• Music News
  • Festival yang Lebih Seru dengan Tata Suara dan Tata Lampu yang Baik

Festival yang Lebih Seru dengan Tata Suara dan Tata Lampu yang Baik

Mon, 07 September 2015

Scene musik jazz akrab dengan kualitas permainan yang mumpuni. Fakta mencatat banyak pelaku industri yang memang dilahirkan oleh kurikulum pendidikan musik yang baik. Jika ditambah dengan jam terbang yang makin sering, orang-orang yang berskill baik ini punya potensi akan menghasilkan penampilan panggung yang ok.

Tapi, tidak banyak yang sadar bahwa kacamata penonton yang menyaksikan permainan mereka akan punya efek berkali-kali lipat lebih besar apabila didukung oleh sistem tata suara dan tata lampu yang juga baik.

Keduanya, kalau dipadukan, akan mampu menghasilkan komposisi kolaborasi pengalaman yang seru dan lekat di dalam benak penonton untuk waktu yang lama. Karena menyaksikan penampilan live itu bukan hanya mengandalkan indera pendengaran layaknya mendengarkan cd di rumah. Pandangan visual dan komposisi rasa melengkapi pengalaman model begini.

Ajang Indonesian Jazz Festival (IJF) 2015 rasanya menyadari betul bahwa tata suara dan tata lampu punya peranan yang penting. Ibaratnya sepakbola, kedua elemen ini memegang kunci seperti supporter yang berteriak kencang apabila papan skor sesuai selera. Mereka, yang sering digadang-gadang sebagai orang keduabelas bagi sebuah tim sepakbola.

Di festival ini, nyaris seluruh tata suara dan tata lampu masing-masing penampil punya kualitas mendekati sempurna. Baik panggung kecil ataupun besar, semuanya diperhatikan dengan sangat teliti dan mendapatkan perlakukan sama.

Tidak heran pengalaman yang diberikan kepada penonton ada di kelas yang sama walaupun menyaksikan Yura di panggung kecil atau Be3 di panggung utama. Eksplorasi yang ada, hanya dibedakan oleh fasilitas minor seperti screen atau kekuatan tata suara yang memang harus lebih karena ukuran panggungnya juga berbeda.

Juara kelas untuk urusan ini adalah penampilan Be3 yang jadi berkali-kali lebih menarik dengan dukungan visual yang berhasil mencuri perhatian dan jadi elemen tersendiri. Keputusan untuk menggarap sisi ini, terbukti meninggalkan kesan yang lebih dalam pada orang-orang yang datang.

Penampilan-penampilan bermandikan cahaya berseliweran dan mudah ditemui di sepanjang festival. Begitu juga dengan langsamnya tata suara yang ajaibnya hanya diset kurang lebih 45 menit sebelum seorang penampil naik panggung. Sumber daya yang hebat juga mendukung tata suaran dan tata lampu yang harus diakui menjadi sisi menonjol festival ini.

Kalau dibuat perbandingan, bisa jadi, ini merupakan salah satu festival musik terbaik di Indonesia tahun ini kalau parameter ukurannya tata suara dan tata lampu.

Rich Brian: DOA - Suasana Baru Dari Rapper Andalan?

Fri, 18 September 2020
Cerita dibalik video musik Rich Brian DOA

Ada suasana segar yang dibawa oleh Rich Brian di album terbarunya, 1999 – di lagu DOA. Beatnya yang dinamis, Brian seperti membawa energi baru di mana para penikmatnya, mungkin dibuat terkejut dengan musik di lagu ini. Lo sudah dengar belum bro?

Dari beberapa lagu yang termasuk di dalam album 1999, DOA menjadi salah satu lagu favoritnya. Dilansir dari tirto – DOA adalah sebuah singkatan dari Dead On Arrival. Brian menceritakan kalau lagu ini adalah tentang persaingan dengan seseorang yang memiliki peluang nol di tempat pertama.

Kalau dari segi musik, melodi yang ada di dalam lagu DOA mengingatkannya kepada salah satu grup kesukaannya, yaitu Gorillaz. Lagu ini adalah lagu yang Brian nyanyikan ketika iya merasa mesti lebih baik daripada sebelumnya secara umum.

 

DOA Jadi Energi Tersendiri Dari Brian

rich brian DOA

Credit Image: cultr.com

Mungkin kalau rapper lain bisa saja meminta mobil Lamborghini, Ferrari atau mobil sport lainnya – tapi Brian? Oh my god – dia malah pilih Civic baru. Ini cukup jadi pembeda antara Brian dan rapper lainnya.

Di dalam video musik DOA, diperlihatkan kalau Brian menghabiskan waktunya berada dengan mobilnya. Baik saat dalam perjalanan dan saat mobilnya mogok juga. Tingkah dari Brian sendiri juga menyesuaikan dengan beat dari DOA ini sendiri.

Sehingga di video musik DOA kali ini, Brian terlihat lebih ‘pecicilan’ daripada video musik lainnya. Tidak apa, sih – justru hal ini jadi penyegar dan pembeda serta warna tersendiri dari Brian untuk video musik DOA ini.

Jika ditelisik dari musiknya sendiri, Brian menceritakan kalau DOA berasal dari sesi jamming dirinya, Jacob Ray, dan Diamond Pistols, lalu dengan random Louis Bell juga datang. Brian mengaku ia menjadi penggemar musiknya walau sudah mengenalnya lama dan pada hari itu ia bekerja untuknya.

Selain DOA, di dalam album 1999, setidaknya ada beberapa lagu andalan lainnya seperti ‘Don’t Care’, ‘Love in My Pocket’, ‘Long Run’, ‘When You Come Home’, dan ‘Sins’. Nah selain DOA, ‘Sins’ juga jadi lagu andalan Brian.

Dalam pengerjaan album ini, sebagian besar materi di sini diproduksi sendiri oleh Brian. Namun tetap ada yang ia kerjakan bersama dengan Bekon & The Donuts, Diamond Pistols dan Louis Bell. Dari album 1999, ada video musik yang cukup menarik perhatian, yaitu video musik dari Love in My Pocket.

Brian menceritakan kalau video musik ini jadi favoritnya sementara ini. Video musik dari Love in My Pocket menceritakan tentang bagaimana mencoba menjadi sempurna tidak akan berhasil di sebagian besar waktu.

Bro, apakah lo tahu album 1999 ini adalah album ke berapa dari Brian? Tahun 2019 lalu, Brian merilis albumnya yang berjudul The Sailor, 2018 Head in the Clouds dan ditahun yang sama juga yaitu Amen. Ketenaran Brian berangkat ketika ia mengeluarkan single Dat $tick dan langsung direkrut oleh label 88Rising.

Wah bagaimana nih bro? Dari segala penjelasan di atas – apakah lo sendiri sudah menonton dan menikmati video musik DOA dari Rich Brian? Kalau belum, langsung saja gas dan nonton di sini ya bro!

 

Feature Image – whiteboardjournal.com