• Music News
  • Berklee College of Music: The Largest Music School in the World

Berklee College of Music: The Largest Music School in the World

Fri, 24 February 2017

Sebagai seorang musisi, siapa sih yang nggak mau bersekolah di Berklee College of Music? Sekolah yang terletak di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat ini merupakan perguruan tinggi musik terbesar di dunia. Berklee sudah didirikan sejak tahun 1945 oleh Lawrence Berk, pada saat didirikan sekolah musik ini bernama Schillinger House, dan menjadi sekolah pertama di Amerika Serikat yang mengajarkan musik yang popular di zamannya. Kemudian, pada tahun 1954 Schillinger House berganti nama menjadi Berklee School of Music. Enam belas tahun kemudian, berganti nama lagi menjadi Berklee College of Music.

Berklee College of Music menawarkan pendidikan musik Jazz dan modern American music, tapi selain itu juga menawarkan tingkatan kursus musik-musik kontemporer lainnya, seperti rock, flamenco, hip hop, reggae, salsa, dan bluegrass. Berklee memang mempunyai misi menekankan pendidikan yang kuat dalam bisnis musik dan musik kontemporer. Para alumninya juga sudah banyak yang sukses bekerja dalam industri musik, seperti John Mayer, Charlie Puth, Esperanza Spalding, bahkan Psy. Pada tahun 2016, sudah tercatat 266 penghargaan Grammy yang diraih oleh para alumninya.

“Berklee menjadi salah satu sekolah musik terbaik karena Berklee memiliki semua komponen yang menunjang semua karir di dalam industri musik. Baik itu sebagai musisinya, atau sebagai manager, film scorer, conductor, roadies, producer, audio engineer, programmer, post audio, stage crew, dan lain-lainnya”, tutur Larry Aswin, musisi asal Indonesia yang pernah menimba ilmu di Berklee Collage of Music dengan konsentrasi Music Production Engineering.

Perbedaan yang paling mencolok dibandingkan sekolah musik di Indonesia bisa dilihat dari segi fasilitasnya, staff yang mengajar di sana juga merupakan orang-orang yang sudah berprestasi di bidang musik internasional. Bersekolah di Berklee nggak cuma mengajarkan kamu menjadi musisi yang hebat, tapi juga sebagai “working musicians”.

“Karena fasilitas yang bagus, Berklee juga mengutamakan ‘real life experience’, di mana kita seperti mengerjakan project-project atau manggung dengan situasi yang sama seperti sebenarnya”, tambah Larry.

Kalau soal sistem pendidikan, nggak jauh beda sama antara Berklee dan sekolah musik di Indonesia, hanya saja kompetisinya yang lumayan besar karena Berklee adalah sekolah yang sangat multicultural, pelajar di Berklee datang dari seluruh penjuru dunia. Tapi, di tengah kompetisi yang besar, kamu juga bisa lulus dengan cepat dan tepat waktu, karena nggak ada skripsi yang biasanya menjadi penghambat kelulusan.

Banyak yang beranggapan kalau masuk Berklee itu susah, tapi, sebenarnya nggak juga kok, urbaners. Yang sulit justru persaiangan ketika sudah mejadi pelajar di sana. Dan, ada beberapa bekal yang mungkin harus dipersiapkan untuk menunjang kelancaran belajar.

“Jangan beranggapan bahwa kita harus jago banget main instrument. Selama kita memenuhi semua persyaratan dasar, kemungkinan pasti masuk. Dan, bekal yang sangat diperlukan sebenarnya teori musik Harmony, Solfegio, dan Reading, karena kita bisa loncat kelas bila sudah memiliki pengetahuan ini dan bisa safe money”, tutup Larry.

Kalau kamu memang tertarik, nggak ada salahnya kalau kamu mencoba daftar di Berklee Collage of School. Saat ini, selain di Boston, Amerika Serikat, Berklee juga ada di Valencia, Spanyol.

Konsep Retro, Vintage, dan Pesona Prancis di Setiap Melodi Vira Talisa

Tue, 14 July 2020
Vira Talisa dengan tampilan rambut updo sedang bercermin, mengenakan blouse putih dengan garis abu dan kuning

Cantik, unik, dan bertalenta, Vira Talisa membawa angin segar bagi musik Indonesia, terkhusus dalam musik indie. Dara kelahiran Jakarta yang satu ini ternyata merupakan lulusan Visual Art dari Universitas Rennes, Prancis.

Selama 4 tahun menimba ilmu di negara asing, selepasnya Vira memutuskan untuk fokus bermusik. Baru saja merilis album terbaru “Primavera”, Vira Talisa siap untuk memanjakan telinga pendengar #MumpungLagiDirumah dengan lantunan lagu retro-pop yang manis.

 

Berawal dari Visual Art hingga Bermusik

Vira Talisa menyanyi dengan mic, mengenakan kemeja biru dan topi berwarna orange

Seni dan bermusik merupakan dua hobi seorang Vira Talisa. Sempat terpikir untuk mengambil jurusan musik, namun niat tersebut diurungkan karena takut malah membuat musik jadi terasa seperti “pekerjaan” yang nggak lagi bisa dinikmati dengan santai.

Walau memang seni dan musik merupakan dua hal yang berbeda, Vira merasa justru pengalamannya saat berkuliah menjadi bekal untuk ia menjadi penyanyi, sekaligus mendorongnya untuk benar-benar menggeluti musik. Menggeluti seni secara akademis, dan musik di luar aktivitas akademisnya membuat Vira merasa kedua jalan hidupnya tersebut selaras.

 

Prancis dan Setiap Kenangan di Sana

Salah satu cover single Vira Talisa, mengenakan straw hat dan sarung tangan kulit berwarna hitam

Kalau berbicara soal negara Prancis, pasti yang ada di benak lo adalah suasana romantis di sepanjang sungai Seine dan gemerlap menara Eiffel. Itu juga suasana yang ingin diciptakan oleh Vira lewat musik-musiknya, termasuk juga album terbarunya bertajuk Primavera yang berarti musim semi. Selama Vira berada di Prancis, ia juga masuk ke dalam komunitas dan pertemanan yang memiliki minat musik yang serupa.

Vira merasa klik dengan referensi musik retro-pop yang didapatkannya selama di Prancis. Begitu pula dengan hasil belajar yang ia tekuni di Prancis. Meski mengambil jurusan Visual Art, nyatanya di dalamnya juga mencakup bidang sastra dan film, di mana akhirnya Vira juga mampu mengasah pemahamannya akan musik sebagai salah satu komponen film.

 

Terinspirasi dari The Beach Boys dan Soundtrack Film Klasik

Vira Talisa sedang duduk di sofa sambil menulis di buku berwarna orange

Kiprah bermusik Vira benar-benar dimulai sejak nol, berawal dari sekadar meng-upload hasil cover lagu di platform Soundcloud. Hingga akhirnya, Vira pun berhasil merilis album self-titled di tahun 2016. The Beach Boys menjadi salah satu panutan Vira dalam bermusik dan musisi yang memperkenalkan Vira ke musik dengan genre retro.

Nggak hanya The Beach Boys saja, Vira juga jatuh cinta dengan konsep vintage dan genre pop-retro melalui soundtrack film garapan Jean-Luc Godard, seperti “Singing in the Rain”. Film-film klasik di era 30-an dan 60-an menjadi inspirasi bagi musikalitas Vira Talisa.

 

Dukungan Manis dari Orang Tercinta

Vira Talisa menyanyi di atas panggung dengan dress hitam

Dibesarkan di keluarga pencinta musik, Vira Talisa ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan legenda musik Eyang Titiek Puspa. Keluarganya sering mendengarkan lagu-lagu karya Everly Brothers dan The Beatles yang membuat Vira sebagai sosok old soul dengan kemampuan bermusik yang nggak perlu diragukan lagi.

Dalam album Primavera yang berisikan delapan lagu, ada satu lagu berjudul “He’s Got Me Singing Again” yang menceritakan sosok sang kekasih, Radityo Joko Bramantyo. Bagi Vira menulis lirik dan menggarap musik itu adalah ekspresi paling jujur yang bisa dimiliki seseorang. Sekarang, album Primavera sudah bisa didengarkan di berbagai platform streaming. Vira juga sedang fokus untuk merilis album fisik dan tetap melahirkan tembang-tembang retro-pop.

 

 

 

Sources: Medcom.id, CNN Indonesia, Liputan 6.