Efek Rumah Kaca – Jalan Enam Tiga

Wed, 01 April 2020
Efek Rumah Kaca – Jalan Enam Tiga

“Jalan Enam Tiga adalah mini album perdana Efek Rumah Kaca. Perlu tiga tahun lebih sedikit untuk mereka menyelesaikan kumpulan karya baru. Mini album berisi empat lagu ini direkam di New York, Amerika Serikat pada tahun 2019 yang lalu dan baru dirilis akhir Januari 2020.

Jalan Enam Tiga diambil dari salah satu lagu berjudul sama yang juga merupakan nama jalan yang diadaptasi dari semesta film seri terkenal “Sesame Street. Hal pertama yang menarik, pemain bas Poppie Airil mulai berkontribusi dalam penulisan lagu.

Secara umum, Efek Rumah Kaca mengambil pendekatan yang lebih santai ketimbang Sinestesia yang megah dan begitu solid dari konstruksi musik. Jalan Enam Tiga, lebih sederhana dan mengembalikan mereka ke format musik yang ringan. Namun, kendati bunyinya terasa ringan, kandungan cerita yang dibawa sama sekali tidak kehilangan arti.

Eferk Rumah Kaca

Di sinilah, standar karya Efek Rumah Kaca berbicara dengan sendirinya. Di lagu ‘Normal yang Baru, misalnya. Dengan begitu tegas, mereka memotret kecenderungan hidup yang makin sesak dan berputar dengan kecepatan yang begitu tinggi. Sekaligus menghadirkan kenyataan pahit bahwa sesungguhnya ia begitu dimaklumi sebagai titik normal yang baru dan bisa ditolerir.

 

Begini bunyi liriknya:

Kita amat sibuk, teramat sibuk
Biar saja jadi normal yang baru
Kita amat sibuk, teramat sibuk
Biar saja jadi nilai yang baru
Kita amat sibuk, teramat sibuk
Biar saja jadi haluan baru
Kita amat sibuk, teramat sibuk
Biar saja jadi normal yang baru…

 

Hal yang sama kemudian muncul kembali di sisi egaliter Jalan Enam Tiga yang memang jadi milik semua orang dengan berbagai macam latar belakang kepentingan. Penyatunya adalah niat yang sama untuk berkunjung menuntaskan kecintaan pada Sesame Street. Mungkin, analoginya mirip seperti berfoto di Tugu Jogjakarta yang memang menjadi hak semua orang dan sering dilakukan sebagai pertanda jejak kaki di kota tersebut.

Efek Rumah Kaca

 

Begini bunyi liriknya:

Macam gaya busana dan gaya bicara
Tidak direkayasa jadi diri mereka
Eropa, Australia, Asia, Afrika
Amerika Utara, Latin dan Karibia

Jalan Enam Tiga, semua merdeka
Boleh berbeda, ekspresikan saja
Tak ada bigotnya, tak ada demagognya
Bukan rekaan, ini kenyataan...

 

Kemampuan merekam keadaan dengan standar tertentu itulah yang selalu bisa kita rasakan dari mendengarkan karya-karya Efek Rumah Kaca. Mungkin, durasi karya ini hanya lima belas menit lebih sedikit. Memang singkat, tapi sesungguhnya ia adalah darah baru yang memperpanjang alasan kita semua mencintai band ini. 

 

Foto: Dok. Efek Rumah Kaca

Penulis:Felix Dass

Club Eighties: Secukupnya, Sesuai Visi

Tue, 21 July 2020
(kiri ke kanan) Sukma Perdana Manaf, Cliffton Jesse Rompies, Lembu Wirowo, Jati

Keterangan: (kiri ke kanan) Sukma Perdana Manaf, Cliffton Jesse Rompies, Lembu Wirowo, Jati

Sudah nyaris dua puluh tahun sejak debut album fenomenal yang juga berjudul “Club Eighties resmi dirilis tahun 2001. Sepanjang dua dekade itu, Club Eighties berhasil tetap hidup kendati ada banyak persoalan melanda.

Album penuh kelima mereka, “80 Kembali dirilis 2009. Berarti sudah sekitar sebelas tahun yang lalu. Tapi, selama itu absen, selama itu pula mereka dirindukan.

Dengan rentang karir yang panjang, bisa dipastikan penggemar-penggemar mereka bertumbuh bersama. Tiga orang personil yang tersisa dari line up original mereka, Lembu (vokal), Cliff (gitar), dan Yton (keyboards) masih bermain bersama. Kendati tidak sering muncul, tapi Club Eighties tidak pernah undur diri dari panggung megah industri musik Indonesia.

Musik mereka tetap sama, memainkan influence berat dari pop 80-an. Kendati sebenarnya, masing-masing personil tetap membuka diri pada perkembangan musik di sekitar.

“Kita belajar banyak tentang trend musik. Gue sempat bilang sama anak-anak, ‘Lupakan bahwa dulu kita pernah ada di sana. Karena itu yang membuat kita merasa nyaman’,” kata Lembu mewakili dua lainnya.

Personel Club Eighties berpose dengan latar berwarna biru

Sebagai band dengan usia karir yang panjang, begitu banyak hal mampir ke dalam tubuh Club Eighties. Termasuk perpisahan dengan dua orang personil lama, Vincent dan Desta. Di 2019 kemarin, kedua personil lama ini sempat naik panggung di dua pertunjukan penting yang dimainkan oleh Club Eighties. Tidak sedikit pula yang menyangka bahwa mereka akan kembali beranggotakan lima orang di dalam line up-nya.

Kedua penampilan itu, berhasil membawa romantika masa lalu kembali ke tengah-tengah industri musik Indonesia. Meskipun sifatnya hanya temporer. Banyak yang menduga bahwa kedua penampilan itu didasari oleh angka ekonomi yang banyak. Yang kemudian dengan cepat ditampik oleh Lembu.

“Kita sebenarnya akan susah kalau main gara-gara uang. Kita dari awal satu visi, yang sama-sama menyamakan kita adalah visi kita nggak di musik,” katanya melanjutkan penjelasan.

Itu juga kenapa kemudian kita tidak akan sering-sering mendengar kabar baru dari Club Eighties. Visi bahwa musik bukan pilihan utama sekarang, sepertinya perlu dihargai. Masing-masing personilnya punya kehidupan lain yang sedang dijalani.

Main sekali-kali, rasanya jadi pilihan yang cocok. “Zaman nggak bisa dilawan, tapi harus diajak berkawan,” kata Lembu di MLDpodcast. Itu rasanya kenapa kabar dan jejak langkah Club Eighties sekarang ini, terkesan secukupnya saja.