• Music News
  • Romantic Echoes Hadirkan Single "Permataku" dengan Penuh Cinta

Romantic Echoes Hadirkan Single "Permataku" dengan Penuh Cinta

Mon, 11 May 2020
Romantic Echoes tawarkan genre musik pop yang berbeda

Mendengarkan lagu-lagu pop romantis kekinian sudah jadi hal biasa. Tapi, gimana rasanya mendengarkan musik pop dengan gaya era tahun 60-an? Lo bisa mendapatkan sensasi unik ini dari pendatang baru, Romantic Echoes. Karya-karya yang dibawakan sungguh menarik, karena mengusung genre yang nggak banyak dipilih orang. Baru-baru ini, Romantic Echoes juga merilis single berjudul “Permataku” yang siap menghibur lo semua.

Seperti apa proses perjalanan bermusik Romantic Echoes dan apa cerita di balik single Permataku? Yuk, kupas habis kisahnya di sini!

 

Berawal dari Project Rahasia

Nama Romantic Echoes diambil dari kata-kata favorit Alfredo

Buat lo pencinta lagu-lagu pop romantis yang bosan dengan lagu di pasaran, coba deh lirik karya unik dan otentik dari pendatang baru, Romantic Echoes. Terbentuk tepat pada tanggal 1 Januari 2020, Romantic Echoes awalnya hanya sebuah project musik rahasia milik J Alfredo, gitaris dan vokalis grup indie pop PIJAR. Seiring berjalannya waktu, ia kemudian memutuskan untuk membawa project musik ini agar dapat dinikmati masyarakat dan pencinta musik pop era 60-an.

"Romantic Echoes sebenarnya lahir dari karya-karya yang sebelumnya udah pernah gue buat dan gue simpan sendiri untuk koleksi pribadi. Beberapa karya lagu dengan tema percintaan sering gue buat di dalam kamar. Sampai akhirnya gue ngerasa karya-karya ini udah saatnya keluar dari kamar biar bisa sampai ke telinga pencinta musik Tanah Air," ujar Alfredo.

Romantis Echoes terdiri dari J Alfredo (Vocal, Synthesizer, Guitar), Heston (Synthesizer, Piano, Guitar), dan Raveizal Ario (Guitar). Meski terbilang pendatang baru, Romantic Echoes sudah meluncurkan 3 single, yaitu Permataku, “Arungi“, dan “Tentang Bunga“. Pada bulan Juni mendatang, Romantic Echoes juga berencana akan mengeluarkan album perdana, dengan kolaborasi bersama dua musisi ternama lain.

Asal nama project Romantic Echoes juga terbilang cukup unik. “Romantic dan Echoes adalah dua kata favorit saya sejak dulu. Ketika digabungkan, Romantic Echoes membentuk makna yang baru. Saya sangat menyukai nama-nama yang turut menyertakan orang-orang di sekitarnya,” jelas Alfredo menjelaskan asal-usul di balik nama grupnya.

 

Tawarkan Genre Musik Pop Era 60-an

Romantic Echoes selalu tampil dengan gaya era 60-an

Mungkin generasi muda saat ini belum terlalu familiar dengan genre musik tahun 60-an. Di zaman tersebut, musik pop dengan unsur psikedelia berada di puncak kejayaannya. Tren ini berlangsung sampai dengan tahun 1970-an, di mana aliran pop psikedelia mulai turun pamor dan digantikan dengan genre lain.

Di sinilah letak utama keunikan Romantic Echoes. Alfredo berani membalut musik pop dengan sentuhan psikedelia era 60-an yang mendayu dan berirama khas. Tentu, musik niche seperti ini akan terdengar asing bagi para milenial. Karena itulah, dalam beberapa single-nya, Romantic Echoes tetap mengkombinasikan ritme musik pop masa lalu dengan unsur rock dan elektronik masa kini.

Hasilnya, karya-karya melankolis Romantic Echoes tampil dalam kemasan baru: tetap fresh, asyik, dan bisa dinikmati semua kalangan penikmat musik. Buat lo yang selama ini akrab dengan karakter musik dari The Zombies, The Decemberist, The Divine Comedy, atau Tindersticks, pasti bakal langsung jatuh cinta dengan karya Alfredo lewat Romantic Echoes-nya.

 

Proses Kreatif Pembuatan Single Permataku

Single Permataku diterbitkan pada bulan Februari

Diluncurkan pada bulan Februari 2020, proses kreatif pembuatan lagu single Permataku sebenarnya berawal sejak tahun 2014. Permataku adalah sebuah lagu yang sudah lama jadi, namun masih melalui banyak proses pergantian aransemen dan lirik. Suatu hari, Alfredo menemukan karya Permataku dan serius menjadikannya lagu yang lengkap. Karya yang satu ini bercerita tentang hubungan pasangan yang telah berakhir, lalu kembali dipertemukan di suatu waktu.

“Single Permataku nggak hanya mengupas kisah senang dan sedih yang terjadi pada sebuah hubungan secara ringkas. Lagu ini juga menceritakan pertemuan kembali kedua insan, yang membuatnya menjadi sebuah ungkapan istimewa,” ungkap Alfredo. Dari lagu Permataku, lo juga bisa melihat gambaran sisi lain Alfredo ketika memandang cinta. Liriknya yang syahdu juga bisa bikin lo relate dengan dinamika hubungan putus-nyambung yang mungkin pernah dialami.

Lagu apik ini dirangkum dalam durasi 4 menit 38 detik yang menghadirkan permainan gitar yang melankolis dipadu dengan karakter vokal Alfredo yang lembut. Sajian synthesizer yang pas di bagian akhir membuat single dengan tema perpisahan ini sangat berkarakter. Alfredo mampu menampilkan sebuah karya yang jujur dan secara keseluruhan menjadi sebuah proyek musik yang patut diapresiasi. 

Buat lo yang suka dengan genre musik pop era 60-an, pilihan lagu Romantic Echoes bisa jadi referensi untuk menikmati tema lagu cinta klasik di masa lalu. Penasaran sama karya-karya Romantis Echoes? Langsung aja cek Instagram mereka di @romanticechoes!

 

 

The Chainsmokers akan Jadi Host untuk Festival EDM Virtual Pertama

Fri, 29 May 2020
Salah satu penampilan panggung The Chainsmokers

Di tengah pandemi, banyak banget festival musik yang dibatalkan dan para musisi dengan kreatifnya menghadirkan konser virtual yang bisa lo nikmati #MumpungLagiDirumah saja. Konser virtual EDM yang diselenggarakan oleh Sirius XM ini diberi judul DisDance. Sekilas terdengar seperti “distance,” sesuai dengan kondisi terkini kita semua. Festival EDM virtual pertama ini dibawakan langsung oleh The Chainsmokers.

 

Akan Berlangsung Selama Tiga Hari

Andrew Taggart dan Alex Pall tersenyum ke kamera dalam salah satu panggung mereka

Keseruan dari festival virtual DisDance ini berlangsung selama tiga hari. SiriusXM secara eksklusif menunjuk Andrew Taggart dan Alex Pall dari The Chainsmokers untuk meramaikan festival EDM ini dari rumah mereka. Festival EDM ini berlangsung pada 22 hingga 24 Mei 2020 lalu. Disiarkan secara langsung dari saluran BPM milik SiriusXM.

Festival virtual ini sukses jadi obat rindu para pecinta musik EDM dan yang nggak bisa kemana-mana, apalagi seru-seruan di festival dalam waktu dekat. Apalagi set musik EDM dimainkan dalam waktu yang cukup panjang, yakni tiga hari di akhir pekan. Waktu yang tepat Bro buat bersenang-senang dan melepas penat sejenak.

 

Jadi Bentuk Support untuk Industri Musik

Penampilan spektakular The Chainsmokers dengan tembakan kembang api dari sisi panggung

Festival virtual ini juga dilengkapi dengan set eksklusif milik Avicii di tahun 2011. Sedikit banyak dapat mengobati para penggemar musisi dengan nama asli Tim Bergling yang meninggal di tahun 2018 lalu. Set yang dijadikan penghormatan pada musisi EDM yang satu ini disambut positif para penggemar musik EDM.

Nggak hanya itu, panggung EDM virtual ini juga akan menyumbangkan keuntungan serta sejumlah donasi bagi MusicCares. Tujuannya untuk dapat mendukung para pekerja di industri musik yang membutuhkan dan terdampak dari adanya pandemi ini. Apalagi mengingat nggak ada lagi konser dan festival yang diadakan, beberapa pekerja di industri musik juga ikut merugi tanpa ada pekerjaan selama pandemi.

 

Line Up Musisi EDM Terbaik

Alex Pall dan Andrew Taggart berpose dengan apparel serba hitam

Nggak hanya dibawakan oleh musisi EDM terbaik seperti The Chainsmokers saja, Bro. Festival EDM virtual yang sudah berlangsung ini diramaikan jejeran musisi EDM yang nggak kalah keren dan eksklusif pula. Termasuk juga musisi-musisi EDM dengan nama besar seperti Afrojack, Alesso, Armin van Buuren, Gryffin, Kaskade, Krewella, Kygo, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Nggak lupa juga musisi EDM yang populer dan lagu-lagunya banyak jadi hits, seperti Major Lazer, Marshmello, Martin Garrix, Steve Aoki, juga Tiësto. Ada juga set ekslusif milik Avicii yang tadi sempat disebutkan di atas. Ini adalah penampilan Avicii dalam acara eksklusif milik SiriusXM di tahun 2011.

Kebayang ya betapa serunya festival EDM yang disiarkan dari set masing-masing line up musisi EDM ini. Tujuannya pun nggak semata-mata untuk menghibur lo yang ada di rumah atau mengobati kerinduan lo akan ramainya suasana festival EDM. Tetapi sekaligus juga membantu dan memberi kontribusi berarti di tengah pandemi yang sedang berlangsung ini.

 

 

 

Sources: The Billboard, TicketNews, SiriusXm