Jazz Berbisik Monita Tahalea - MLDSPOT
  • Profile
  • Jazz Berbisik Monita Tahalea

Jazz Berbisik Monita Tahalea

Thu, 18 May 2017

Urbaners yang suka dengan musik genre jazz, tentu sudah tidak asing dengan penyanyi berparas cantik, Monita Tahalea. Suaranya yang membisik lembut mengingatkan pada gaya-gaya penyanyi seperti Norah Jones dan Diana Krall.

Nama Monita pertama kali dikenal lewat ajang Indonesian Idol tahun 2005. Meski tak jadi juara, Monita mampu menghipnotis penonton dengan lagu berjudul Kekasih Sejati karya Yovie Widianto.

Karier Monita mulai terbuka pada tahun 2009 ketika sejumlah ”alumni” Indonesian Idol dikumpulkan Indra Lesmana dalam album Kembali Satu. Berada di lingkungan pergaulan Indra Lesmana, Monita mulai mengenal jazz lebih mendalam.

Kebetulan dalam Kembali Satu tersebut, ia mendapat lagu yang jazzy yaitu ”Di Batas Mimpi” karya Indra Lesmana/Eki Puradiredja. Sejak itu penyanyi cantik berdarah Ambon, Austria dan Manado, itu banyak bergaul di lingkungan seniman jazz.

Ia kemudian tampil pada perhelatan musik Serambi Jazz di GoetheHaus, Jakarta, bersama musisi kawakan Oele Patiselanno, Jeffrey Tahalele dan Cendi Luntungan. Ia dengan mulus membawakan ”God Bless the Child”.

Monita mengaku melekatnya jazz pada dirinya tak bisa dilepaskan dari pengaruh Indra Lesmana. Meski jazz melekat pada dirinya, pemilik nama lengkap Monita Angelica Maharani Tahalea ini mengaku juga senang mempelajari jenis musik lainnya.

"Musik jazz bisa melekat ke aku karena yang produser-in album pertama itu Mas Indra Lesmana. Dan aku banyak kerja sama dengan beliau, kenal sama orang-orang yang main musik jazz, jadi aku kental ke arah situ (jazz)," ujar Monita.

Daya tarik suara Monita bukan pada vokal yang berkarakter dalam arti unik sehingga tak ada penyanyi yang bisa menyamai. Vokalnya malah bisa dibilang sangat polos seperti anak ABG. Gaya bernyanyinya pun tidak dipenuhi lekukan-lekukan yang kadang malah membuat kuping yang mendengarkan jadi bosan.

Monita selalu bisa membuat sebuah lagu terdengar manis dan catchy hanya dengan bermodal suara 'polos'-nya. Tanpa improvisasi berlebihan, ia mampu memanjakan telinga dan hati penikmat musik seperti layaknya sedang mendongeng.

Monita memilih membisik sejuk. Ada yang mengatakan jenis suaranya itu sebagai suara kamar, bukan suara stadion. Suaranya seperti tidak mampu meraih nada tinggi. Saat ia harus menjangkaunya, maka ia bisa sampai dengan tidak memaksa. Mesra pula terdengarnya.

Seperti ketika bernyanyi ”Over The Rainbow” di album Dream, Hope & Faith produksi Inline Music 2009 di bawah arahan Indra Lesmana. Diiringi gitar seniman jazz sekelas Oele Patiselanno, Monita menunjukkan karakter suara enaknya. Setuju kan Urbaners?

Baca Juga : 4 Penyanyi Jazz Wanita Indonesia Terfavorit

 

Source: Okezone.com

Mods Culture: Gaya Hidup yang Menggabungkan Vespa Klasik dan Musik

Tue, 23 February 2021
Vespa Klasik

Semua orang punya referensinya masing-masing dalam berpakaian. Ada yang lebih suka berpenampilan dengan style sesuai kenyamanannya, ada yang sukanya up-to-date dengan fashion terkini, ada juga yang punya referensi dari band atau genre musik yang diminati.

Beberapa waktu lalu, MLDSPOT sempat membahas gimana band grunge mempengaruhi cara berpakaian yang sampai sekarang juga masih banyak diminati. Kali ini, MLDSPOT bakal ngebahas tentang gaya hidup yang juga mempengaruhi gaya berpakaian di dekade 60-an yang identik dengan musik rock & roll saat itu dan jadi outfit yang identik dengan vespa klasik – yang dikenal dengan Mods Culture.

Dari musik, kok bisa jadi vespa klasik – pasti lo bertanya-tanya, kan? Mengingat ternyata secara nggak sadar ternyata gaya hidup dan gaya berpakaian ini masih banyak diminati, sepertinya informasi ini penting untuk lo ketahui. Mending langsung aja simak selengkapnya mengenai mods culture di bawah ini ya, bro!

Gaya Berpakaian ‘Modern’ Saat itu

Vespa Klasik

Credit image – John’s Medley

Gaya ini awal mulanya muncul di London sekitar tahun 1960-an. Dimana gaya hidup mods ini berasal dari kata modernis. Gaya ini awalnya menjadi sebuah gaya fashion remaja saat itu yang mencoba untuk mematahkan tradisi berpakaian yang telah diwariskan.

Gaya berpakaian yang dikembangkan oleh para remaja kelas pekerja yang berpaku pada musik yang sedang diminati saat itu – yaitu rock & roll. Berdasarkan musik ini akhrinya para remaja menggunakan pakaian dengan warna solid, cerah, dan kontras.

Adaptasi berpakaian dari gaya musik ini berakar dari kelompok kecil di era 1950-an dimana modernisasi mulai muncul. Kelompok ini identik dengan para anggotanya yang mendengarkan musik jazz modern. Gaya inipun disambut oleh anak muda saat itu hingga berubah menjadi gaya hidup.

Dari Gaya Hidup dari Musik, Pakaian, sampai Vespa Klasik

Bermula dari gaya berpakaian, mods culture-pun berubah menjadi gaya hidup yang dilakukan oleh kaum-kaum muda saat itu. Dari berpakaian, akhirnya mods culture menjadi punya pasar dan penggemarnya sendiri. Sejak kemunculannya, akhrinya para kelompok penganut mods culture ini sering mengadakan pertemuan di coffee shop.

Nggak cuma berpakaian dan gaya musik aja, ‘anak tongkrongan’ dengan gaya mods ini juga identik dengan menggunakan vespa klasik. Seiring berjalannya waktu, penganut mods culture menjadikan kepemilikan vespa klasik sebagai subkultur yang berbeda.

Vespa klasik menjadi pendukung dari gaya hidup ini sendiri sehingga menjadi lebih kompleks. Mods dianggap sebagai gaya hidup kaum urban yang lebih mementingkan pergaulan dibandingkan hal-hal lain dihidupnya. Dengan kehadiran vespa klasik, gaya hidup mods ini semakin merajalela.

Akhirnya, gaya hidup inipun nggak hanya dianut oleh para remaja kelas pekerja aja. Subkultur mods ini menjadi komersil secara nggak langsung tanpa harus dikomersilkan – karena dengan banyaknya penganut dari mods, akhirnya menjadi gaya hidup ini nggak hanya untuk para pekerja saja.

Mods Culture di Indonesia

Vespa Klasik

Credit image – Jakarta Mods Mayday

Di Indonesia sendiri, subkultur mods ini juga digemari – bahkan hingga saat ini. Salah satu penanda hadirnya mods culture di Indonesia adalah awal 1960-an dimana vespa klasik dan musik menjadi satu kesatuan bagi kaum muda mudi saat ini.

Nggak jauh berbeda dari London, di Indonesia sendiri para penganut mods culture ini juga mengikuti tren dari musik di dunia barat sana – The Beatles memiliki peran yang cukup banyak pada perkembangan subkultur mods di Indonesia.

Kepemilikan vespa klasiklah yang sedikit membedakan mods culture di Indonesia dengan di dunia barat sana. Karena di Indonesia, pemilik vespa klasik nggak hanya dimiliki oleh kaum pekerja ataupun kelas menengah bawah. Tren mods ini membuat vespa klasik menjadi lebih hidup.

Di Indonesia sendiri, para penganut mods ini berkumpul setiap perayaan Mayday dengan mengadakan Mods Mayday. Awalnya, kegiatan ini ahnya dilakukan oleh komunitas Skinhead Warriors dari mulut ke mulut, namun semakin berjalannya waktu, kegiatan ini menjadi rutinitas yang dilakukan pada bulan Mei setiap tahunnya.

Menarik banget subkultur tentang mods ini ya, bro – dari musik, gaya berpakaian, sampai ke vespa klasik. Mungkin kalau lo pengguna vespa udah nggak asing lagi untuk riding dengan komunitas mods lo tanpa lo sadari.

Jadi, apakah lo termasuk dalam pengikut mods culture ini? Atau justru menjadi tertarik untuk mengikutinya?

 

Feature image – John’s Medley