• Movie
  • Bunga Penutup Abad, Pementasan Teater Peringatan 10 Tahun Meninggalnya Pram

Bunga Penutup Abad, Pementasan Teater Peringatan 10 Tahun Meninggalnya Pram

Wed, 14 September 2016

Pramoedya Ananta Toer menulis novel Tetralogi Pulau Buru di Pulau Buru, dekat Maluku. Pram, sebutan akrab Pramoedya ini ditahan selama 10 tahun tanpa mendapatkan proses peradilan di tahun 1969 sampai 1979 di pulau tersebut, tetapi Pram bukan malah terkekang, dirinya malah menuliskan 4 novel yang sekarang masuk ke dalam salah satu buku paling berpengaruh di dunia.

Pram meninggal pada tanggal 30 April 2006, tepat 10 tahun setelah itu pada bulan Agustus kemarin terdapat pementasan teater berjudul Bunga Penutup Abad untuk memperingati kematian Pram. Pementasan seharusnya dilangsungkan hanya 2 hari, tetapi karena membludaknya tiket, akhirnya pementasan Bunga Penutup Abad dilaksanakan 3 hari.

 

Bunga Penutup Abad diambil dari lukisan di novel Pram

Minke yang diperankan oleh Reza Rahardian, lalu ada Nyai Ontosoroh diperankan sangat apik oleh Happy Salma. Keduanya menjadi bintang utama di dalam teater tersebut, dibantu oleh Lukman Sardi sebagai Jean Marais dan Chelsea Islan memerankan Annelies. Nama Bunga Penutup Abad ini diambil dari lukisan karya Jean Marais yang oleh Minke dinamakan Bunga Penutup Abad. Lukisan tersebut berwajah Annelies yang meninggal sewaktu Minke studi di Belanda.

 

Buku Pram yang penuh kontroversi

Pada masa kemerdekaan Indonesia, Pram sudah mulai menulis walaupun dirinya mengikuti beberapa kelompok militer Indonesia. Di sana Pram mulai menulis apa yang dilihatnya, didengarnya dan dirasakannya. Semua keburukan pemerintah semasa itu ditulis oleh Pram, dirinya pun sempat dipenjara beberapa kali.

Puncaknya ketika dirinya dituduh komunis, Pram pun harus dibuang ke Pulau Buru. Tetapi selepas dari Pulau Buru, Pram berhasil menyelesaikan 4 novel dan semuanya masuk daftar cekal. Sekarang karya Pram sudah terjual bebas dan dapat dibaca oleh semua kalangan. Ada kata termahsyur dari Pram, "Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan."

 

Source: nationalgeographic.co.id

4 Sutradara Terbaik Indonesia dengan Segudang Prestasi Membanggakan

Friday, January 24, 2020 - 14:17
Mouly Surya saat mengarahkan Marsha Timothy dalam film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak.

Film Indonesia saat ini memang udah nggak boleh dianggap sebelah mata lagi. Sudah banyak sekali film Indonesia yang terkenal sampai di luar negeri. Sebut saja seperti ‘Pengabdi Setan yang sampai diputar di beberapa negara mulai dari Thailand hingga Jepang. Kesuksesan film Indonesia tersebut tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Selain memiliki cerita yang menarik, akting apik dari para aktor dan aktris, sentuhan tangan dingin dari sutradara juga sangat menentukan kesuksesan suatu film.

Indonesia memiliki sejumlah sutradara terbaik yang telah menghasilkan karya-karya yang keren. Inilah empat sutradara Indonesia dengan prestasi mendunia yang perlu lo ketahui:

 

Joko Anwar

Joko Anwar selalu merilis film yang populer dan miliki jutaan penonton.

Nama Joko Anwar tentunya sudah nggak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Sutradara yang satu ini telah merilis banyak karya terkenal seperti ‘Pengabdi Setan’, Janji Joni, Gundala dan yang terbaru adalah Perempuan Tanah Jahanam’. Joko Anwar memang paling jago membuat cerita horor yang mengerikan dan bisa mengguncang emosi penontonnya. Nggak heran jika film horornya seperti ‘Pengabdi Setan’ dan ‘Perempuan Tanah Jahanam’ selalu laris dan ditonton jutaan penonton.

 

Angga Dwimas Sasongko

Angga Dwimas Sasongko juga menjadi salah satu sutradara terbaik Indonesia yang perlu diketahui.

Sutradara yang satu ini juga memiliki pengaruh besar dalam industri perfilman Indonesia. Angga Dwimas Sasongko pun mulai dikenal dengan karya-karya suksesnya seperti ‘Surat dari Praha, Filosofi Kopi, Wiro Sableng 212 dan yang paling terbaru adalah ‘Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini yang sedang diperbincangkan. Sutradara berusia 35 tahun ini juga telah mengumpulkan banyak penghargaan mulai dari Piala Maya hingga Festival Film Bandung.

 

Hanung Bramantyo

Karya dari Hanung Bramantyo pastinya sudah dikenal oleh banyak orang Indonesia.

Hanung Bramantyo selalu memproduksi karya-karya film yang berkualitas dan populer. Misalnya saja ‘Jomblo’, ‘Get Married, Ayat-Ayat Cinta, Perahu Kertas,Kartini, Bumi Manusia dan yang paling terbaru adalah ‘Habibie & Ainun 3’. Suami dari Zaskia Adya Mecca ini juga telah memiliki banyak prestasi dan penghargaan. Ia pernah membawa pulang Piala Citra sebanyak dua kali dari filmnya ‘Brownies dan ‘Get Married’ sebagai Sutradara Terbaik.

 

Mouly Surya

Lewat film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak nama Mouly Surya mulai dikenal oleh banyak orang.

Sutradara yang satu ini mungkin masih cukup asing bagi lo kan Urbaners? Tapi saat mendengar karya filmnya pasti lo semua tahu. Mouly Surya adalah sutradara dari film ‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’ yang terkenal. Lewat film ini nama Mouly Surya mulai diperhitungkan menjadi salah satu sutradara terbaik di Indonesia. Film yang satu ini juga sempat diputar di festival film internasional seperti Festival Film Cannes 2017. Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak juga meraih banyak penghargaan seperti Asian World Film Festival 2018.

 

Itulah empat sutradara terbaik dari Indonesia yang sudah membuat banyak karya-karya keren dan prestasi segudang. Siapa sutradara favorit lo Urbaners?

 

 

Sources: idntimes.com, keepo.me