• Music News
  • Arturo Sandoval, Perpaduan Latin Jazz dan Bebop

Arturo Sandoval, Perpaduan Latin Jazz dan Bebop

Fri, 07 April 2017

Arturo Sandoval pasti familiar buat penyuka jazz. Pria asal Kuba ini adalah komposer, peniup terompet dan juga pianis. Sandoval juga jago memainkan dan mengomposisi musik klasik.

Prestasinya di dunia musik tak diragukan lagi. Pria kelahiran 1949 ini meraih 19 nominasi Grammy Awards dan 10 trofi di antaranya berhasil dibawanya pulang. Belum lagi penghargaan berupa 6 trofi dari Billboard Awards dan 1 trofi Emmy Awards. Wow.

Arturo Sandoval juga mendapatkan penghargaan dari Presiden AS Barack Obama pada 2013 berupa Presidential Medal of Freedom. Penghargaan sipil tertinggi dari Presiden AS atas sumbangsih, jasa-jasa tokoh tertentu pada keamanan atau kepentingan nasional, perdamaian, budaya atau lainnya.

Saking hebatnya, kisah hidup komposer kelahiran Kuba ini pernah diperankan oleh Andy Garcia dalam film drama produksi HBO yang berjudul For Love or Country: The Arturo Sandoval Story tersebut.

Sandoval mulai bermusik pada usia 13. Setelah bermain banyak instrumen, Sandoval jatuh cinta dengan sangkakala. Pada usia 16, ia sudah mendapatkan tempat di all-star band nasional Kuba. Ia pun benar-benar tenggelam dalam musik jazz. Musik lalu membawa Sandoval keliling dunia.

Puncaknya, pada 1982 ia tur bareng dengan peniup terompet jazz legendaris Dizzy Gillespie yang kemudian menjadi sahabat sekaligus mentor. Dizzy Gillespie yang merupakan pentolan Afro-Cuban Jazz atau Latin Jazz sudah dianggapnya sebagai ayah spritual oleh Arturo Sandoval.

"Tentu luar biasa rasanya bermain dengan musisi yang menjadi idola. Bukan saja merasa terhormat bisa bermain dengan dia, saya berterima kasih kepada Tuhan atas kesempatan itu. Anda tidak akan melewatkan sedetik pun untuk menikmati dan belajar dari musisi yang sudah meraih pencapaian seperti itu," ungkap Sadoval kepada Rolling Stone.

Pertemuannya dengan Dizzy membuat Sadoval mampu mamadukan Afro-Cuban berpadu dengan Bebop. Menurut Sandoval, ritme Afro-Cuban Jazz akan mengajak pendengarnya menari mengikuti irama. Sedangkan nada-nada Bebop mengentak dengan sangat kuat.

"Bebop adalah musik yang sangat spesifik, demikian pula Afro-Cuban. Memadukan kedua jenis musik yang amat kuat dengan baik akan membuat musik yang dimainkan lebih kuat lagi merasuk ke pendengarnya," tandas Sandoval.

Tidak banyak musisi yang menyamai kepiawaian Sandoval dalam permainan terompet musik jazz dan klasik. Namun bukan berarti orang lain tak mampu menyamainya. Menurut Sandoval, perlu usaha, latihan, dan kecintaan untuk dapat memainkan terompet di dua jenis musik itu.

"Saya selalu berlatih dengan keras untuk bisa mencapai permainan seperti sekarang. Demikian juga dalam membuat komposisi," ujar Sandoval.

Di usia yang mencapai 68, Sandoval aktif berkarya dan menyebarluaskan musiknya ke berbagai negara. Tak terlihat ia mengurangi sedikit pun aktivitasnya. Terus berkarya Arturo Sandoval.

Baca Juga : 4 Penyanyi Jazz Wanita Indonesia Terfavorit

 

Source: Rollingstone.co.id

Soegi Bornean Kalibrasikan Musik Folk Jawa Kalimantan

Mon, 18 May 2020
Personel Soegi Bornean Aditya Ilyas, Fanny Soegiarto, dan Damar Komar

Setuju nggak, Bro, kalau musik bisa dibilang bahasa universal yang dapat disampaikan melalui berbagai cara? Seperti halnya bahasa, musik pun dapat diserap maupun dipadu dari berbagai budaya. Keunikan musik folk pop Soegi Bornean yang dibalut dengan sentuhan etnik Nusantara membuat karyanya jadi makin istimewa. Simak kisah lengkap inspirasi musik Soegi Bornean!

 

Kawinkan Musik Jawa Kalimantan dalam Pop Folk

Mungkin lo mengira bahwa nama “Bornean” berasal dari Kalimantan. Ternyata, band yang lahir pada 21 April 2019 ini justru berasal dari Kota Semarang, Bro. Musik yang dibawakan Soegi Bornean memadukan unsur budaya Nusantara, yakni budaya Jawa dan Kalimantan. Nama “Soegi” diambil dari bahasa Jawa “sugih” yang secara harfiah berarti kaya. Melalui nama itu, harapan akan kaya dalam banyak hal seperti kaya akan karya, hati, dan lain sebagainya disematkan. Selain itu, Soegi juga punya makna lain, yakni nama belakang dari sang vokalis yang berdarah Kalimantan, Fanny Soegiarto.

Penampilan Soegi Bornean yang tak lepas dari sentuhan etnik

Nah, kata Bornean sendiri menunjukkan kecintaan mereka pada tanah Borneo yang menjadi paru-paru Indonesia. Hal ini bisa kita dengar dari petikan gitar Soegi Bornean yang dimainkan oleh Aditya Ilyas dan Damar Komar. Musiknya yang teduh membawa ketenangan dan akan mengingatkan pendengarnya akan hutan Kalimantan. “Musikalitas kami ingin menonjolkan nuansa-nuansa etnik Indonesia melalui petikan gitar. Ini juga salah satu respon nama grup band kami yang membawa beberapa nuansa,” ungkap Aditya Ilyas, sang gitaris.

 

Nyaman dalam Balutan Etnik

Secara konsep, memang Soegi Bornean ingin menonjolkan dua nuansa di dalam lagu-lagu karyanya. Konsep ini ditemukan seiring perjalanan mereka yang berkembang dengan sangat dinamis. Sejak awal, Soegi Bornean menggunakan dua gitar sebagai pemandu dan penyelaras vokal. Tapi nggak menutup kemungkinan untuk menambahkan alat musik pendukung lainnya.

Soegi Bornean tampil nyaman dengan etnik sederhana

Ketika manggung pun, band yang pada April ini akan genap setahun berdiri, selalu membangun aksi berdasarkan kenyamanan. Penampilan dalam berpakaian yang sederhana dengan sentuhan kain etnik yang membumi nggak mengurangi pesona Soegi Bornean. Gerak tubuh lembut dari Fanny sang vokalis yang mengalun seirama juga kerap kali membuat penontonnya terpana. Malah, gaya folk mereka ini mampu menjadi daya tarik dan ciri khas tersendiri. Pembawaan yang tenang ketika menghibur para penonton diyakini akan mampu membuat pesan dapat tersampaikan dengan baik.

 

Dari Saturnus hingga Kala

Ketika akan merilis single perdananya, “Saturnus”, banyak keraguan muncul dibenak Soegi Bornean tentang bagaimana masyarakat menerimanya. Namun, mereka menyadari bersama bahwa ketika membuat sebuah karya dan dipublikasikan untuk dinikmati khalayak, kendali atas kuantitas pendengar maupun penikmat karyanya bukan lagi ada di tangan mereka. Damar mengungkapkan jika ternyata respon yang didapatkan di luar dugaan, “Kami bersyukur respon karya pertama kami justru bisa kami bilang sangat bagus. Dan kami sangat  berterima kasih atas itu kepada teman-teman semua. Karena berawal dari lagu itu juga memantik semangat kami untuk menciptakan  karya lain.”

Di awal 2020, Soegi Bornean telah merilis mini album berjudul “Atma” yang berisi enam lagu. “Asmalibrasi” menjadi salah satu lagu andalan yang membuat banyak pendengar awam langsung jatuh cinta. Terbukti, jumlah pendengar lagu ini berada di peringkat nomor satu dibanding lagu lainnya yang diunggah ke saluran YouTube Soegi Bornean. Lagu Asmalibrasi bercerita tentang satu pasangan yang ingin melanjutkan hubungan ke tahap berikutnya. “Kita sadari bahwa sebagian besar goal dari sebuah hubungan asmara adalah indahnya pernikahan. Hal itu yang sebenarnya ingin kami angkat,” jelas Erick, manager sekaligus Executive Producer serta penulis lirik Asmalibrasi.

“Setiap pasangan punya cerita. Setiap cerita mengandung rasa. Setiap rasa berharap ada cinta. Jika sudah saatnya, semoga semua cinta sederhana dan setara,” begitu Soegi Bornean mendeskripsikan lagu Asmalibrasi. Musik videonya membawa nuansa alam menggunakan warna-warna earth tone yang menenangkan dan selaras dengan nada-nada yang dimainkan. Keceriaan terpancar melalui lirik-liriknya yang bahagia.

Penampilan Fanny Soegi Bornean dalam music video Kala

Jauh berbeda dengan nuansa vibrant yang dibawa Asmalibrasi, Maret 2020 ini Soegi Bornean baru saja merilis karya terbarunya yang berjudul “Kala”. Lagu ini berbicara tentang hilangnya waktu saat muda yang berubah menjadi kenangan. Pantomim yang dihadirkan dalam musik video Kala memberikan tambahan sentuhan emosional. “Sejauh ini, semua lirik dalam lagu kami membahas tentang rasa dan jiwa dalam diri manusia. Apa yang terjadi di sekitar dan bagaimana respon diri menghadapinya,” pungkas Fanny yang juga penulis lirik lagu Kala.

 

Nanti Kita Bertemu: Siasati Rindu Manggung

Diakui Soegi Bornean, dari awal saat performer dan tim dibaliknya saling berjabat tangan untuk mengerjakan semuanya dengan serius. Mulai dari konsep musik dan penampilan yang terancang, hingga bentuk-bentuk publikasi di media sosial. #BERSOEGIRIA dan kabar baik menjadi bentuk konten publikasi unik yang digunakan di Instagram mereka @soegiborneanmusik. Selain itu, memang ada anggota tim yang berangkat sebagai seorang jurnalis, termasuk salah satunya sang gitaris Aditya Ilyas.

Soegi Bornean usai tampil secara live beberapa waktu lalu

Bahkan, ketika kini pandemi corona mewabah di seluruh dunia, Soegi Bornean telah menetapkan langkahnya. Imbauan social distancing tentu berpengaruh terhadap jadwal manggung mereka yang harus ditunda. Meski begitu, Soegi Bornean mengambil langkah untuk ikut mengkampanyekan kegiatan social distancing demi mengurangi penyebaran COVID-19. Mereka ingin mengajak masyarakat saling menjaga di tengah pandemi melalui konser live Instagram #BERSOEGIRIAdaring bertajuk “Nanti Kita Bertemu”. Konser tersebut digelar pada Sabtu, 28 Maret 2020 lalu pukul 20.00 WIB.

Selain itu, Soegi Bornean juga melakukan penggalangan dana untuk turut berkontribusi dalam melawan pandemi ini. Mereka berharap bisa ikut sedikit membantu agar kondisi ini segera berlalu, sehingga Soegi Bornean dan penggemarnya dapat dengan leluasa kembali bertemu. Langkah Soegi Bornean tadi semoga bisa jadi inspirasi agar tetap berkarya dan membantu sesama meski di masa sulit seperti ini, Bro.