• Music News
  • Cerita Menarik Dibalik Lagu Wake Me Up When September Ends

Cerita Menarik Dibalik Lagu Wake Me Up When September Ends

Thu, 15 September 2016

Lagu dari band punk Amerika Serikat Green Day berjudul Wake Me Up When September Ends sekarang menjadi salah satu lagu wajib diputar di bulan September. Lagu yang masuk ke dalam album American Idiot ini menjadi salah satu single favorit para penggemar dari Green Day. Memasuki bulan September ini, beberapa radio sampai televisi sudah mulai memainkan lagu yang pertama kali keluar pada tahun 2003. Sebenarnya apa sih cerita menarik dibalik lagu Wake Me Up When September Ends.

 

Cerita Billie Joe Armstrong

Billie Joe Armstrong adalah leader, vokalis sekaligus gitaris dari Green Day. Apakah lo percaya bahwa Billie ini sekarang berumur 44 tahun? Dan suaranya masih sangat kuat dan ketika di panggung juga masih sangat atraktif. Hampir semua lagu dari Green Day diciptakan oleh Billie, termasuk lagu Wake Me Up When September Ends.

Kisah menarik dari Billie adalah ketika ayahnya meninggal karena penyakit kanker. Ketika itu Billie masih berumur 10 tahun dan dirinya sangat syok ketika ditinggal ayahnya. Pada suatu hari di bulan September 1982 ketika kematian ayahnya tersebut, Billie lari mengurung diri di kamar. Sang ibu mencoba menghibur Billie, tetapi Billie tetap nggak bergeming dan malah berkata “Wake me up when September Ends.” Dari situ, Billie ingin mempersembahkan lagu tersebut untuk sang ayah.

 

Juga cocok dengan kejadian 9/11

Dua tahun setelah kejadian 9/11 pada tahun 2001, album American Idiot muncul. Dan seperti suatu kebetulan ataupun sudah direncanakan sebelumnya. Pada track 11 pada album American Idiot ada lagu Wake Me Up When September End. Liriknya yang sangat menyentuh, seakan Green Day membuat lagu tersebut untuk korban 9/11.

Dari semua kebetulan tersebut, Green Day juga sering manggung dan mempersembahkan lagu tersebut untuk korban 9/11.

Marilyn Manson Siapkan Album Baru "We Are Chaos"

Tue, 04 August 2020
Marilyn Manson mengenakan topi koboi putih dengan setelan jas hitam di depan background hitam

Lama nggak terdengar di blantika musik, Marilyn Manson akhirnya merilis album terbaru bertajuk “We Are Chaos”. Musisi rock asal Amerika Serikat ini mengumumkan lewat media sosial bahwa album terbarunya bisa dinikmati tanggal 11 September via Loma Vista.

Bertepatan dengan memoriam tragedi menara kembar, tampaknya Marilyn Manson ingin menunjukkan sisi gelap kemanusiaan melalui album barunya.

 

Dirilisnya Single Utama dari Album

Tiga kepala Marilyn Manson yang mengenakan tampilan eye shadow hitam sambil menyeringai

Menyusul kesuksesan album “Heaven Upside Down” yang dirilis tahun 2017 lalu, Marilyn Manson mengumumkan tanggal rilis album terbarunya di hari Rabu (29/7) bersamaan dengan perilisan music video untuk single utamanya.

Berjudul sama dengan albumnya, We Are Chaos memasukkan adegan-adegan yang khas dengan gaya eksentrik Manson. Meski dipenuhi dengan metafora yang dark, secara mengejutkan Manson justru memainkan gaya akustik untuk single terbarunya ini.

Album ini diproduksi sebelum pandemi COVID-19 menyerang dunia. Namun, Manson mengungkapkan kalau albumnya justru berhasil merepresentasikan kondisi dunia terkini. “When I listen to ‘We Are Chaos’ now, it seems like just yesterday or as if the world repeated itself,” ujar Marilyn Manson.

 

Sebuah Kritik atas Kemanusiaan

Marilyn Manson di atas panggung memegang mikrofon sambil mengangkat tangannya

Tema-tema lagu yang selama ini dinyanyikan oleh Marilyn Manson memang selalu mengungkap sisi gelap dunia. Satu hal yang membuat album ini unik adalah cara Manson dalam menyampaikan opini dan perasaannya secara lebih “lembut,” yakni dengan fokus pada lirik ketimbang kerasnya instrumen musik yang digunakan.

We Are Chaos secara nyata menjadi cermin yang memperlihatkan segala keburukan dari kemanusiaan, di mana Manson mengatakan bahwa kemanusiaan adalah hal terburuk yang ada di kehidupan. Manson mengibaratkan jiwa manusia sebagai sebuah museum yang dipenuhi oleh ruangan, lemari, brankas, dan laci.

Shards and slivers of ghosts haunted my hands when I wrote most of these lyrics,” ungkap Manson. Nggak seperti penggarapan album-album sebelumnya, Manson memilih untuk menjinakkan sisi gila miliknya dan menunjukkan tampilan yang lebih dewasa untuk album We Are Chaos.

 

Tersedia dalam Beberapa Versi

Marilyn Manson dengan coat hitam dan kacamata berlensa hijau

Marilyn Manson menggaet Shooter Jennings, seorang produser musik pemenang Grammy, untuk bersama-sama menggarap albumnya. Manson mengungkapkan bahwa selama proses rekaman, tidak ada seorang pun yang boleh mendengarkan hasilnya sebelum seluruh lagu selesai diproduksi. Album We Are Chaos merupakan sebuah konsep album berisikan 10 lagu.

Dikabarkan juga kalau Manson menggandeng A$AP Ferg untuk berkolaborasi musik. Album ini akan tersedia dalam Side A dan Side B, masing-masing bisa didapatkan dalam wujud vinyl, CD, dan kaset dengan sistem pre-order. Nggak hanya itu, Manson juga menggunakan lukisan yang ia buat sendiri sebagai cover album We Are Chaos yang bisa lo beli secara eksklusif.

 

 

 

Sources: Rolling Stone, NME, Billboard