Wahyoo, Kembangkan Warteg via Digitalisasi

Perkembangan teknologi itu sama seperti pisau. Kalau di tangan yang benar bisa membantu banyak orang, tapi bila berada di tangan yang salah bisa menjatuhkan banyak orang juga. Contoh yang baik adalah Peter Shearer, seorang entrepreneur yang memutuskan untuk menggunakan ‘pisau’ ini sebagai alat mengembangkan warung-warung makan tradisional alias warteg agar lebih berdaya dengan sistem yang mengikuti zaman.

Berdiri sejak 2016, social enterprise Wahyoo yang didirikannya ini sudah merangkul 13.100 warung makan di Jabodetabek dan ingin segera merambah ke Bandung dan wilayah Indonesia lainnya. Simak selengkapnya kisah inspirasi Peter Shearer dan Wahyoo di sini!

Ilham untuk Membantu Sesama

“Nama Wahyoo atau wahyu karena ini merupakan ilham dari Yang di Atas agar bisa membantu banyak orang menjadi lebih baik,” terang Peter ketika ditanyakan pemberian nama Wahyoo untuk aplikasi warteg digitalnya.

Sebagai social enterprise, Wahyoo memberikan pelatihan dengan sistem P3K yaitu Pelatihan, Pembimbingan, Pendapatan, dan Kemudahan. Pelatihan dan pembimbingan dilakukan agar pemilik warteg bisa mendapatkan pengetahuan yang lebih baik mengenai pengelolaan bisnis kulinernya agar mendapatkan penghasilan yang lebih layak. Selain itu, Wahyoo juga memberikan kemudahan bagi para pemilik warteg untuk mendapatkan bahan makanan dengan mengenalkan mereka langsung pada produsen.

“Gue tergerak untuk membangun Wahyoo saat melihat keadaan warung makan tradisional yang nggak terorganisir dengan baik, sistemnya masih sangat konvensional, kondisi tempatnya kurang baik, sedangkan tempat warung makan ini selalu menjadi tempat yang paling sering dikunjungi masyarakat,” jelas Peter.

Dalam visinya ke depan, Peter berharap agar semakin banyak warung makan tradisional di Indonesia yang bisa memberikan pelayanan profesional sama seperti restoran. Memiliki tempat yang bersih, pelayanan yang baik, pelanggan dapat merasa nyaman, dan sistemnya pun sudah bisa terdigitalisasi.

Demi Sistem yang Lebih Baik

Pengalaman masa kecil juga mendorong Peter untuk memberdayakan pemilik usaha kuliner kecil. Orang tuanya memiliki bisnis catering dan Peter tahu betul bagaimana kesulitan yang mereka alami.

Bergabung dengan ‘keluarga’ Wahyoo, para pemilik warteg mendapat banyak kemudahan dalam mengembangkan usahanya.

Harus berbelanja ke pasar pagi-pagi buta, mempersiapkan bahan masakan, memasak berbagai macam masakan, serta kesibukan-kesibukan lain yang membuat mereka sangat lelah. Pastinya pengalaman ini juga dirasakan oleh semua pemilik warung tradisional. “Makanya gue bercita-cita supaya pemilik warung makan tradisional memiliki sistem yang lebih baik sehingga nggak perlu sampai semaput saat menjalankan usahanya,” tuturnya lagi.

Walaupun memiliki misi yang mulia seperti ini, bukan berarti ia menjalaninya tanpa tantangan. Peter mengaku di awal-awal merintis Wahyoo, sangatlah sulit bagi dirinya untuk menumbuhkan kepercayaan dari para pemilik warung.

“Susah banget buat mereka untuk percaya kalau Wahyoo mau membantu mereka untuk menjalankan usaha lebih baik. Syukurnya sih, setelah berjalan dua tahun dan dengan berbagai program yang sudah dilakukan, kepercayaan ini bisa tumbuh dan bahkan mereka merekomendasi Wahyoo ke rekan-rekan dan keluarga mereka,” terang Peter.

Visi Wahyoo untuk ke depannya nggak jauh-jauh dari pemberdayaan pangan di Indonesia. Supaya semua masyarakat Indonesia bisa memenuhi kebutuhannya yang paling hakiki yaitu bisa mendapatkan makananan yang layak, nggak kelaparan alias zero hunger.

Menurut Peter, salah satu upaya untuk sampai pada visi tersebut adalah dengan membuat ekosistem warung makan kelas bawah menjadi lebih baik. “Supaya semua orang apapun kelas sosialnya bisa mengakses makanan dengan lebih baik lagi,” ujarnya mantap.

Membuka Wawasan dan Menjaring Koneksi

“Warung jadi bersih, enak dipandang, dan konsumen jadi betah serta nyaman berlama-lama di warung.”

“Ada banyak pelatihan, kemudahan suplai produk, usaha jadi lebih berkembang.”

Itulah sebagian kecil dari komentar pemilik warung makan yang merasa terbantu setelah bergabung dengan Wahyoo. Aplikasi digital ini memang memberikan kemudahan suplai produk supaya pemilik warung nggak repot harus jauh-jauh pergi berbelanja.

Kerja sama yang saling terkoneksi ini membuat lingkup yang dijalankan oleh Peter ibarat rantai yang bisa menghubungkan satu bidang ke bidang lainnya. Mulai dari konsumen ke pemilik warung makan, warung makan ke produsen produk, dan produsen produk ke konsumen.

Peter menjelaskan kalau Wahyoo nggak mengambil keuntungan dari para mitra, melainkan dari brand yang bekerja sama dengan Wahyoo dalam hal iklan, penempatan produk, serta penjualan produk yang ditempatkan di warung-warung makan tradisional tersebut. “Jadi kalau ditanya dari mana Wahyoo mendapat keuntungan, ya dari produsen ataupun brand tersebut,” terang Peter.

Potensi Usaha Warteg untuk Pertumbuhan Ekonomi

Secara gamblang Peter menjelaskan kalau banyak orang selama ini nggak ngeh dengan besarnya peluang pada usaha warung makan tradisional untuk pertumbuhan ekonomi. Padahal warteg merupakan sentral pertemuan orang-orang banyak. Bukan hanya dijadikan sebagai tempat makan oleh berbagai kalangan melainkan juga untuk tempat duduk dan mengobrol sehingga ada begitu banyak perputaran informasi yang terjadi di warteg.

Mengapa kesempatan ini nggak dijadikan saja sebagai peluang yang bisa menyasar perkenalan dan pengembangan produk-produk berbasis kuliner atau apapun itu secara lebih luas lagi? Inilah yang membuat Peter semakin kukuh bersemangat untuk merangkul pemilik warteg menjadi bagian dari keluarga besar Wayhoo.

“Sekarang ini era digital, kenapa nggak kita gunakan semaksimal mungkin untuk pengembangan ekonomi masyarakat dan bukan sekadar hiburan saja,” tutup Peter penuh keyakinan. Buat lo yang pengen tahu lebih banyak tentang usaha dan gerakan mereka, tinggal kunjungi websitenya di Wahyoo.com!