• Music News
  • Cerita Menarik tentang Dr.Dre di Balik Album Barunya

Cerita Menarik tentang Dr.Dre di Balik Album Barunya

Tue, 08 September 2015

Setelah vakum memproduksi album selama 16 tahun, Dr.Dre kembali berkarya. Pada Agustus 2015, Dr.Dre merilis album barunya yang bertajuk Compton. Di album barunya ini, Dr.Dre banyak bercerita mengenai berbagai hal dalam kehidupannya.
 

  1. Dr.Dre was rich since long ago
    Jauh sebelum brand headphones buatannya, yaitu Beats by Dr.Dre dibeli oleh Apple pada 2014 dengan harga super fantastis, Dr.Dre udah mencatatkan diri sebagai salah satu rapper terkaya. Sampai-sampai Dr.Dre ‘menyombongkan diri’ soal kekayaannya lewat sebaris lirik di salah satu lagu, Talk About It. Lirik tersebut berbunyi ,”I was getting money ‘fore the Internet/Still got Eminem checks I ain’t open yet”. We got it, Doctor!


     

  2. Mixing the songs with a trumpet solo
    Beberapa lagu dalam Compton, menggabungkan instrumen terompet sebagai penambah warna dalam lagu. Permainan terompet tersebut dibawakan oleh musisi jazz muda asal Baltimore, Dontae Winslow. Performance Winslow ini juga dijadikan penutup spesial di dalam album Compton.
     
  3. Dr.Dre never has love for police
    Sepertinya Dr.Dre bener-bener antipati sama polisi. Terlebih setelah adanya kejadian tewasnya dua warga kulit hitam, Michael Brown dan Eric Garner, karena penembakan oleh polisi. Untuk mengenang kejadian naas tersebut, Dr.Dre menulis dua lagu di album Compton yang didedikasikan untuk Brown dan Garner. Kedua lagu tersebut berjudul Animals dan Deep Water.
     
  4. Relationship with women = complicated
    Rumitnya berhubungan dengan wanita Dr.Dre curahkan dalam dua lagu di album Compton, yaitu Issues dan Medicine Men. Di lagu Medicine Men, Dr.Dre kolaborasi dengan Eminem, yang sepertinya mengalami nasib yang sama dalam hal berurusan dengan wanita. Sebuah lagu memang pas ya, kalau mau dijadikan sarana curhat masalah dengan pasangan.


     

  5. Make a peace with Eazy-E
    Dr.Dre dan Eazy-E sempat tergabung dalam grup rapper N.W.A di era 90-an. Namun karena permasalahan internal, keduanya malah jadi berseteru sampai akhirnya grup N.W.A bubar. Namun, diam-diam Dr.Dre masih peduli dengan Eazy-E, yang jadi salah satu partner berjuang di industri musik hip hop. Saat Eazy-E dirawat di rumah sakit dan dalam kondisi sekarat, Dr.Dre sempat menjenguk walau Eazy-E sudah dalam kondisi nggak sadar. Dia mendedikasikan lagu Talking to My Diary di album Compton untuk Eazy-E.

Source : www.rollingstone.com, wikipedia.org, www.trbimg.com, www.teabreakfast.com

 

 

Apple Bought Beats Fantastically
Apple membuat pembelanjaan gila-gilaan di tahun 2014 dengan membeli Beats by Dr.Dre. Total dana yang dikucurkan yaitu 3,2 miliar US Dollar. Dan ini masih tercatat sebagai pembelanjaan terbesar yang pernah dilakukan oleh Apple sampai saat ini.

N.W.A Biopic’s Movie
Pada 14 Agustus 2015 lalu, film berjudul Straight Outta Compton yang mengangkat kisah nyata dinamika perjalanan grup N.W.A dirilis. Film ini mendapat sambutan baik, bahkan sampai muncul berbagai meme di media sosial dengan kata ‘Straight Outta…..’ untuk menggambarkan besarnya pengaruh dari film ini.

Dr.Dre A-list Rappers
Mau tau siapa saja rapper ngetop yang pernah diproduseri Dr.Dre? We have Eminem, Snopp Dogg, Xzibit, Kendrick Lamar, 50 Cent, adalah beberapa nama rapper yang sering kerjasama dengan Dr.Dre. Dan tentunya mereka termasuk legenda dalam dunia musik hip hop.

Pecinta Musik Wajib Datangi Museum Musik Indonesia di Malang

Monday, February 17, 2020 - 15:41
: Bagian depan dari Gedung Museum Musik Indonesia

Kota Malang memang menjadi salah satu kota paling populer di Indonesia. Selain memiliki banyak tempat wisata alam yang menarik, di kota ini rupanya juga memiliki museum musik yang wajib didatangi oleh para pecinta musik. Museum Musik Indonesia yang terletak di Jalan Nusakambangan No. 19, Kota Malang ini merupakan satu-satunya museum seni musik yang ada di Indonesia.

 

Punya Banyak Koleksi yang Menarik

Museum Musik di Kota Malang ini memiliki banyak koleksi yang sangat menarik. Sejak tahun 2009 sampai tahun 2018 lalu Museum Musik ini diketahui memiliki lebih dari 26 ribu koleksi yang berhubungan dengan dunia musik. Mulai dari kaset, leaflet, CD, poster, buku musik, piringan hitam, peralatan audio hingga alat musik koleksi dari para musisi. Menariknya, di museum musik ini juga terdapat kostum dari koleksi para musisi.

Koleksi yang ada di Museum Musik ini rupanya sebagian besar didapatkan dari sumbangan masyarakat baik dari Malang ataupun luar Malang. Selain itu, juga terdapat beberapa musisi yang rela turut menyumbangkan barang-barangnya untuk dijadikan koleksi di museum yang satu ini. Sekitar 60 sampai 70 persen dari koleksi yang ada di museum ini berasal dari musisi Tanah Air. Sedangkan sisanya berasal dari musisi luar negeri. Koleksi di museum ini juga terdiri dari cukup banyak genre mulai dari lagu daerah, jazz, pop, rock, latin hingga lagu anak-anak.

 

Baru Diresmikan pada Tahun 2016 Lalu

Meskipun telah memiliki jumlah koleksi yang cukup banyak, Museum Musik ini baru diresmikan pada tahun 19 November 2016 lalu. Peresmian tersebut langsung dihadiri oleh pihak Badan Ekonomi Kreatif Indonesia dan bertempat di Gedung kesenian Gajayana lantai 2 di Jalan Nusakambangan No. 19 Malang.

Museum Musik ini juga telah didaftarkan ke Kementrian Hukum dan Ham. Pemerintah Kota Malang juga telah memberikan izin kepada pengelola museum untuk menempati Gedung Kesenian Gajayana. Jadi Gedung Kesenian Gajayana telah resmi menjadi lokasi dari Museum Musik tersebut. Sebelum menempati gedung tersebut, Museum Musik ini cukup sering berpindah tempat.

Sejarah Berdirinya Museum Musik

Koleksi di museum musik yang tertata rapi di display

 

Sejarah dari Museum Musik ini cukup menarik lho, Urbaners. Berawal dari koleksi yang dimiliki oleh salah satu pendirinya, Hengki Herwanto, kemudian museum ini bisa berkembang menjadi lebih besar. Sejak sekitar tahun 2009 lalu Hengki Herwanto berencana untuk mendirikan Galeri Malang Bernyanyi dan hanya memiliki sekitar 250 koleksi saja. Koleksi yang terdiri dari CD, kaset hingga piringan hitam itu merupakan milik dari Hengki Herwanto dengan teman-temannya.

Kemudian koleksi tersebut disimpan di garasi rumah Hengki Herwanto yang berada di jalan Citarum. Galeri koleksi musik itu pun semakin dikenal luas sehingga pada tahun 2013 mereka memindahkannya di sebuah rumah kontrakan di Griya Santa. Setelah itu, baru di tahun 2016 galeri musik itu pindah ke Gedung Kesenian Gajayana dan resmi disebut sebagai Museum Musik Indonesia.

Itulah sedikit ulasan mengenai Museum Musik Indonesia yang terletak di Malang. Apakah lo berencana untuk mampir ke tempat ini saat berkunjung ke Malang?

 

Sources: jawapos.com, kumparan.com, goodnewsfromindonesia.id