• Music News
  • 1 On 1 Jamming Session MLD Jazz Project Season 2 Dengan Para Juri

1 On 1 Jamming Session MLD Jazz Project Season 2 Dengan Para Juri

Wed, 25 January 2017

Tidak hanya latihan dengan Ronald Steven, mereka juga berkesempatan 1 on 1 jaming dengan para juri MLDare2Perform Season 2 kemarin. Tepatnya pada tanggal 24 Januari 2017 di Shoemaker Studio, Cikini para pemenang dan juga juri bertemu dengan suasana yang lebih hangat. Antusiasme para pemenang sudah tidak terbendung, bagaimana tidak, pada kesempatan kali ini mereka tidak hanya ngobrol, tetapi juga sharing  tentang bermusik dan tentunya jamming!

 

Almira & Syaharani

1 on 1 Jamming Session ini dimulai dengan sesi bersama Almira & Syaharani. Penyanyi legendaris satu ini sudah merasa yakin dengan kemampuan Almira dalam bernyanyi, namun yang perlu diperhatikan adalah stage act saat dipanggung. Syahrani sharing bagaimana memaksimalkan penampilan dengan menggunakan properti di sekitar panggung. Karena aksi panggung sangatlah penting bagi seorang vokalis, berkomunaksi dengan audience dan juga memanfaatkan panggung secara sempurna.

Pada kesempatan tersebut Almira pun langsung mempraktekan masukan dari Syaharani. Ia menyanyikan lagu “For Sentimental Reasons” dari Nat King Cole dan mengaggap Shoemaker Studio adalah sebuah panggung. Ia harus memanfaatkan apa yang ada di sekitar demi mendukung penampilannya bernyanyi dan menceritakan lagu yang dinyanyikan dalam bentuk lagu dan ekspresi. Sebagai penutup, Almira dan Syaharani pun bernyanyi bersama.

 

Wesley Geraldo & Indro Hardjodikoro

Selanjutnya, Wesley pun siap 1 0n 1 jamming session dengan Indro Hardjodikoro. Sebelum bermain bersama, Indro sempat memberi masukan tentang teknik chromatic, broken chord dan yang paling penting yakni stretching. Hal ini merupakan salah satu tehnik dasar, tetapi sangatlah penting untuk seorang bassist. Cara belajarnya pun sederhana, tapi bukan berarti mudah untuk dilakukan. Stretching ini berfungsi untuk menguatkan muscle memory agar terbiasa. Stretching ini juga akan bermanfaat untuk Wesley kedepannya. Indro Hardjodikoro kerap kali mempraktekannya secara general, ia juga sharing bagaimana seorang bassist dan koneksi terhadap anggota lain saat dipanggung.

 

Edwin Putro & Adra Karim

Sesi mereka diawali dengan percakapan seru tentang pianis-pianis ternama didunia. Mereka pun bercerita tentang para pianis favorit masing-masing dan bagaimana mereka terinpirasi akan tehnik-tehniknya. Adra Karim tidak berbicara banyak, tetapi ia menekankan cara bermain piano yang baik, yakni find your own style. Karena setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk mengekspresikan sebuah musik, dan Adra Karim telah melihat hal tersebut pada sosok Edwin Putro, tinggal dipertahankan. Mereka juga sharing tentang tetang piano ballads. Setelah itu mereka langsung jamming berdua sampai tak kenal waktu. Mereka seperti mengobrol melalui nada, Urbaners!

 

Fahreza Pramudya & Nikita Dompas

Kondisi Reza yang sedang sakit, tidak menyurutkan semangatnya untuk 1 on 1 jamming session dengan Nikita Dompas. Diawal mereka langsung asik jamming tanpa canggung bahkan mereka dengan serunya mengulik nada-nada pada gitar. Setelah itu, Nikita Dompas sharing bagaimana gitaris memposisikan diri dalam sebuah band, mendengarkan alat musik lain di panggung untuk menciptakan harmonisasi yang sempurna dan bagaimana berpikir cepat dan tepat pada saat manggung.

 

Afirniar & Aksan Sjuman

Sebagai pembuka, Aksan Sjuman bertanya pada Afi tentang siapa drummer favoritnya ataupun bagaimana cara ia belajar drum selama ini. Mereka banyak sharing tentang drummer-drummer legendaris. Setelah itu Aksan Sjuman juga menjelaskan pentingnya membangun nuansa saat bermain drum. Afi pun bertanya tentang kritik saat penjurian live audition kemarin, Aksan Sjuman menuturkan bahwa main drum nggak perlu di "gas" dari awal, menurutnya, tidak perlu effort besar untuk menunjukkan kemampuan, just do small things but great.

Karena fungsi drummer sendiri adalah menciptakan kenyamanan para anggota band lainnya saat dipanggung. Drummer harus menempatkan posisi nya dengan tepat. Pertama, drummer harus menjaga band tersebut dahulu agar sesuai, saat diberikan kesempatan solo, baru deh menunjukkan kemampuan yang terbaik. Saat ngejam, mereka juga mengajak Edwin untuk membantu mengiringi, agar Afi tau bagaimana harus memposisikan drum dengan tepat.

 

Fauzan Febriyansyah & Devian Zikri

Sepertinya memang Fauzan menunggu-nunggu kesempatan ini, saat baru mulai, ia langsung bertanya bagaimana mendapatkan swing-feel pada saxophone. Menurut Devian Zikri, kuncinya hanya 2, yakni latihan terus dan yang terpenting banyak mendengarkan referensi agar terbayang. Dan dalam bermain lagu jazz, Devian memberi masukan bahwa tidak perlu banyak vibrato, cukup nada yang lurus dan tegas.

Setelah itu Fauzan juga bertanya tentang pendekatan improvisasi, Devian pun menuturkan bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk hal tersebut, tetapi menurut penglihatannya, Fauzan is on the right track. Terakhir mereka jamming bersama, tidak hanya berdua, tetapi juga mengajak Edwin, Wesley dan Afi. Penampilan seru mereka pun menjadi penuutup acara 1 on 1 jamming session kali ini.

Pecinta Musik Wajib Datangi Museum Musik Indonesia di Malang

Monday, February 17, 2020 - 15:41
: Bagian depan dari Gedung Museum Musik Indonesia

Kota Malang memang menjadi salah satu kota paling populer di Indonesia. Selain memiliki banyak tempat wisata alam yang menarik, di kota ini rupanya juga memiliki museum musik yang wajib didatangi oleh para pecinta musik. Museum Musik Indonesia yang terletak di Jalan Nusakambangan No. 19, Kota Malang ini merupakan satu-satunya museum seni musik yang ada di Indonesia.

 

Punya Banyak Koleksi yang Menarik

Museum Musik di Kota Malang ini memiliki banyak koleksi yang sangat menarik. Sejak tahun 2009 sampai tahun 2018 lalu Museum Musik ini diketahui memiliki lebih dari 26 ribu koleksi yang berhubungan dengan dunia musik. Mulai dari kaset, leaflet, CD, poster, buku musik, piringan hitam, peralatan audio hingga alat musik koleksi dari para musisi. Menariknya, di museum musik ini juga terdapat kostum dari koleksi para musisi.

Koleksi yang ada di Museum Musik ini rupanya sebagian besar didapatkan dari sumbangan masyarakat baik dari Malang ataupun luar Malang. Selain itu, juga terdapat beberapa musisi yang rela turut menyumbangkan barang-barangnya untuk dijadikan koleksi di museum yang satu ini. Sekitar 60 sampai 70 persen dari koleksi yang ada di museum ini berasal dari musisi Tanah Air. Sedangkan sisanya berasal dari musisi luar negeri. Koleksi di museum ini juga terdiri dari cukup banyak genre mulai dari lagu daerah, jazz, pop, rock, latin hingga lagu anak-anak.

 

Baru Diresmikan pada Tahun 2016 Lalu

Meskipun telah memiliki jumlah koleksi yang cukup banyak, Museum Musik ini baru diresmikan pada tahun 19 November 2016 lalu. Peresmian tersebut langsung dihadiri oleh pihak Badan Ekonomi Kreatif Indonesia dan bertempat di Gedung kesenian Gajayana lantai 2 di Jalan Nusakambangan No. 19 Malang.

Museum Musik ini juga telah didaftarkan ke Kementrian Hukum dan Ham. Pemerintah Kota Malang juga telah memberikan izin kepada pengelola museum untuk menempati Gedung Kesenian Gajayana. Jadi Gedung Kesenian Gajayana telah resmi menjadi lokasi dari Museum Musik tersebut. Sebelum menempati gedung tersebut, Museum Musik ini cukup sering berpindah tempat.

Sejarah Berdirinya Museum Musik

Koleksi di museum musik yang tertata rapi di display

 

Sejarah dari Museum Musik ini cukup menarik lho, Urbaners. Berawal dari koleksi yang dimiliki oleh salah satu pendirinya, Hengki Herwanto, kemudian museum ini bisa berkembang menjadi lebih besar. Sejak sekitar tahun 2009 lalu Hengki Herwanto berencana untuk mendirikan Galeri Malang Bernyanyi dan hanya memiliki sekitar 250 koleksi saja. Koleksi yang terdiri dari CD, kaset hingga piringan hitam itu merupakan milik dari Hengki Herwanto dengan teman-temannya.

Kemudian koleksi tersebut disimpan di garasi rumah Hengki Herwanto yang berada di jalan Citarum. Galeri koleksi musik itu pun semakin dikenal luas sehingga pada tahun 2013 mereka memindahkannya di sebuah rumah kontrakan di Griya Santa. Setelah itu, baru di tahun 2016 galeri musik itu pindah ke Gedung Kesenian Gajayana dan resmi disebut sebagai Museum Musik Indonesia.

Itulah sedikit ulasan mengenai Museum Musik Indonesia yang terletak di Malang. Apakah lo berencana untuk mampir ke tempat ini saat berkunjung ke Malang?

 

Sources: jawapos.com, kumparan.com, goodnewsfromindonesia.id