Monita Tahalea – Dari Balik Jendela

Tue, 21 April 2020
Monita Tahalea – Dari Balik Jendela

Menjadi seorang Monita Tahalea adalah sebuah berkah. Sepanjang karirnya, ia bisa bekerja dengan berbagai macam musisi penuh talenta dari generasi yang juga beragam. Di dua album penuh sebelumnya, Monita Tahalea diproduseri oleh Indra Lesmana dan Gerald Simanjuntak. Kali ini, di album barunya yang berjudul “Dari Balik Jendela, diproduseri oleh Indra Perkasa.

Ketiga nama itu adalah musisi-musisi jazz lintas generasi yang sama-sama punya keberanian untuk keluar dari pakem bermain musik yang itu-itu saja. Begitu pun, sejatinya, dengan Monita Tahalea.

Sebagai seorang penyanyi, ia seperti menapaki perjalanan yang begitu berwarna dan bisa berwujud macam-macam. Ada level keterbukaan yang besar di dalam pengkaryaannya. Oh, Monita Tahalea juga menulis sendiri lagunya.

Di Dari Balik Jendela, kemampuan menulis lagunya berkembang pesat. Tema-tema yang dipilih merupakan berkah dari perjalanan yang makin kompleks dan jam terbang yang meninggi seiring karir yang berlanjut dalam durasi lebih panjang. Salah satu track yang menonjol adalah “Laila.

Laila adalah contoh betapa bakat Monita Tahalea dalam menulis lagu. Ia bisa menyajikan spiritualitas dengan kemasan yang mudah diterima lewat liriknya yang sangat sederhana. Pembangunan mood yang cocok dengan permainan modular campur piano klasik yang disajikan Indra Perkasa pun menjadi begitu kawin. Ini track paling menonjol di Dari Balik Jendela.

Yang juga menarik adalah kontribusi Ananda Badudu dari duo Banda Neira yang telah lama bubar. Album Dari Balik Jendela memberi pintu lebar untuknya kembali ke musik. Ia menulis beberapa lagu bersama Monita Tahalea dan menyuguhkan duet yang membuai.

Di “Jauh Nan Teduh, suara rawan fals-nya mengambil porsi yang penting dan melengkapi nada-nada tipis yang diambil Monita Tahalea. Sekilas memang, ada aura lama Banda Neira yang diajak masuk. Tapi, toh jadi tidak begitu penting mendengarkan ini mirip atau senada. Komposisinya bagus dan seimbang. Jadi, kolaborasinya pun jauh sama sekali dari kesan dipaksakan atau dibuat-buat. Keberadaan Ananda Badudu begitu natural di Dari Balik Jendela.

Monita Tahalea – Dari Balik Jendela

Selain mengantarkan kesederhanaan, Dari Balik Jendela juga memberi pengalaman musikalitas yang liar. Monita Tahalea merekam ulang “Sounds of Silence versi Simon and Garfunkel yang legendaris itu. Dalam beberapa kesempatan panggung, ia mengaku kalau ini merupakan salah satu komposisi klasik yang ia sukai. Ketimbang mengikuti arah permainan versi aslinya, Monita Tahalea bereksperimen dengan berbagai macam layer vokal yang tidak tertebak arahnya. Menantang untuk dimainkan di panggung, tapi versi rekamannya sungguhlah spesial.

Dari Balik Jendela adalah album yang bisa didengarkan berulang. Terutama setelah lelah seharian beraktivitas dan mempertanyakan banyak hal. 

 

 

Kredit foto:
Dok. Monita Tahalea

Club Eighties: Secukupnya, Sesuai Visi

Tue, 21 July 2020
(kiri ke kanan) Sukma Perdana Manaf, Cliffton Jesse Rompies, Lembu Wirowo, Jati

Keterangan: (kiri ke kanan) Sukma Perdana Manaf, Cliffton Jesse Rompies, Lembu Wirowo, Jati

Sudah nyaris dua puluh tahun sejak debut album fenomenal yang juga berjudul “Club Eighties resmi dirilis tahun 2001. Sepanjang dua dekade itu, Club Eighties berhasil tetap hidup kendati ada banyak persoalan melanda.

Album penuh kelima mereka, “80 Kembali dirilis 2009. Berarti sudah sekitar sebelas tahun yang lalu. Tapi, selama itu absen, selama itu pula mereka dirindukan.

Dengan rentang karir yang panjang, bisa dipastikan penggemar-penggemar mereka bertumbuh bersama. Tiga orang personil yang tersisa dari line up original mereka, Lembu (vokal), Cliff (gitar), dan Yton (keyboards) masih bermain bersama. Kendati tidak sering muncul, tapi Club Eighties tidak pernah undur diri dari panggung megah industri musik Indonesia.

Musik mereka tetap sama, memainkan influence berat dari pop 80-an. Kendati sebenarnya, masing-masing personil tetap membuka diri pada perkembangan musik di sekitar.

“Kita belajar banyak tentang trend musik. Gue sempat bilang sama anak-anak, ‘Lupakan bahwa dulu kita pernah ada di sana. Karena itu yang membuat kita merasa nyaman’,” kata Lembu mewakili dua lainnya.

Personel Club Eighties berpose dengan latar berwarna biru

Sebagai band dengan usia karir yang panjang, begitu banyak hal mampir ke dalam tubuh Club Eighties. Termasuk perpisahan dengan dua orang personil lama, Vincent dan Desta. Di 2019 kemarin, kedua personil lama ini sempat naik panggung di dua pertunjukan penting yang dimainkan oleh Club Eighties. Tidak sedikit pula yang menyangka bahwa mereka akan kembali beranggotakan lima orang di dalam line up-nya.

Kedua penampilan itu, berhasil membawa romantika masa lalu kembali ke tengah-tengah industri musik Indonesia. Meskipun sifatnya hanya temporer. Banyak yang menduga bahwa kedua penampilan itu didasari oleh angka ekonomi yang banyak. Yang kemudian dengan cepat ditampik oleh Lembu.

“Kita sebenarnya akan susah kalau main gara-gara uang. Kita dari awal satu visi, yang sama-sama menyamakan kita adalah visi kita nggak di musik,” katanya melanjutkan penjelasan.

Itu juga kenapa kemudian kita tidak akan sering-sering mendengar kabar baru dari Club Eighties. Visi bahwa musik bukan pilihan utama sekarang, sepertinya perlu dihargai. Masing-masing personilnya punya kehidupan lain yang sedang dijalani.

Main sekali-kali, rasanya jadi pilihan yang cocok. “Zaman nggak bisa dilawan, tapi harus diajak berkawan,” kata Lembu di MLDpodcast. Itu rasanya kenapa kabar dan jejak langkah Club Eighties sekarang ini, terkesan secukupnya saja.