Home Profile Andre Surya, Animator 3D Jagoan Visual Effect untuk Iron Man dan Star Trek
Andre Surya, Animator 3D Jagoan Visual Effect untuk Iron Man dan Star Trek

Andre Surya, Animator 3D Jagoan Visual Effect untuk Iron Man dan Star Trek

Tuesday, May 14, 2019 - 15:04
Bagikan
Facebook Twitter Email

Andre Surya adalah salah satu animator sukses yang telah menciptakan animasi dan visual effect untuk berbagai film box office Hollywood, seperti Iron Man, Transformer, dan Star Trek. Setelah mengumpulkan banyak pengalaman di karir internasional, pria asal Indonesia ini kembali ke dalam negeri untuk membuat sekolah animasi bernama Enspire School of Digital Art (ESDA). Ia ingin, sekolah tersebut bisa mencetak lebih banyak lagi animator muda Indonesia yang bisa menembus pasar Hollywood dan film-film kelas dunia.

 

Bermula dari Main Game, Sukses Menjadi Animator

Bermula dari Main Game, Sukses Menjadi Animator

Perjalanan Andre menjadi jagoan animator dan visual effect berawal dari hobinya sejak kecil, yaitu bermain game. Salah satu game balap yang dimainkan Andre saat itu menuntutnya untuk mempelajari software 3D agar bisa memodifikasi tampilan game. Yang awalnya hanya iseng coba-coba, Andre tekun mempelajari animasi 3D, sampai-sampai ketertarikannya di bidang itu melebihi hobinya bermain game sehari-hari. Saat SMA, ia telah berani menghasilkan karya-karya 3D sendiri. Salah satu karyanya yang berjudul “Flower in the Sky” berhasil memenangkan kejuaraan internasional.

Lulus SMA, Andre melanjutkan kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Tarumanegara, Jakarta. Baru setahun kuliah, ia mendapatkan tawaran dari perusahaan lokal di Jakarta untuk membuat proyek arsitektural. Dia pun memutuskan mengambil pekerjaan tersebut dan meninggalkan kuliahnya. 

Bermula dari Main Game, Sukses Menjadi Animator

“Waktu itu di Indonesia belum ada animasi 3D. Animasi lain pun baru sebatas proyek arsitektural dan iklan. Karena itulah, perusahaan itu berani memberikan gaji yang tinggi. Tanpa pikir panjang, saya langsung ambil, karena ketika sudah lulus kuliah, belum tentu bisa dapet kerja yang seperti ini. Apalagi saya suka banget bisa mengerjakan passion yang benar-benar sesuai sama diri saya sendiri,” kata Andre.

Setelah bekerja selama dua tahun, orang tua Andre memintanya untuk kembali melanjutkan kuliah yang sempat tertunda. Ia kemudian memilih untuk mengambil program diploma dan berkuliah di jurusan Visual Effect dan 3D Animation di Vancouver Film School, Kanada. Begitu lulus, Andre pun melamar ke salah satu perusahaan film animasi kelas dunia, yaitu Lucasfilm di Amerika Serikat. Tapi karena masalah visa, ia akhirnya ditempatkan di Lucas Film cabang Singapura.

Andre Surya menjadi satu-satunya orang Indonesia yang bertugas sebagai digital artist di Lucasfilm Singapore. Lucasfilm sendiri adalah salah satu rumah produksi terbesar di dunia, yang didirikan oleh George Lucas, sutradara dari film Star Wars. Dari sanalah ia kemudian mendapatkan proyek pembuatan visual effect untuk film-film box office Hollywood. Beberapa proyek yang pernah Andre tangani diantaranya adalah Iron Man, Transformers, Indiana Jones, The Last Airbender, dan Star Trek. Wah, keren banget ya, Urbaners?

 

Kembali ke Indonesia dan Mendirikan Sekolah Animasi ESDA

Kembali ke Indonesia dan Mendirikan Sekolah Animasi ESDA

Bekerja selama 4 tahun di Lucas Film Singapura, Andre memutuskan kembali ke Indonesia dan membuka studio dan sekolah animasi bernama Enspire School of Digital Art (ESDA). Ia ingin, sekolah tersebut bisa mencetak lebih banyak lagi animator muda Indonesia yang bisa menembus pasar Hollywood dan film-film kelas dunia.

“Selama ini orang bilang kalau kebanyakan main gadget itu menimbulkan dampak negatif. Ini yang pingin saya ubah. Daripada bermain game, kenapa kita nggak coba bikin game sendiri? Itu adalah pengalaman yang lebih positif karena kita bisa berkarya,” ujarnya.

Saat ini, ESDA telah tersebar di 35 titik, hampir di seluruh wilayah Indonesia. Materi pembelajaran di ESDA dibagi dalam kelompok umur. Untuk umur 10 sampai 14 tahun, ESDA memiliki program 3D game design, dimana para peserta akan diajarkan tentang cara membuat permainan simpel seperti Mario Bros dan Flappy Bird.

“Jadi untuk anak-anak kecil, kami sengaja merancang kurikulum yang 80% fun dan 20% lainnya edukatif. Karena kita tahu kalau anak-anak umur segitu pasti mereka gampang bosan. Gimana caranya kita bisa mengajak mereka untuk bikin game, supaya mereka terbiasa untuk berkreasi dan berkarya sedari kecil,” kata Andre.

Selain program junior, ada juga kelas profesional khusus untuk peserta umur 17 tahun ke atas. Pendidikan pro ini memang berfokus untuk mencetak animator yang siap terjun ke industri animasi. Kalau lo pingin pendidikan yang lebih intensif, ESDA juga menyediakan program akademi dengan masa pendidikan lima bulan dan jaminan kerja.

Menurut Andre, pihaknya berani memberikan jaminan tersebut karena memang saat ini industri animasi sedang bertumbuh pesat dan membutuhkan banyak animator. Sampai sekarang, lulusan ESDA telah mencapai 4000 orang yang sebagian besarnya telah bekerja di industri animasi baik di Indonesia, Malaysia, Jepang dan Korea. Gimana Urbaners, kira-kira lo tertarik nggak buat gabung?

 

Pesan dan Harapan bagi Animator Muda

Pesan dan Harapan bagi Animator Muda

Jangan berharap sukses dengan cepat. Itulah pesan utama yang ingin disampaikan Andre kepada para animator muda Indonesia. Di jaman yang serba instan ini, seringkali pola pikir anak-anak muda adalah ingin hasil yang instan dalam meraih kesuksesan. Padahal, harus disadari bahwa ada proses yang panjang untuk menjadi sukses. Bahkan, Andre yang sudah bekerja di industri animasi selama 20 tahun masih terus berproses untuk mencapai target-target yang ia miliki.

“Banyak anak-anak muda yang ingin hasil instan, misalnya dalam beberapa bulan langsung booming. Memang ada contoh orang-orang luar biasa yang bisa melakukannya. Tapi, kita juga harus realistis dan bekerja keras. Jangan sampai gampang menyerah karena nggak mau bersusah payah,” ujar Andre.

Salah satu cita-cita Andre yang belum tercapai sebagai seorang animator, yaitu menciptakan Intelektual Properti (IP) atau semacam karakter asli Indonesia yang booming di negeri sendiri. IP yang dimaksud Andre contohnya adalah karakter Doraemon di Jepang, atau karakter Spiderman di Amerika. Kedua karakter itu dikenal banyak orang di dunia. Ia berharap, suatu saat nanti Indonesia memiliki IP asli yang nggak kalah tenar dari karakter luar negeri.

“Sudah seharusnya ada produk Indonesia yang jadi tuan rumah di negeri sendiri. Kami para animator tentu sedang berjuang bersama-sama untuk membuat IP kebanggaan, film animasi Indonesia yang dibuat oleh orang Indonesia dan bisa terkenal sampai ke luar negeri,” tutup pria kelahiran Jakarta ini.