• Music News
  • Prambanan Herigate Jazz Festival: Yang Berikutnya di Candi Prambanan

Prambanan Herigate Jazz Festival: Yang Berikutnya di Candi Prambanan

Thu, 27 October 2016

Taman Candi Prambanan, nampaknya ketagihan. Setelah beberapa waktu lalu menjadi tuan rumah untuk Prambanan Jazz Festival, akhir pekan kemarin bergulir pula Prambanan Heritage Jazz Festival.

Di penyelenggaraan yang pertama ini, Prambanan Heritage Jazz Festival, menghadirkan banyak nama yang paten untuk sebuah festival. Dari sisi line up, bisa dibilang, mereka punya komposisi yang baik.

Nama-nama model Simak Dialog, Indro Hardjodikoro, Tohpati & Ethnomission, Idang Rasjidi, Erwin Gutawa serta Harvey Malaiholo ada di deretan pengisi acara. Penyanyi muda Monita Tahalea juga turut serta.

Venue juga tidak main-main. Kawasan Candi Prambanan yang berlabel UNESCO Heritage Site, tentu bukan venue yang sembarangan. Ia cantik. Terutama ketika sore datang menjelang malam.

Sepanjang hari, pada Minggu, 23 Oktober 2016 kemarin, Prambanan Heritage Jazz Festival menggelar musik sejak siang hari sampai menjelang tengah malam. Lewat tiga panggungnya, musik mengalun kencang.

Persebaran pengisi acara yang bergantian main di tiga panggung nampak menarik. Tapi sayangnya, jarak yang terlalu dekat antar satu panggung dengan panggung yang lain menjadi kendala yang lumayan mengganggu. Terlebih, susunan jadwal yang berbarengan pada akhirnya membuat masing-masing panggung seolah adu kencang.

Setiap jeda lagu, pasti ada bocoran suara yang keluar dari panggung yang lainnya.

Beruntung, band-band menarik yang main bisa menjadi pelipur lara dari persoalan teknis tersebut. Simak Dialog yang membuka kembali festival setelah break maghrib, misalnya. Dengan formasi baru, salah satu band jazz paling konsisten di Indonesia ini, bisa mengundang orang untuk setia menyaksikan set mereka dimainkan.

Idang Rasjidi yang komunikatif juga memberi warna khusus untuk festival ini. Ia seolah tidak menganggap serius persoalan teknis yang membuatnya harus adu kencang dengan panggung lain. Lanjut saja, musik harus tetap dimainkan.

Di panggung lain, Erwin Gutawa juga menanggapi halangan teknis itu dengan canda. “Kita lanjut terus ya?” tanyanya tanpa perlu dijawab oleh penonton.

Ada banyak ruang untuk dikembangkan dari festival ini. Tidak apa, toh, ini baru pertama kali diselenggarakan. Masa depan, selalu berasal dari perbaikan masa lalu, bukan?  

Pecinta Musik Wajib Datangi Museum Musik Indonesia di Malang

Monday, February 17, 2020 - 15:41
: Bagian depan dari Gedung Museum Musik Indonesia

Kota Malang memang menjadi salah satu kota paling populer di Indonesia. Selain memiliki banyak tempat wisata alam yang menarik, di kota ini rupanya juga memiliki museum musik yang wajib didatangi oleh para pecinta musik. Museum Musik Indonesia yang terletak di Jalan Nusakambangan No. 19, Kota Malang ini merupakan satu-satunya museum seni musik yang ada di Indonesia.

 

Punya Banyak Koleksi yang Menarik

Museum Musik di Kota Malang ini memiliki banyak koleksi yang sangat menarik. Sejak tahun 2009 sampai tahun 2018 lalu Museum Musik ini diketahui memiliki lebih dari 26 ribu koleksi yang berhubungan dengan dunia musik. Mulai dari kaset, leaflet, CD, poster, buku musik, piringan hitam, peralatan audio hingga alat musik koleksi dari para musisi. Menariknya, di museum musik ini juga terdapat kostum dari koleksi para musisi.

Koleksi yang ada di Museum Musik ini rupanya sebagian besar didapatkan dari sumbangan masyarakat baik dari Malang ataupun luar Malang. Selain itu, juga terdapat beberapa musisi yang rela turut menyumbangkan barang-barangnya untuk dijadikan koleksi di museum yang satu ini. Sekitar 60 sampai 70 persen dari koleksi yang ada di museum ini berasal dari musisi Tanah Air. Sedangkan sisanya berasal dari musisi luar negeri. Koleksi di museum ini juga terdiri dari cukup banyak genre mulai dari lagu daerah, jazz, pop, rock, latin hingga lagu anak-anak.

 

Baru Diresmikan pada Tahun 2016 Lalu

Meskipun telah memiliki jumlah koleksi yang cukup banyak, Museum Musik ini baru diresmikan pada tahun 19 November 2016 lalu. Peresmian tersebut langsung dihadiri oleh pihak Badan Ekonomi Kreatif Indonesia dan bertempat di Gedung kesenian Gajayana lantai 2 di Jalan Nusakambangan No. 19 Malang.

Museum Musik ini juga telah didaftarkan ke Kementrian Hukum dan Ham. Pemerintah Kota Malang juga telah memberikan izin kepada pengelola museum untuk menempati Gedung Kesenian Gajayana. Jadi Gedung Kesenian Gajayana telah resmi menjadi lokasi dari Museum Musik tersebut. Sebelum menempati gedung tersebut, Museum Musik ini cukup sering berpindah tempat.

Sejarah Berdirinya Museum Musik

Koleksi di museum musik yang tertata rapi di display

 

Sejarah dari Museum Musik ini cukup menarik lho, Urbaners. Berawal dari koleksi yang dimiliki oleh salah satu pendirinya, Hengki Herwanto, kemudian museum ini bisa berkembang menjadi lebih besar. Sejak sekitar tahun 2009 lalu Hengki Herwanto berencana untuk mendirikan Galeri Malang Bernyanyi dan hanya memiliki sekitar 250 koleksi saja. Koleksi yang terdiri dari CD, kaset hingga piringan hitam itu merupakan milik dari Hengki Herwanto dengan teman-temannya.

Kemudian koleksi tersebut disimpan di garasi rumah Hengki Herwanto yang berada di jalan Citarum. Galeri koleksi musik itu pun semakin dikenal luas sehingga pada tahun 2013 mereka memindahkannya di sebuah rumah kontrakan di Griya Santa. Setelah itu, baru di tahun 2016 galeri musik itu pindah ke Gedung Kesenian Gajayana dan resmi disebut sebagai Museum Musik Indonesia.

Itulah sedikit ulasan mengenai Museum Musik Indonesia yang terletak di Malang. Apakah lo berencana untuk mampir ke tempat ini saat berkunjung ke Malang?

 

Sources: jawapos.com, kumparan.com, goodnewsfromindonesia.id