• Movie
  • Sineas Muda Indonesia Raih Penghargaan Bergengsi di Venice International Film Festival 2018

Sineas Muda Indonesia Raih Penghargaan Bergengsi di Venice International Film Festival 2018

Thu, 13 September 2018
Sineas Muda Indonesia Raih Penghargaan Bergengsi di Venice International Film Festival 2018

Film pendek Indonesia kembali mencuri perhatian dalam ajang Venice International Film Festival 2018 pada 8 September 2018 lalu di Palazzo del Cinema, Venezia, Lido Italia. Aditya Ahmad lewat filmnya yang berjudul “Kado”. Tentu ini merupakan prestasi luar biasa dari sineas muda tanah air di tengah semarak perfilman dunia.

 

Dua Film Tanah Air Saling Bersaing

Dua Film Tanah Air Saling Bersaing

Dilansir dari Whiteboard Journal, sebelumnya ada dua film Indonesia yang masuk dalam gelaran Venice International Film Festival 2018. Film pertama adalah “Kucumbu Tubuh Indahku” yang disutradarai oleh Garin Nugroho. Menceritakan seorang koreografer asal Banyumas bernama Rianto yang menghadapi diskriminasi.

Durasinya sekitar 105 menit dan diproduseri oleh Ifa Isfansyah serta diproduksi oleh Fourcolours Film. Dalam film ini dikisahkan mengenai perjalanan tubuh dalam peleburan sifat maskulin dengan feminin dari lingkungan, alam rumah dan juga tradisi.

Sedangkan film kedua adalah berjudul “Kado” karya sineas muda Aditya Ahmad yang berdurasi 15 menit. Film tersebut berkisah tentang seorang bernama Isfi yang berencana merayakan ulang tahun Nita. Untuk itulah dalam mempersiapkan hadiah, ia harus mengenakan kerudung dan rok panjang agar diterima.

Tidak hanya itu, film besutan sutradara pemenang penghargaan sutradara film pendek se-Asia Tenggara di Singapore International Film Festival tahun 2014 ini diproduseri oleh Riri Riza dan Mira Lesmana. Isu yang disajikan dikemas dengan universal namun tetap menekankan unsur lokal.

 

Wakil Indonesia Satu-Satunya yang Menyabet Gelar

Wakil Indonesia Satu-Satunya yang Menyabet Gelar

Setelah bergelut cukup lama, akhirnya para pemenang pun diumumkan. Dan film karya pria kelahiran Makassar 1989 ini muncul sebagai pemenangnya. Aditya menerima trofi penghargaan Orizzonti yang diterima langsung dari kritikus film Perancis dan Direktur Cinematheque Française, Frederic Bonnaud.

Kado” berhasil menyabet gelar bergengsi tersebut setelah bersaing dengan 12 film pendek lain dari berbagai negara peserta. Kerennya lagi Urbaners, Aditya merupakan satu-satunya sineas Indonesia yang berlaga di Festival Film Internasional Venice yang ke-75 setelah sebelumnya mengalahkan film besutan Garin Nugroho di atas.

Rasa bangga sekaligus bahagia ditunjukkan oleh sang produser Mira Lesmana dalam akun Instagram-nya. "We are happy to share the good news from Venice La Biennale:  Miles Films’ new short film KADO (A Gift) by Aditya Ahmad, has won best short film at Orizzonti - 75th. Congrats @ditsmad, we are so proud of you! Congrats also to all cast & crew," tulis Mira seperti dilansir dari laman kompas.com.

Wah, sukses terus ya untuk para sineas muda tanah air dalam menghasilkan karya.

 

 

Source: Kompas.com

Cerita Baru The Raid Akan Diberi Judul baru

Thursday, February 20, 2020 - 14:05
Adegan dalam film The Raid yang memperlihatkan seni bela diri silat

Sebagian besar pencinta film sudah pasti tahu dengan The Raid. Kesuksesannya menembus pasar film global membuatnya diproduksi dengan sekuel yang mempromosikan seni bela diri Indonesia: pencak silat. Yang terbaru, The Raid akan dibuat dengan sentuhan Hollywood, tapi dengan judul berbeda. Selain judul yang berbeda, judul terbaru berdiri sendiri tanpa mendapat pengaruh dari fim sebelumnya.

Bukan Lagi Remake

Frank Grillo, sutradara baru The Raid yang mengubah judul film menjadi Zeno

Pada 2017 lalu, Frank Grillo dan Joe Carnahan melontarkan sebuah pernyataan yang menggembirakan banyak fans, yaitu akan memproduksi remake dari film The Raid. Namun, seiring berjalannya waktu, kabar itu hilang dengan sendirinya. Tapi pada April 2019, muncul sebuah update bahwa judul baru bukan merupakan remake dari film sebelumnya.

Dalam sebuah wawancara, Grillo dan Carnahan memberikan statement, mereka telah ‘berpisah’ dari XYZ film, yang sebelumnya mempunyai hak cipta dari The Raid. Dengan begitu, cerita dan penokohannya akan berbeda dengan film sebelumnya. Begitu juga aktor dan aktris yang akan terlibat dalam proyek baru.

Berjudul Zeno

Nggak lagi mengusung nama The Raid, Grillo dan Carnahan mengumumkan bahwa film terbaru mereka akan berjudul Zeno, yang juga merupakan tokoh utama pada film. Saat ini, pihaknya sedang melakukan negosiasi dan perbincangan dengan sejumlah aktor ternama untuk membintangi film ini.

Zeno akan memiliki jalan cerita yang berbeda dengan The Raid. Pada garapan Gareth Evans 2011 silam, dikisahkan pasukan polisi menyerbu sebuah gedung di Jakarta dengan tujuan utama menaklukkan komplotan bandit. Aktor-aktor kenamaan Indonesia terlibat di dalamnya, seperti Iko Uwais dan Donny Alamsyah. Namun, pada versi Carnahan, polisi akan menangkap penjahat, tapi nggak di gedung seperti yang diceritakan The Raid.

Alasan dibuatnya Zeno

Zeno, meskipun diceritakan dengan karakter dan alur yang berbeda, tapi tetap memiliki premis yang relatif sama dengan sekuel The Raid sebelumnya. Sebelum diberi judul berbeda, Grillo mengaku sangat tertarik untuk membuat kelanjutan cerita dari The Raid, tapi dengan versi Hollywood.

Ketertarikan Grillo dalam membuat Zeno salah satunya karena memiliki kedekatan dengan Iko Uwais. Mereka pernah menjalani proses syuting bersama untuk Beyond Skyline di Batam. Grillo juga mengagumi Iko lewat film action-nya. Keputusan Grillo dalam membuat sekuel The Raid, sebelum diubah judul menjadi Zeno, diumumkan lewat akun Twitter-nya. Pada tweet-nya, Grillo menyatakan sudah mengantongi persetujuan dari Gareth Evans, sutradara sebelumnya.

Ketenaran The Raid

 

Lahirnya Zeno nggak luput dari kesuksesan The Raid, film Indonesia yang pertama kali dapat tayang di Toronto International Film Festival. Bisa dibilang, The Raid adalah film action pertama asal Indonesia yang bisa menembus pasar mancanegara. Antusiasme dan euforia yang tercipta benar-benar menyebar di banyak tempat.

Di Festival film Toronto, The Raid mendulang banyak pujian dari para kritikus film. Nggak hanya itu, The Raid juga berhasil menggondol penghargaan The Cardillac People’s Choice Midnight Madness Award di ajang yang sama. Nggak sampai di situ, The Raid juga diputar di beberapa festival serupa seperti Festival Film Sundance Amerika, Festival Film Internasional Dublin Jameson Irlandia, dan Festival Film Busan.

Kesuksesan The Raid itu lah yang membuat Grillo tertarik untuk membuat adaptasinya, meski dengan judul yang berbeda. Jadi, sudah siap untuk nonton Zeno?