Bubugiri yang Selalu Catchy, Easy Listening & Fresh - MLDSPOT
  • Music News
  • Bubugiri yang Selalu Catchy, Easy Listening & Fresh

Bubugiri yang Selalu Catchy, Easy Listening & Fresh

Mon, 28 August 2017

Bagi sebagian orang, nama Bubugiri mungkin terdengar asing di telinga. Namun tidak bagi pecinta musik di ibukota Jakarta. Yup, duo yang dibentuk pada 2010 ini sudah mulai dikenal dengan penampilannya oleh para penggemar musik live acoustic.

Bubugiri merupakan format acoustic duo yang terdiri Bubu pada vocal dan Setiagiri Agung (Giri) pada gitar. Duo vokal-gitar ini sukses merilis album perdana mereka yang diberi tajuk Music Everyday.

Catchy, easy listening dan fresh, itulah gambaran dari album Music Everyday. Album ini merupakan pencapaian awal keduanya setelah malang melintang di industri musik Indonesia. Sebelumnya mereka hanya mengcover lagu-lagu karya musisi lain.

Lirik-lirik yang tersaji dalam setiap track Music Everyday cukup menarik. Setiap bait yang dilantunkan oleh Bubu terdengar seperti percakapan namun bernada. Santai dan sangat asik untuk didengarkan.

Bubu dan Giri menjelaskan bahwa Music Everyday memuat musik yang awalnya terdengar sederhana, namun sebetulnya menyimpan komposisi dan permainan yang kompleks.

"Liriknya tidak terlalu muluk, mudah didengar serta dipahami maknanya. Album ini menceritakan problematika yang sering ditemui pada kehidupan seperti cinta, pertemanan, kehidupan jomblo, kerinduan pada kampung halaman, memori masa kecil, hingga keriuhan Jakarta," ungkap mereka.

Album ini dibuka oleh intro yang semangat mengisyaratkan kita untuk mengikuti musik yang disajikan Bubugiri. Ada satu part di mana ada warna baru dari sajian beatbox serta suara body gitar akustik yang dipukul layaknya cajon.

Suasana desa tanah Parahyangan pun dipindahkan Bubugiri dalam lagu berjudul “Recall”. Tambahan seruling Sunda serta kicauan burung menjadikan “Recall” sangat Indonesia. Pendengar seolah dibawa merasakan kesejukan alam pedesaan.

Kepadatan Jakarta juga memberi inspirasi tersendiri bagi Bubugiri hingga lahir lagu “Traffic of Jakarta”. Dengan lirik yang relevan dengan kehidupan warga Jakarta, “Traffic of Jakarta” cocok didengar saat lo terjebak kemacetan.

Album perdana Bubugiri yang dinamis dan kaya akan warna sepertinya menarik untuk kita dengarkan. Sajian musik akustik pop bercampur beberapa genre lain bisa menjadi 'warna' tambahan dalam perpustakaan musikmu.

Tak sekadar album, Music Everyday dianggap mewakili keduanya sebagai langkah awal untuk terus berkarya. Mereka menyebut bermusik merupakan proses penemuan jati diri.

"Album Music Everyday adalah representasi sikap kami berdua sebagai musisi dan kami sebagai penggemar musik, bahwa tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa hidup tanpa musik. Album ini adalah langkah awal bagi karya-karya kami berikutnya," ungkap Bubu.

 

 

Source: kapanlagi.com, bubugiri.com, rollingstone.co.id

Kupas Tuntas Sejarah Gitar dan Perkembangnya

Tue, 13 April 2021
sejarah gitar

Buat lo penggemar musik akustik pasti udah akrab dengan alat musik yang satu ini, gitar. Gitar memang menyimpan ciri khasnya tersendiri ya, bro. Dengan rangkaian senar yang tepat, bisa menghasilkan irama harmonis dan bernada merdu. Para musisi juga mengakui kalo gitar adalah salah satu instrumen yang nggak bisa dihilangkan saat tengah bermain musik.

Alat musik petik ini memang banyak digemari karena gampang dimainkan, namun masih banyak yang belum tau asal usul gitar. Pasalnya, alat musik ini menyimpan sejarah berliku dan mengalami perubahan dari tiap zaman. Biar makin tau sejarah gitar dan perkembangannya, baca tuntas artikel ini ya, bro.

Sejarah Alat Musik Gitar

sejarah gitar

Credit image - unsplash

Sebenarnya asal usul alat musik petik ini masih menjadi bahan perdebatan bagi sejumlah pengamat musik. Banyak yang meyakini gitar berasal dari negara Spanyol pada abad ke-16 dari guitarra latina, alat musik abad pertengahan dengan desain berlekuk, serta dilengkapi empat senar berpasangan yang bisa menghasilkan bunyi berbeda-beda.

Pada masa itu, gitar hanya memiliki nada dasar, yaitu C – F – A – D’, penyeteman dari empat bagian tengah lute dan vihuela. Gitar abad ke-16 juga memiliki ukuran relatif lebih kecil, serta lubang suara yang belum melebar seperti gitar masa kini.

Selain itu, terdapat empat rangkaian senar yang membentang dari pegbox mirip biola ke jembatan tegangan yang direkatkan ke papan suara, atau belly penopang tarikan langsung dari senar. Di bagian perut gitar terdapat lubang suara melingkar, yang biasanya dihiasi dengan ukiran kayu mawar.

Proses Reinkarnasi yang Panjang

Seiring perkembangan zaman, gitar mengalami banyak perubahan pada instrumennya. Senar kelima ditambahkan sebelum tahun 1600, lalu pada akhir abad ke-18, berjumlah enam senar dengan sistem penyeteman yang masih sangat standar. Dari sinilah, lo bisa mengenal beberapa kunci nada seperti E – A – D – G – B – E’.

Sementara di abad ke-19, sekrup logam diganti dengan pasak penyetelan. Fret awal yang diikat diganti dengan fret gading atau logam bawaan pada abad ke-18. Fingerboard gitar juga dinaikkan sedikit di atas tingkat perut dan dibuat melebar hingga ke tepi lubang suara. Bagian tubuh gitar pun dibuat lebih luas dan lebih dangkal dengan papan suara yang sangat tipis, sehingga menghasilkan peningkatan sonoritas.

Secara internal, batang melintang yang memperkuat papan suara diganti dengan batang radial yang menyebar di bawah lubang suara. Pada bagian leher gitar yang sebelumnya dipasang pada balok kayu, dibentuk menjadi menyerupai penahan atau sepatu yang menonjol ke dalam tubuh, dan direkatkan ke belakang fungsinya untuk memberikan stabilitas terhadap tarikan senar.

Inovasi Besar pada Abad 19

sejarah gitar

Credit image - unsplash

Selama abad ke-17, keberadaan gitar semakin dikenal karena popularitas lute dan vihuela menurun. Pada saat itu juga ada beberapa gitaris virtuoso menjadi terkenal di Eropa, diantaranya; Gaspar Sanz (1674-an), Robert de Visée (1650–1725), Fernando Sor (1778–1839), dan Joseph Kaspar Mertz (1806–56).

Namun akhir abad ke-19 popularitas gitar justru menyusut, tapi untungnya ada perubahan besar melalui tangan Antonio Torres, ia berhasil membuat perkembangan gitar semakin pesat. Instrumen yang dihasilkan adalah gitar klasik, dirangkai dengan tiga gut dan tiga senar sutra yang dipintal logam.

Buat lo yang belum tau, sebagian inovasi gitar pada abad ke-19 merupakan hasil karya Torres, bro. Ia menggunakan bahan nylon atau plastik untuk menghasilkan suara lebih nyaring dan merdu. Jenis gitar yang dihasilkan yaitu gitar 12-senar atau double-course, jaranan Meksiko dan charango Amerika Selatan, keduanya gitar kecil dengan five-course. Seiring berkembangnya zaman, alat musik gitar juga semakin beragam, mulai dari ukulele, gitar akustik, gitar listrik, sampai bass. Perubahan besar dimulai dari sini, bro!

Perkembangan Gitar di Indonesia

Pasti lo juga penasaran bagaimana alat musik gitar masuk ke Indonesia kan, bro? Untuk pertama kalinya masyarakat Indonesia mengenal gitar dari orang-orang Portugis yang saat itu menjadi tawanan kolonial Belanda. Biar nggak bosan di dalam tahanan, mereka berbicara dengan musik dan alat musik yang digunakan adalah gitar.

Sejak saat itu, perkembangan gitar di Indonesia semakin popular dan mulai dimainkan bersama dengan kesenian tradisional lainnya, termasuk musik keroncong. Setelah kemerdekaan, muncul beberapa gitaris tanah air seperti Linda Sukamta dan Andre Irawan, mereka berhasil memenangkan The First South East Asian Guitar Festival pada tahun 1977 dan 1978.

Meski kolonialisme meninggalkan rasa sakit, tapi melahirkan sebuah karya seni. Well, sebelum menjadi alat musik popular dan berpengaruh di dunia musik, gitar harus melalui perjalanan yang cukup panjang dan rumit ya, bro. Nah, sekarang lo udah tau kan bagaimana asal usul sejarah gitar?

 

Featured image - unsplash