Fiersa Besari, Bernada Lewat Musikalisasi Puisi - MLDSPOT
  • Music News
  • Fiersa Besari, Bernada Lewat Musikalisasi Puisi

Fiersa Besari, Bernada Lewat Musikalisasi Puisi

Mon, 04 February 2019
Fiersa Besari, Bernada Lewat Musikalisasi Puisi

Bagi penggemar musik indie, nama Fiersa Besari mungkin tak lagi asing di telinga. Pasalnya, cowok gagah asal Bandung ini merupakan salah satu musisi indie yang digandrungi kaum millenial. Kemampuannya menghasilkan musikalisasi puisi amat mempesona. Lirik yang menyentuh dan alunan nada indah menggetarkan hati dari musisi ini, menjadi beragam karya terbaiknya untuk dunia musik. Tidak hanya itu, komposisi musiknya juga mirip seperti musikalisasi puisi.

 

Sedikit tentang Fiersa Besari

Terlahir sebagai cowok ganteng berkulit putih di Bandung pada 3 Maret 1984, Fiersa dikenal sebagai anak muda yang senang bergaul. Ia menempuh pendidikan di jurusan Sastra Inggris STBA Yapari ABA Bandung. Selepas menamatkan pendidikannya, Fiersa pernah membuka studio rekaman dan menelurkan album bertajuk ’11:11’ di tahun 2012 silam. Dari sinilah publik mulai mengenalnya sebagai musisi indie.

Hasrat seni Fiersa rupanya tak hanya dituangkan dalam bentuk alunan nada. Di tahun 2016, ia menerbitkan karya tulisnya lewat sebuah buku yang berjudul “Garis Waktu”. Lewat buku tersebut, publik akhirnya melihat bahwa Fiersa bukan cuma andal dalam menyanyi, tapi juga menulis.

 

Popularitas Fiersa Besari di media sosial

Sebagai idola milenial, Fiersa aktif dan dikenal luas lewat media sosial. Sebagai musisi indie, Fiersa punya akun YouTube tempat ia mengunggah karya-karyanya. Hingga saat ini, Fiersa Besari sudah memiliki 1.083.156 subscribers. Ia juga memiliki akun Twitter di @FiersaBesari yang sudah di-follow oleh 2 juta followers. Tak ketinggalan, akun Instagram Fiersa juga sudah memiliki 1,9 juta followers! Dengan fakta-fakta tersebut, Fiersa Besari merupakan salah satu musisi dengan pengikut media sosial terbanyak di Indonesia.

 

Karya-karya pilihan Fiersa Besari

Fiersa Bestari yang lo lihat saat ini adalah Fiersa yang sudah bertahun-tahun malang melintang di dunia musik dan sastra Indonesia. Ingin tahu lebih banyak kiprahnya? Ini lho ringkasan lengkapnya!

  • Musik
    Sebagaimana disebutkan sekilas di atas, Fiersa tenggelam dalam lagu selepas lulus dari bangku kuliah. Lagu-lagu yang telah ia rekam selama beberapa tahun, akhirnya dituangkan menjadi album perdananya yang berjudul ‘11:11’.

    Setahun kemudian, Fiersa merilis mini album bertajuk ‘Tempat Aku Pulang’. Mini album ini kemudian ia rilis ulang pada tahun 2014 menjadi sebuah album dengan menambahkan sejumlah lagi hingga total lagu di dalam album tersebut menjadi 14 lagu. Pada album ini, lagu berjudul “Waktu Yang Salah” merupakan salah satu lagu favorit kaum millenial hingga saat ini.

    Tak berhenti sampai di situ, tahun 2015 Fiersa kembali merilis album baru berjudul “Konspirasi Alam Semesta”. Uniknya, ini bukan sekadar album biasa, melainkan adalah sebuah album buku, yaitu album musik yang dikolaborasikan dengan sebuah buku.

 

  • Sastra
    Kiprah Fiersa dalam dunia sastra secara profesional ia mulai ketika merilis buku pertamanya yang berjudul ‘Garis Waktu’ di tahun 2016. Di bukunya tersebut, Fiersa mengisahkan perjalanannya dalam mencari jati diri dan arti sebuah perjalanan. Kemudian di tahun 2017, ia merilis album bukunya yang bertajuk ‘Konspirasi Alam Semesta’. Kehadiran karya ini membuat banyak penggemar berdecak kagum dan makin banyak yang jatuh hati padanya.

    Belum cukup sampai di situ, ia meneruskan dengan mengeluarkan buku berjudul ‘Arah Langkah’ sebagai buku ketiganya, dan kemudian menerbitkan buku keempatnya yang berjudul ‘Juang’. Terakhir, ada buku kelima yang berjudul ’11:11’. Di buku kelima ini, ia kembali menggunakan model album buku dengan sebuah kaset dan barcode di dalamnya. Dengan demikian, lo enggak hanya menikmati lagu-lagu indie ciptaannya saja, tapi juga menyelami imajinasi karya tulisnya secara emosional.

    Fiersa Besari acapkali melibatkan unsur alam pada setiap karyanya. Sesuai dengan pengalamannya yang melibatkan aktivitasnya melakukan pendakian gunung di Indonesia. Beranjak dari hal tersebut, Fiersa ingin menekankan hubungan manusia dengan sang pencipta, alam, dan sesamanya. Kalau sudah begini, siapa sih yang tak kagum pada seniman satu ini?

 

Sumber:
hot.detik.com/spotlight/d-3876212/perkenalkan-fiersa-besari-si-penulis-muda-dan-musisi-indie-dari-bandung
hipwee.com/list/mudakayakarya-nih-kenalin-sosok-fiersa-besari-cowok-muda-bijak-yang-anti-drama-dan-multitalenta/
idntimes.com/hype/entertainment/melonave/10-lagu-fiersa-besari-ini-dijamin-malam-minggu-makin-kelabu-c1c2

Menikmati Musik Jazz dari Waktu ke Waktu

Tue, 23 February 2021
Musik Jazz

Kalau berbicara soal musik jazz, sepertinya nggak akan ada habisnya. Udah ada sejak lama, jazz merupakan salah satu genre musik yang cukup populer banyak kalangan. Perkembangannya pun terbilang cukup menarik – kini, jazz tak hanya sekedar musik lantai dansa, tapi musik yang makin berjaya dari masa ke masa.

Nggak melulu hanya dinikmati oleh kalangan dewasa, tetapi kini para anak muda pun semakin keranjingan dengan aliran musik ini. Well, apakah lo juga termasuk pecinta musik jazz, bro? Perlu diakui, genre musik ini memang timeless – alias nggak ada matinya!

Meski popularitasnya semakin meninggi, bahkan nggak sedikit musisi jazz yang semakin bermunculan. Tetapi, perjalanan genre musik ini, lebih tepatnya di Indonesia – telah melalui perjalanan yang panjang, lho. Dari populer, sempat meredup, hingga kembali diminati.

Nah, tanpa perlu basa basi – berikut ini ulasan mengenai perjalanan musik jazz dari waktu ke waktu yang wajib lo simak, bro!

 

Tahun 1919, Jadi Tahun Awal Masuknya Musik Jazz ke Indonesia

Musik Jazz

Credit Image - k-state.edu

Perjalanan panjang musik jazz di Indonesia, diawali dengan masuknya genre musik ini di tahun 1919. Melalui piringan hitam dari The American Jazz Band, masyarakat mulai mengenal dan menggandrungi musik jazz. Bahkan, ternyata The American Jazz Band pun merupakan musisi jazz pertama yang pernah datang ke tanah air, lho.

Berlanjut ke tahun 1950an – popularitas musik jazz semakin memuncak. Di tahun ini aliran musik jazz juga mengalami perkembangan yang cukup pesat. Perjalanan nggak selalu mulus, popularitas musik jazz pun pernah mengalami pasang surut.

Mulai dari sempat mengalami penurunan popularitas dalam beberapa dekade, hingga kini tetap berjaya dan semakin diminati oleh para kalangan. Perjalanan musik jazz dari waktu ke waktu – memang menjadi kisah unik yang patut ditunggu.

 

Pasang Surut Perjalanan Musik Jazz di Indonesia

Musik Jazz

Credit Image - goodnewsfromindonesia.id

Selayaknya genre musik lainnya, perjalanan musik jazz di Indonesia pun pernah mengalami pasang surut popularitas. Berawal di tahun 1950an – dimana jadi puncak berjayanya musik jazz. Thanks to grup Chen Brothers yang punya peran besar terhadap perkembangan musik tersebut.

Nggak hanya melahirkan sejumlah klub dan festival musik jazz saja, tetapi Chen Brothers juga berhasil mendongkrak popularitas aliran jazz di masyarakat luas – berkat salah satu additional players dari band tersebut, Jack Lesmana yang merambah ke dunia televisi untuk mengenalkan musik jazz.

Setelah sempat meredup, musik jazz berhasil berjaya kembali di tahun 1980 hingga 1990an. Pada tahun yang sama, deretan musisi ternama – mulai dari Elfa Secoria, Benny Likumahuwa, hingga Ireng Maulana berhasil menghadirkan musik jazz yang dapat dinikmati para kalangan muda. Di tahun tersebut – musik jazz sering diputar di lantai dansa.

Masih di tahun yang sama, yaitu 1980an – mengikuti jejak sang ayah, Indra Lesmana membantuk band jazz Krakatau yang jadi idola para remaja di masa tersebut. Diiringi dengan kehadiran Dwiki Darmawan dan Gilang Ramadhan – yang membuat musik jazz makin digandrungi.

Popularitas musik jazz semakin memuncak ketika dibentuknya Institut Musik Indonesia dan Sekolah Musik Indonesia – kedua tempat tersebut dianggap sebagai pencetak musisi jazz terbaik di Indonesia, lho!

Harus kembali mengalami surutnya popularitas, di tahun 1990an peminat musik jazz kembali menurun. Kedatangan berbagai genre musik lain, mulai dari elektro pop, dance, dan melayu – membuat musik jazz dianggap sebagai aliran musik membosankan, musik tua, hingga bikin ngantuk!

Badai pasti berlalu – begitu pula dengan perjalanan musik jazz di Indonesia. Di akhir tahun 90, musisi Syaharani hadir dengan album ‘What a Wonderful World’ bersama Bubu Chen, Benny Likumahuwa, Sutrisno, Oele Pattiselano, dan Cendi Luntungan. Album inilah yang akhirnya mengantarkan musik jazz ke era yang lebih modern.

 

Tahun 2000-Hingga Kini: Masa Kejayaan Musik JazzMusik Jazz

Credit Image - indonesia.travel

Jadi momen terbaik untuk perjalanan musik jazz, di tahun 2000an – deretan musisi jazz kembali bermunculan. Andien, Tompi, Maliq & D`Essentials, Raisa, dan Tulus berhasil membawa kembali musik jazz di Indonesia. Di saat yang bersamaan pula, berbagai festival musik, seperti Java Jazz dan Ngayogjazz pun ikut membantu mengangkat popularitas genre musik tersebut.

Masih terus populer hingga saat ini – tetapi kini, musik jazz punya sentuhan yang berbeda. Jika di tahun 2000an aliran jazz berfokus pada bagaimana musik tersebut dapat dinikmati semua usia dan kalangan. Namun, tidak di era ini.

Kini, musik jazz di Indonesia semakin mengalami perubahan – dan tentu saja peningkatan popularitas berkat Kunto Aji dan Ardhito Pramono yang berhasil mengubah pandangan musik jazz. Dari yang dianggap sebagai musik membosankan, kedua musisi ini seolah mengantarkan musik jazz ke sisi yang anti-mainstream, yaitu indie.

Kunto Aji dan Ardhito Pramono menghadirkan musik jazz yang berpadu dengan genre lainnya. Bahkan, Ardhito Pramono berhasil memadukan musik jazz dengan unsur pop-indie – yang belum pernah dilakukan oleh musisi di era sebelumnya.

Perkembangan musik jazz dari waktu ke waktu ini memang menjadi bukti bahwa aliran jazz dapat menjadi the new “pop”, termasuk di Indonesia. Di masa yang mendatang, lo bisa pastikan bahwa perkembangan jazz di tanah air akan semakin pesat.

 

Featured Image - interactive.wttw.com