• Music News
  • Dedikasi 20 Tahun Eric Wirjanata Rawat Webzine Deathrockstar

Dedikasi 20 Tahun Eric Wirjanata Rawat Webzine Deathrockstar

Wed, 22 January 2020
Eric Wirjanata ketika berada dalam studio rekaman

Dunia musik dalam pemberitaan media memang tidak semasif entertainment yang membahas selebriti dan berbagai gosip di dalamnya. Seringkali, orang-orang yang membuat media musik di Indonesia harus mempersiapkan diri untuk tidak berekspektasi tinggi, sulit mendulang profit, dan harus siap menerima resiko berhenti di tengah jalan. Jika bukan karena sisi idealis seorang Eric Wirjanata, mungkin web magazine (webzine) Deathrockstar sudah menyerah dan gulung tikar.

Bertahan selama kurang lebih 20 tahun, para pelaku dan penikmat musik di Indonesia tentu sudah amat familiar dengan Deathrockstar. Eric Wirjanata, tokoh kunci di baliknya, secara konsisten mendedikasikan diri untuk berkontribusi pada pengembangan musik indie di tanah air. Simak yuk perjalanan Eric membesarkan Deathrockstar hingga eksis sampai saat ini!

 

Kelahiran Deathrockstar

Tampilan webzine Deathrockstar yang rapi dan minimalis

Pada awal era 2000an, masih belum banyak media online yang meliput dunia musik. Ada pun media musik kala itu banyak berupa tabloid atau majalah. Eric sempat berkeinginan untuk bekerja di redaksi majalah. Namun, ia nggak ingin menghabiskan waktu terlalu banyak di tempat kerja. Sampai suatu hari dia menemukan zine fotokopi yang bisa dijadikan ruang untuk menulis santai.

"Nemu zine-zine fotokopian, lalu saya pikir ini lebih menarik untuk menyalurkan keinginan 'kerja' di media. Ya udah aja, abis zine, terus pas banget Geocities, dan kemudian Wordpress mulai muncul. Jadi deh, kelahiran webzine Deathrockstar," ungkap Eric.

Tujuan awal Eric memulai Deathrockstar hanya karena tertarik dan ingin bikin media semata. Dia ingin menyalurkan keinginan untuk bergelut di dunia media dengan menulis di webzine-nya sendiri. Namun seiring berjalannya waktu, banyak teman-teman band Eric yang mengaku kalau mereka kesulitan untuk diulas media. Apalagi, saat itu belum banyak media yang mengangkat berita tentang band indie lokal.

"Ya udah, target awal tuh mengarsip rilisan lokal via review. Lalu, target ini berubah terus seiring waktu. Sekarang gue lagi target untuk menambah lebih banyak arsip gigs. Tahun depan belum tahu," sambung Eric.

 

Animo Pelaku dan Penikmat Musik Menyambut Deathrockstar

Di awal berdirinya, Deathrockstar sudah berhasil menyedot perhatian para pelaku dan penikmat musik, terutama musik lokal. Antusias para pembaca sangat bagus, karena memang belum ada media yang didedikasikan khusus untuk meliput skena musik. Seiring berjalannya waktu, Deathrockstar pun makin dikenal, sampai sekarang dianggap menjadi ‘dedengkot’ musik indie nasional.

"Ditambah lagi, masa itu gue sangat sok tahu, jadi memantik respon yang beragam banget dari pembaca," ungkap Eric disambung tawa. Di tiga bulan pertamanya, Deathrockstar berhasil membuat Eric terkagum, karena apa yang terjadi memang di luar ekspektasinya. Webzine yang awalnya dibuat hanya untuk mencuri perhatian, ternyata berhasil dan bahkan lebih dari itu, Deathrockstar seperti menjadi candu para pelaku dan penikmat musik. Melihat keberhasilan tersebut, semangat Eric pun membara.

"Target awal kita cuma cari atensi aja, tapi rupanya sangat lebih. Bensinnya cukup sampai sekarang," ujarnya.

 

Perjalanan Satu Dekade yang Materialis

Di lima tahun pertamanya, ada banyak sekali hal baru bagi Eric dalam perjalanannya bersama Deathrockstar. Milestone pertama adalah mendapat ID liputan untuk event musik. Datang ke setiap konser musik tentu saja seru dan memang hal yang menyenangkan bagi Eric. Di rentang tahun itu juga, dia banyak menerima kiriman CD rilisan album dari band-band lokal sebagai bahan artikel review.

Deathrockstar juga sempat bikin acara sendiri dalam lima tahun pertama keberadaannya di dunia media. Eric secara pribadi akhirnya sering diundang untuk jadi juri di banyak festival musik. Seiring dengan bertumbuhnya Deathrockstar, bertumbuh pula band-band lokal di Indonesia. Melihat hal tersebut, Eric merasa senang. Bagi para musisi lokal, tentunya Deathrockstar juga punya pengaruh dalam membesarkan mereka.

Di tahun keenam menuju kesepuluh, perjalanan Deathrockstar sedikit berubah. Webzine ini mulai bisa menghasilkan uang dari masuknya brand yang menggandeng untuk bekerjasama. Karena terlalu fokus mencari uang sampai lupa waktu, Eric merasa di tahun-tahun tersebut segalanya berjalan melenceng dan tidak sesuai dengan misi awalnya mendirikan Deathrockstar.

 

Konsisten Hingga Dua Dekade

Eric berfoto bersama sebelum meliput gigs musik

Menuju dua dekade, Eric memutuskan untuk fokus saja menikmati proses dokumentasi. Datang ke gigs atau mendengarkan album baru dari segala macam band lokal di Indonesia, dan menuliskan apa yang ingin diungkapkan dalam webzine sebagai arsip. Itulah rahasianya memelihara eksistensi Deathrockstar hingga bertahan di tahun ke-20. "Duit nomer dua. Kalau sekarang, hidup dari kerjaan sehari-hari dan merchandise," ungkap Eric.

Dalam perjalanannya sepanjang ini, nggak mungkin jika Eric nggak pernah merasa bosan. Namun, semangatnya untuk memberi ruang bagi para musisi lokal yang ingin berkembang, sangatlah besar. Energi utama agar Deathrockstar tetap hidup, tentu saja datang dari musik. Musik menghidupkan Eric, dan Deathrockstar menghidupkan musik. Simbiosis mutualisme.

"Misal mulai bosan, tiap dengar musik baru yang asik tuh bikin segar lagi. Gitu aja terus selama 20 tahun," jelasnya.

Hari ini Eric memilih untuk mengisi Deathrockstar dengan konten seputar pengalaman pribadinya terkait musik, seperti bikin reportase gigs yang didatangi, atau review album dari band-band yang belum pernah didengar sebelumnya. Akan seperti apa lima tahun ke depan, Eric pun belum tahu. Meski begitu, dia masih punya banyak harapan untuk Deathrockstar.

"(Harapannya) Deathrockstar masih ada, saya masih bisa ke gigs dan festival, main makin jauh," ujarnya.

Nah Urbaners, kalau lo nggak mau ketinggalan update tentang berita musik A-Z di Indonesia, lo juga bisa pantengin webzine Deathrockstar.club dan di Instagram-nya @deathrockstar

 

The Strokes Rilis Album Baru Setelah 7 Tahun

Thursday, February 20, 2020 - 14:47

Jika lo pencinta musik rock, terutama lagu-lagu dari The Strokes, nggak lama lagi lo akan bisa mendengarkan karya-karya baru mereka dalam album teranyar The New Abnormal. Band yang dibentuk sejak 1998 itu segera mengeluarkan album terbaru, dengan formasi lengkap Albert Hammond Jr, Fabrizo Moretti, Julian Casablancas, Nikolai Fraiture, dan Nick Valensi.

Album The New Abnormal

The Strokes mengumumkan tanggal rilis album pada acara kampanye Bernie Sanders di New Hampshire

Setelah tujuh tahun vakum, akhirnya album baru dari The Strokess dirilis dengan judul The New Abnormal. Frasa The New sendiri mengacu pada sesuatu yang baru, setelah sekian lama nggak ada album yang dikeluarkan. The New Abnormal merupakan album ke-6 milik band rock asal New York Amerika Serikat itu. Dalam momentum ini, The Strokes menyanyikan dua lagu yang ada pada album barunya.

Album The New Abnormal akan dirilis pada April mendatang. Pengumuman ini disampaikan Selasa 11 Februari lalu, tepatnya beberapa jam setelah menghadiri kampanye calon presiden Bernie Sanders di New Hampshire. Album The New Abnormal berisi sembilan lagu, diantaranya The Adults are Talking, Bad Decisions, At the Door, dan Why Are Sundays So Depressing.

Rilis Video Klip

Beberapa video klip dari lagu yang ada pada album The New Abnormal sudah bisa ditonton di kanal YouTube. Satu diantaranya adalah At the Door. Lagu ini menjadi satu diantara sekian lagu di dalam album yang dikerjakan di Shangri-La Studios, California. Lagu At the Door sendiri dirilis pada 14 Februari lalu, bertepatan dengan Hari Valentine. Lo akan merasakan tabuhan drum Fab Moretti yang benar-benar menghentak. Ini akan mengobati rasa kangen akan musik pop rock dengan suara drum yang menderu.

 

Kepastian Rilis Album

Kerinduan pada genre musik rock membuat The Strokes sudah berencana sejak tahun lalu untuk menelurkan album barunya. Tahun lalu, band yang digawangi Albert Hammond Jr, Fabrizo Moretti, Julian Casablancas, Nick Valensi, dan Nikolai Fraiture ini sudah memberikan pernyataan langsung tentang rencana peluncuran album baru. Bahkan di akhir 2019, band asal New York ini sempat menyanyikan The Adults Are Talking, salah satu lagu yang ada di album terbaru mereka.

Pada momen itu, Julian mengatakan bahwa tahun 2020 akan ada sebuah kejutan atau surprise untuk para fans. Ini membuat penggemar memiliki kepastian, setelah terdengar kabar burung sejak September 2019 tentang peluncuran album. Album ke-enam yang akan dirilis April mendatang akan melanjutkan diskografi setelah album Comedown Machine yang dirilis tujuh tahun lalu. The Strokes juga pernah merilis Future Present Past EP pada 2016, tapi dalam bentuk mini album yang hanya berisi empat lagu.

Setelah mendapat kepastian tentang tanggal rilis album ke-7 dari The Strokes, sudah siapkah untuk mendengarnya?

Source: Billboard, Kumparan, Matamatamusik