalo dari lo gimana, karena tadi lo bilang there’s more to life juga kan? How does that apply to work-life integration?

(SY) Gue agree tetapi menurut gue that work-life balance is quite misleading.

(BB) Okay, dalam artian?

(SY) Karena kalo misalnya gue ngeliat dari sisi company ya, lo mau work-life balance totally okay tapi productivity output lo juga harus balance. Ya dong? Lo kalo mau work-life balance tapi di kantor 8 jam tiap hari cuma nonton Youtube ya ngapain lo ke kantor, terus lo mau untuk work-life balance kan minta ya agak aneh kan. Dari sisi kantor menurut gue kalo misalnya lo kerjain everything great, lo mau work-life balance fair. The world is fair. Menurut gue juga sekarang company sudah mulai nerapin itu as long as productivity level bagus. Nah, isunya kalo misalnya your talking about like remote work, if your output itu nggak bisa excite expectation ya kan gue sebagai company, kenapa nggak gue hire orang India atau orang Singapore yang productivitynya mungkin lebih tinggi dengan cost yang lower. Toh dua-duanya remote, I can still zoom.

(BB) Lo nggak terpatok sama geografis kan?

(SY) Exactly, nggak ngefek kan, orang ya remote.

 

 

Gimana, setuju enggak lo sama apa yang dijelasin Jonathan dan Stephanie? Menurut pandangan lo sendiri apa sih work-life integration? Coba share pendapat lo di bawah, ya.

Masih banyak pembahasan lainnya seperti sisi positif Gen-Z dalam berkarir, etos kerja, sampai habit soal pekerjaan yang bisa lo dengerin versi penuhnya di sini, di channel Youtube MLDSPOT. Dengerin juga versi audionya di sini.

Mau reminder lagi nih, kumpulin terus MLDPOINTS lo sebanyak-banyaknya biar bisa dapetin iPhone 12 Pro sampai PS5. Belum tau caranya? Langsung meluncur di sini, bro!

Comments
Muhammad Alwi Hasan
okedeh bagus bangett
Andi supriyandi
Keren banget mld