• Music News
  • Selamat Jalan Ikon Jazz Indonesia, Benny Likumahuwa

Selamat Jalan Ikon Jazz Indonesia, Benny Likumahuwa

Wed, 10 June 2020
Benny Likumahuwa mengenakan pakaian putih sambil meniup flute

Berita duka kembali menyelimuti dunia musik Indonesia, kali ini musik jazz begitu merasa kehilangan sosok musisi legendaris yang sudah aktif sejak tahun 1950-an. Benny Likumahuwa meninggal pada hari Selasa (9/6) di usia ke-73 tahun. Selama hampir 5 dekade, beliau begitu berperan aktif dalam membentuk musik jazz sebagaimana yang sekarang lo nikmati.

Benny Likumahuwa tersenyum sambil memetik senar bass di atas panggung

Sang legenda musik jazz, Benny Likumahuwa, menghembuskan nafas terakhirnya pada Selasa pagi (9/6), tepatnya pukul 08.30 WIB. Berita ini dikonfirmasi langsung oleh pengamat musik Adib Hidayat melalui akun Twitter-nya serta melalui pesan yang disampaikan oleh manajer Barry Likumahuwa, sang anak.

 

Sepak Terjang dalam Blantika Musik

Benny Likumahuwa mengenakan pakaian serba hitam dan topi memainkan flute

Sempat berkarya sendiri sejak tahun 1957, Benny Likumahuwa akhirnya ikut membentuk band The Rollies. Ia pun langsung menjadi “guru” bagi para member The Rollies karena kemahirannya dalam menulis dan membaca musik. Terlebih lagi, Benny Likumahuwa bisa dengan lincah memainkan berbagai alat musik, seperti bass, gitar, piano, trombone, seruling, hingga klarinet.

Mulai dikenal bersama The Rollies nggak membuat Benny Likumahuwa bersantai saja. Ia juga ikut tergabung dalam The Augersindo, The Jazz Riders, Jack Lesmana Combo, dan Trio ABC semasa karirnya. Sang legenda musik sibuk pergi dari satu festival jazz ke festival musik lainnya, baik di Asia maupun Eropa.

 

Kecintaannya Terhadap Musik

Benny Likumahuwa meniup trombone, dilihat oleh sang anak Barry Likumahuwa

Almarhum Benny Likumahuwa menjadi salah satu musisi yang menggaungkan genre musik jazz ke Tanah Air sejak tahun 50-an. Kematiannya nggak semata-mata menghapus memori dan karyanya, tetapi harus selalu diingat bahwa jazz Indonesia sekarang ini nggak lepas dari kehebatan Benny Likumahuwa.

“Senangnya ini grup memajukan grup yang lain. Seperti, jangan kaget itu God Bless yang bikin kita. Mereka ingin bikin grup, kita bantu pakai alat, semua lagu yang mereka pilih kita bantu,” ujar Benny Likumahuwa dalam program Shindu’s Scoop di tahun 2019.

Komitmen beliau dalam mengembangkan industri musik pun juga bisa dilihat dari kerja kerasnya membentuk tim perencana GladiResik Music Lab, mendidik para murid untuk mahir bermusik dan siap menjadi musisi profesional. Selamat jalan Mas Benny, musik jazz Indonesia tentunya semakin berwarna dengan karya-karyamu.

 

 

 

Sources: CNN, Kompas, Warta Kota

Konsep Retro, Vintage, dan Pesona Prancis di Setiap Melodi Vira Talisa

Tue, 14 July 2020
Vira Talisa dengan tampilan rambut updo sedang bercermin, mengenakan blouse putih dengan garis abu dan kuning

Cantik, unik, dan bertalenta, Vira Talisa membawa angin segar bagi musik Indonesia, terkhusus dalam musik indie. Dara kelahiran Jakarta yang satu ini ternyata merupakan lulusan Visual Art dari Universitas Rennes, Prancis.

Selama 4 tahun menimba ilmu di negara asing, selepasnya Vira memutuskan untuk fokus bermusik. Baru saja merilis album terbaru “Primavera”, Vira Talisa siap untuk memanjakan telinga pendengar #MumpungLagiDirumah dengan lantunan lagu retro-pop yang manis.

 

Berawal dari Visual Art hingga Bermusik

Vira Talisa menyanyi dengan mic, mengenakan kemeja biru dan topi berwarna orange

Seni dan bermusik merupakan dua hobi seorang Vira Talisa. Sempat terpikir untuk mengambil jurusan musik, namun niat tersebut diurungkan karena takut malah membuat musik jadi terasa seperti “pekerjaan” yang nggak lagi bisa dinikmati dengan santai.

Walau memang seni dan musik merupakan dua hal yang berbeda, Vira merasa justru pengalamannya saat berkuliah menjadi bekal untuk ia menjadi penyanyi, sekaligus mendorongnya untuk benar-benar menggeluti musik. Menggeluti seni secara akademis, dan musik di luar aktivitas akademisnya membuat Vira merasa kedua jalan hidupnya tersebut selaras.

 

Prancis dan Setiap Kenangan di Sana

Salah satu cover single Vira Talisa, mengenakan straw hat dan sarung tangan kulit berwarna hitam

Kalau berbicara soal negara Prancis, pasti yang ada di benak lo adalah suasana romantis di sepanjang sungai Seine dan gemerlap menara Eiffel. Itu juga suasana yang ingin diciptakan oleh Vira lewat musik-musiknya, termasuk juga album terbarunya bertajuk Primavera yang berarti musim semi. Selama Vira berada di Prancis, ia juga masuk ke dalam komunitas dan pertemanan yang memiliki minat musik yang serupa.

Vira merasa klik dengan referensi musik retro-pop yang didapatkannya selama di Prancis. Begitu pula dengan hasil belajar yang ia tekuni di Prancis. Meski mengambil jurusan Visual Art, nyatanya di dalamnya juga mencakup bidang sastra dan film, di mana akhirnya Vira juga mampu mengasah pemahamannya akan musik sebagai salah satu komponen film.

 

Terinspirasi dari The Beach Boys dan Soundtrack Film Klasik

Vira Talisa sedang duduk di sofa sambil menulis di buku berwarna orange

Kiprah bermusik Vira benar-benar dimulai sejak nol, berawal dari sekadar meng-upload hasil cover lagu di platform Soundcloud. Hingga akhirnya, Vira pun berhasil merilis album self-titled di tahun 2016. The Beach Boys menjadi salah satu panutan Vira dalam bermusik dan musisi yang memperkenalkan Vira ke musik dengan genre retro.

Nggak hanya The Beach Boys saja, Vira juga jatuh cinta dengan konsep vintage dan genre pop-retro melalui soundtrack film garapan Jean-Luc Godard, seperti “Singing in the Rain”. Film-film klasik di era 30-an dan 60-an menjadi inspirasi bagi musikalitas Vira Talisa.

 

Dukungan Manis dari Orang Tercinta

Vira Talisa menyanyi di atas panggung dengan dress hitam

Dibesarkan di keluarga pencinta musik, Vira Talisa ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan legenda musik Eyang Titiek Puspa. Keluarganya sering mendengarkan lagu-lagu karya Everly Brothers dan The Beatles yang membuat Vira sebagai sosok old soul dengan kemampuan bermusik yang nggak perlu diragukan lagi.

Dalam album Primavera yang berisikan delapan lagu, ada satu lagu berjudul “He’s Got Me Singing Again” yang menceritakan sosok sang kekasih, Radityo Joko Bramantyo. Bagi Vira menulis lirik dan menggarap musik itu adalah ekspresi paling jujur yang bisa dimiliki seseorang. Sekarang, album Primavera sudah bisa didengarkan di berbagai platform streaming. Vira juga sedang fokus untuk merilis album fisik dan tetap melahirkan tembang-tembang retro-pop.

 

 

 

Sources: Medcom.id, CNN Indonesia, Liputan 6.