Jazz di Dekade 70-an: Ini Cikal Bakal Indonesian City Pop! - MLDSPOT
  • Music Profile
  • Jazz di Dekade 70-an: Ini Cikal Bakal Indonesian City Pop!

Jazz di Dekade 70-an: Ini Cikal Bakal Indonesian City Pop!

Sat, 27 March 2021
Musik Jazz

Perkembangan musik di Indonesia saat ini emang nggak terlepas dari sejarah dan gimana perjuangan musisi zaman dulu. Nggak cuma sekedar sejarah aja, ternyata ada banyak momentum penting dalam dunia musik yang perlu untuk lo ketahui.

Kalau beberapa minggu lalu ngebahas tentang gimana perkembangan musik pop di era 80-an yang akhirnya saat ini melahirkan #LaguBaruDariMasaLalu, ternyata musik jazz punya peran yang juga cukup penting terhadap perkembangan musik di Indonesia - salah satunya Indonesian City Pop.

Kontribusinya musik jazz di industri musik Indonesia juga nggak terlepas dari musisi-musisi berbakat kala itu dan punya sejarah tersendiri. Dari pada penasaran gimana perkembangan musik jazz di Indonesia, langsung aja simak ulasan lengkapnya di bawah ini, bro!

Jazz sebagai Musik Kaum Elit

Musik Jazz

Credit image - Wikipedia, 1920s in Jazz

Sekarang kalo dengerin musik jazz rasanya bukan sesuatu yang mewah, tapi lo tau nggak, bro – kalo pada awal kemunculannya, musik jazz dianggap sebagai musik yang hanya boleh dinikmati oleh kaum kelas atas alias elit!

Hal ini dikarenakan alat musik yang digunakan dalam musik jazz dianggap rumit – seperti terompet, piano, dan saksofon. Para kaum awam menganggap bahwa dengan alat musik yang rumit ini akhirnya musik yang dihasilkan pun menjadi lebih berkelas dan sulit dipahami oleh masyarakat – nggak seperti alunan musik pada umumnya.

Di Indonesia sendiri, musik jazz masuk pada tahun 1919 melalui The American Jazz Band yang piringan hitamnya diperkenalkan di Batavia. The American Jazz juga jadi musisi jazz pertama yang datang ke Indonesia.

Perkembangan Jazz di Indonesia

Setelah masuk di tahun 1919, perkembangan musik jazz di Indonesia cukup mengalami pasang surut. Awal dekade 50-an menjadi titik balik di mana musik jazz mulai berkembang. Hal ini ditandai dengan kehadiran Chen Brothers dari Surabaya. Chen Brothers dibentuk oleh Teddy Chen – sebagai pemain klarinet; Nico pada drum, bass oleh Joppie dan Bubi pada piano.

Jack Lesmana pun ikut berperan sebagai additional players dari band ini. Di kemudian hari, didukung oleh rekan sesama musisi, Jack membuat musik jazz di Indonesia dengan musik yang lebih ramah di telinga masyarakat dan trendy pada era 70-an - yaitu musik-musik yang dipengaruhi oleh dari AOR –yang sempat dibahas beberapa waktu lalu.

Jack Lesmana dan Modernisasi Musik Jazz

Musik Jazz

Credit image - Arsip Irama Nusantara

Setelah hadir sebagai additional players dari Chen Brothers, Jack Lesmana melahirkan sejumlah klub para musisi jazz Indonesia dan membuat panggung-panggung festival musik jazz – salah satunya di Taman Ismail Marzuki bertajuk Jazz Masa Silam dan Masa Kini dan Pesta Jazz Kemarau’76.

Jack Lesmana membalut musik jazz sehingga lebih mudah diterima oleh kaum awam diterima dengan baik oleh penikmat musik di Indonesia dan menghilangkan stigma bahwa jazz merupakan musik yang hanya dinikmati oleh kaum elit aja.

Di era 70-an – dimana musik pop mengalami era barunya, musik jazz mengalami peningkatan pesat. Setelah menciptakan panggung-panggung musik jazz, Jack Lesmana semakin membuat musik jazz akrab di tengah masyarakat dengan membuat acara di televisi dengan nama TVRI bertajuk Nada dan Improvisasi.

Acara musik jazz ini menampilkan banyak musisi jazz baik dari kalangan yang sudah mendunia maupun yang masih pemula. Acara ini pun diterima dengan baik oleh publik, terbukti dengan berjalannya acara ini selama kurang lebih 10 tahun lamanya.

Pengaruh Musik Jazz pada #LaguBaruDariMasaLalu

Musik Jazz

Credit image - Arsip Irama Nusantara

Selain memiliki peran yang cukup penting dalam perkembangan musik Jazz di Indonesia, Ayah dari Indra Lesmana ini ikut berkontribusi dalam Irama Record – label rekaman pertama di Indonesia yang dimiliki oleh Suyoso Karsono. Berkat keahliannya, Jack dipercaya untuk mendapat peran penting dari album yang diproduksi oleh Irama Record.

Selain Irama Record, Jack juga ikut membantu para musisi jazz dalam negeri lain dalam sebuah komunitas dan studio rekaman lain, yaitu Hidayat Record. Setelah tergabung dalam Hidayat Record, Jack juga membantu para musisi jazz menciptakan karyanya.

Salah satu karya Jack yang bisa kita nikmati sampai saat ini adalah Api Asmara miliki Rien Djamain serta Semua Bisa Bilang milik Margie Segers – kedua lagu ini pasti pernah lo temui di playlist Indonesian City Pop di platform musik, kan? Karena ternyata emang banyak dipengaruhi dari musik jazz!

Perkembangan jazz di Indonesia ternyata berhasil membuat musik ini nggak lagi menjadi sesuatu yang dipandang sebagai musik untuk kaum elit. Nggak heran kalau jazz juga jadi salah satu pengaruh munculnya #LaguBaruDariMasaLalu ya, bro!

 

Referensi:

https://tirto.id/jack-lesmana-godfather-jazz-indonesia-cKKu

https://cultura.id/musik-jazz-dari-piringan-hitam-dan-lantai-dansa-hingga-ke-festival-budaya

Indonesian City Pop dan Pasang Surutnya Pop Kreatif di Indonesia

Mon, 05 April 2021
Pop Kreatif

Ngomongin musik di Indonesia emang nggak ada matinya, terlebih kalo ngomongin tentang musik pop di Indonesia. Mulai dari kemunculannya hingga perkembangannya sampai sekarang – musik pop ini emang juaranya!

Salah satu era besar bagi musik pop adalah lahirnya musik Pop Kreatif – yaitu musik pop yang menjamur di era 80-an dan berhasil menjadi musik yang dominan bagi para musisi pada masanya. Musik pop yang seringkali diyakini sebagai Indonesian City Pop di masa sekarang ini ternyata sempat mengalami pasang surut, bro!

Musik yang menjamur di saat radio masih menjadi primadona dan kaset menjadi hal yang fenomenal, pop kreatif berhasil dinobatkan sebagai lagu yang membawa semangat modernisasi. Sampai sekarang dikenal dengan Indonesian City Pop – dan gimana perannya pada kehadiran #LaguBaruDariMasaLalu?

Dari pada penasaran, langsung aja simak ulasan MLDSPOT bersama Irama Nusantara di bawah ini!

Kaset, LCLR, dan Pop Kreatif

Pop Kreatif

Credit image – KiosBukas

Di pembahasan beberapa waktu lalu, Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) yang hadir di akhir tahun 70-an dimaknai sebagai era baru kelahiran musik pop di Indonesia. Siapa sangka – ternyata hal ini yang melahirkan musik pop kreatif di era 80 hingga 90-an!

Nggak cuma kekuatan dari radio dan LCLR, kehadiran pop kreatif di saat kaset menjadi hal yang fundamental untuk dimiliki para penikmat musik pun menjadi hal yang menarik. Pasalnya, perilisan dalam format kaset dijual dengan harga yang cukup terjangkau dan hal inilah yang membuat kehadiran musik ini menjadi primadona.

Kedua hal ini – yaitu radio dan kaset, emang nggak bisa terlepas dari penyebaran musik populer Indonesia di era 80 hingga 90-an, termasuk gaya musik pop kreatif di dalamnya. Keberadaan kedua hal ini menjadi krusial karena pop kreatif nggak hanya melahirkan musik, tapi juga peran besar dari musisi-musisinya.

Pasang Surutnya Pop Kreatif

Setelah mengetahui kedua hal yang membuat pop kreatif menjadi diminati, hal ini ini membuat para penikmat musik di era 80-an hingga 90-an merasa bahwa musisi kala itu sepakat untuk membuat karyanya dengan prinsip yang sama – yaitu lagu dengan irama fusion dengan sentuhan electronica dengan lirik yang membawa semangat para pendengarnya.

Setelah LCLR, pop kreatif semakin meluas dan diminati oleh para peminatnya. Seakan menjadi ajang pembuktian kebangkitan musik pop yang baru, para musisi seperti Chrisye dan Fariz RM berhasil menciptakan karya-karyanya – yang sampai sekarang pun karyanya masih bisa dinikmati.

Perputaran waktu dalam musik emang menjadi hal yang nggak pasti – hal ini juga terjadi pada pop kreatif. Setelah menuai masa keemasannya di era 80-90-an, ternyata musik pop kreatif terkalahkan dengan musik pop yang disebut dengan pop melayu.

Kehadiran pop melayu dengan lirik yang mendayu-dayu ini ternyata berhasil menjadi waktu di mana pop kreatif menjadi surut. Pada saat inilah pop kreatif menjadi hal yang dilupakan kehadirannya oleh para penikmat musik.

Pop Kreatif dalam Balutan Indonesian City Pop

Pop Kreatif

Credit image - Arsip Irama Nusantara

Setelah pop kreatif sempat meredup di awal dekade 2000-an, namun tanpa disangka-sangka – pop kreatif kembali hadir di tengah penikmat musik dengan nama yang lebih modern, yaitu Indonesian City Pop.

Dengan terbukanya akses informasi, para generasi muda akhirnya membangkitkan kembali Pop Kreatif sebagai gaya musik baru yang disebut dengan ‘Indonesian City Pop’.Istilah ini merujuk pada gaya musik City Pop yang berasal dari Jepang dan direlasikan oleh para generasi muda saat ini dengan referensi musik lokal yang serupa.

Di tahun 2010-an, kelahiran Indonesian City Pop ini dimaknai sebagai hal yang baru. Meskipun sebenarnya hanya menciptakan #LaguBaruDariMasaLalu, nama Indonesian City Pop berhasil membawa pop kreatif ke industri musik hingga sekarang ini.

Banyaknya playlist dan juga musisi dengan gaya musik City Pop ini menandakan bahwa lagu ini mendapat apresiasi yang besar dari para pendengar musik saat ini. Lagu-lagu seperti “Sesaat Kau Hadir” dari Utha Likumahuwa, “Kau” dari Chandra Darusman, dan “Dimabuk Asmara” oleh Cici Sumiati masih merajai anak tangga lagu Indonesia saat ini.

Kehadiran #LaguBaruDariMasaLalu yang membalutkan lagu pop kreatif ke dalam Indonesian City Pop ini menjadi fenomena yang unik dalam industri musik. Kalo lo sendiri, punya playlist andalan dengan lagu Indonesian City Pop belum, bro?

 

Feature image - Kaset Lalu

Referensi:

http://www.widiasmoro.com/2015/04/08/musik-pop-indonesia/

Alvin Yunata: Wajah Musik Pop, Dulu dan Hari Ini