Home Music Napak Tilas Dua Festival Jazz Besar di Indonesia, Kampoeng Jazz dan Ngayogjazz
Napak Tilas Dua Festival Jazz Besar di Indonesia, Kampoeng Jazz dan Ngayogjazz

Napak Tilas Dua Festival Jazz Besar di Indonesia, Kampoeng Jazz dan Ngayogjazz

Wednesday, December 26, 2018 - 18:37
Bagikan
Facebook Twitter Email

Masyarakat penikmat musik jazz di Indonesia sungguh sangat beruntung. Hampir setiap bulan mulai dari awal tahun sampai akhir tahun, lo bisa memilih ingin mengunjungi festival musik mana. Mulai dari Jakarta International Java Jazz yang diselenggarakan pada kuartal pertama sampai Jazz Traffic yang biasanya diselenggarakan pada kuartal terakhir tahun.

Nggak hanya itu, lo juga bisa menikmati festival jazz hampir di seluruh daerah. Di Jawa Barat ada Kampoeng Jazz, di Jakarta ada Java Jazz, kemudian di Jawa Tengah ada Jazz Di Atas Awan, di Yogyakarta ada Ngayogjazz dan Prambanan Jazz, kemudian di Jawa Timur ada Jazz Traffic. Nggak hanya di Pulau Jawa, di Bali ada juga Ubud Jazz Festival dan Lombok Jazz Festival. Dengan begitu, lo bisa mengunjungi seluruh daerah di Indonesia sambil berlibur.

Di dalam artikel kali ini, yang akan dibahas adalah bagaimana napak tilas dua festival jazz besar di Indonesia, yaitu Kampoeng Jazz dan Ngayogjazz. Di tahun 2018 ini, Kampoeng Jazz mengambil tema The 10th International Kampoeng Jazz yang menghadirkan JMSN, The Marias, dan MYMP dari Filipina. Kemudian Ngayogjazz tampil spesial di Desa Gilangharjo dengan mengambil tema ‘Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara’. Sekarang simak dua festival jazz besar di Indonesia, Kampoeng Jazz dan Ngayogjazz.

 

Kampoeng Jazz

Kampoeng Jazz

Salah satu cerita menarik dari Kampoeng Jazz adalah acara ini dibuat oleh Badan Eksekutif Mahasiswa dari Fakultas Hukum Universitas Padjajaran Bandung. Jadi, bayangkan sebuah perhelatan jazz internasional yang mempunyai bintang tamu dari luar negeri bisa di-manage dengan sangat baik oleh anak-anak mahasiswa.

Kampoeng Jazz pertama kali dibuat pada tahun 2008 dan selalu bertempat di Universitas Padjajaran, Bandung. Hal yang membedakan Kampoeng Jazz dengan perhelatan festival lain adalah ini dilaksanakan selama 1 hari saja. Jika lo berpikir bahwa festival ini akan sepi jika dibandingkan dengan festival lain, maka lo salah, Urbaners. Kampoeng Jazz ini malah menjadi salah satu acara yang sangat intim buat lo yang ingin melihat seluruh penampil di dalam 1 panggung.

Sekarang coba bandingkan dengan beberapa festival jazz lain yang memiliki variasi artis lebih banyak, walaupun itu membuat acara lebih meriah lo terkadang harus memilih ingin menonton artis di panggung tertentu. Nah, hal seperti nggak akan lo dapatkan di Kampoeng Jazz Urbaners. Walaupun di Kampoeng Jazz juga terdapat 2 panggung, tetapi artis-artis besar akan manggung di main stage. Jadi, lo bisa bersiap untuk melihat penampil terbaik. Hal menarik lain dari Kampoeng Jazz adalah mereka mempunyai mystery guest setiap tahunnya. Pada tahun 2016 kemarin, para penonton dibuat heboh karena ada Slank yang tampil sebagai mystery guest.

Untuk tahun 2019 mendatang, seperti diambil dari Instagram resmi Kampoeng Jazz, acara tahunan yang rutin diselenggarakan setiap bulan April ini akan berpindah bulan. Ini dikarenakan di bulan tersebut terdapat Pemilihan Umum.

 

Mengungkap Konsep Unik Ngayogjazz

Mengungkap Konsep Unik Ngayogjazz

Bagi yang pertama mengikuti perkembangan festival musik jazz di Yogyakarta, sebenarnya Ngayogjazz adalah hasil dari perkembangan festival yang sudah ada di Yogya sebelumnya. Seperti dilansir dari wartajazz.com, jauh sebelum Ngayogjazz sudah ada Jazz Gayeng yang diadakan tahun 2001, kemudian ada Jazz Gayeng yang dilaksanakan tahun 2002. Dari situ terlihat iklim musik jazz di Yogyakarta sudah terbentuk sejak lama.

Kemudian di tahun 2007, Ngayogjazz muncul dengan konsep yang sangat unik. Mengusung tema lokal, setiap tahun Ngayogjazz akan berpindah dari satu desa ke desa yang lain. Tujuannya adalah mengeksplorasi desa sebagai ruang berkesenian dan juga mengelaborasi pertunjukkan seni tradisional dengan jazz. Tentu ini adalah hal yang baru, bagaimana masyarakat penikmat musik dan musik jazz secara khusus bisa datang ke sebuah desa kecil dan melihat pertunjukan kelas internasional.

Lalu, bagaimana tanggapan masyarakat setempat? Panitia dari Ngayogjazz nggak hanya membuat acara di tengah desa, tetapi seluruh masyarakat juga bisa ikut berpartisipasi, entah itu secara sumbangsih kesenian,ataupun berdagang. Yup, Urbaners, di acara Ngayogjazz pasti akan diadakan Pasar Jazz yang di dalamnya terdapat barang tradisional khas daerah tersebut, ada juga stan dari komunitas yang ada di Yogyakarta. Lalu, bagaimana di Ngayogjazz 2018?

Mengungkap Konsep Unik Ngayogjazz

Perhelatan Ngayogjazz 2018 mengambil tema ‘Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara’. Tema ini sangat menarik karena berarti walaupun negara mempunyai hukum dan tata negara, namun tiap daerah juga memiliki adat dan budaya yang khas menurut mereka dan erat kaitannya dengan kearifan lokal daerah masing-masing. Nah, mengambil tempat di Desa Gilangharjo, para penonton akan diajak masuk ke dalam ke desa yang berada di Bantul.

Lineup menarik Ngayogjazz adalah mereka selalu mengajak musisi dari luar negeri. Di tahun 2018 ini mereka menghadirkan Kika Sprangers dari Belanda yang masuk ke dalam Young VIP 2018 di Dutch Jazz Programmers, lalu ada Ozma Quintet dari Perancis, dan Parejo Quartet dari Spanyol. Kemudian untuk lineup lokal yaitu Trio Tohpati Bertiga, Yuri Mahatma Quartet, Idang Rasjidi, Tompi, dan juga tampil MLD Jazz Project Season 3.

Itulah napak tilas 2 festival jazz besar yang ada di Indonesia. Kampoeng Jazz yang mempertahankan konsep jazz menarik dalam 1 hari dan Ngayogjazz yang setia dengan konsep lokal ini patut diacungi jempol.

 

 

Source: ngayogjazz.com