Di era sekarang, lo bisa menemukan review film yang baru aja rilis dengan mudah. Dari media besar sampai thread random di media sosial, semuanya kasih opini.
Masalahnya, kalau lo telan mentah-mentah, justru bisa bikin lo kesel sendiri karena salah pilih tontonan. Waktu lo yang berharga itu, terbuang sia-sia.
Supaya nggak kejebak hype atau ikut-ikutan jadi hater, ada beberapa cara biar lo bisa mencerna review film dengan lebih cerdas.
1. Gunakan Reviewer sebagai “Filter”
Anggap reviewer itu kurator, membantu lo mengenali film yang mau lo tonton atau hindari.
Kesalahan paling umum adalah fokus ke skor penilaian reviewer. Padahal, angka seperti 7/10 atau 3 bintang itu cuma ringkasan saja. Hal yang lebih penting justru alasan di balik penilaian itu.
Kalau ada reviewer bilang filmnya “terlalu lambat”, itu belum tentu negatif buat lo. Bisa jadi justru itu nilai jual, apalagi kalau lo suka film dengan tempo santai atau tipe slow-burn.
2. Cari Reviewer yang Seleranya Mirip Sama Lo
Daripada ngikutin skor rata-rata di situs besar, lebih berguna kalau lo nemu satu atau dua reviewer yang seleranya mirip sama lo.
Ini penting, karena selera nonton itu subjektif. Film yang dianggap masterpiece belum tentu cocok buat semua orang.
Cari siapa yang sering merekomendasikan film yang ternyata lo suka. Lihat juga siapa yang sering nggak suka film yang juga lo anggap membosankan. Nah, opini mereka biasanya jauh lebih relevan.
Baca juga: Urutan Nonton Gundam Terbaik

Photo by @pavel-danilyuk
3. Bedain Review Teknis Sama Kesan Nonton
Review film biasanya ada yang fokus ke aspek teknis, dan ada juga yang lebih ke perasaan setelah nonton.
Kritik teknis umumnya membahas hal seperti sinematografi, alur cerita, pengembangan karakter, visual, sampai logika naskah. Ini penting kalau lo mau paham kualitas produksi sebuah film.
Tapi di sisi lain, reaksi emosional juga nggak kalah penting. Film yang secara teknis dianggap jelek kadang tetap bisa menghibur kok. Bahkan ada istilah “so bad, it's good” dimana sebuah film yang gagal total secara teknis, menjadi sangat lucu dan menghibur karena ketidaksengajaan.
Jadi, jangan sampai analisis teknis menghambat lo menikmati sebuah film.
4. Waspadai Efek “Echo Chamber”
Di media sosial, sering muncul fenomena di mana opini jadi seragam. Semua orang seolah wajib suka atau benci film tertentu biar dianggap relevan. Ini yang disebut echo chamber.
Kalau lo cuma baca satu jenis opini, sudut pandang lo jadi sempit. Solusinya, coba cari dua review yang berlawanan. Satu yang sangat memuji, satu yang sangat mengkritik.
Dari situ, lo bisa lihat gambaran yang lebih seimbang dan punya dasar buat menentukan opini sendiri.
5. Jadikan Review sebagai Dialog Setelah Nonton
Nggak semua review harus lo baca sebelum nonton. Kadang justru lebih seru kalau lo baca setelahnya. Dengan begitu, lo bisa bandingin pendapat lo sama reviewer, nemuin detail yang mungkin sempat kelewat, dan juga lihat sudut pandang lain yang sebelumnya nggak kepikiran.
Pada akhirnya, lo tetap yang bikin keputusan. Kalau ada film yang kelihatan menarik buat lo, waktu ada, dana juga ada, ya tetap tonton aja meskipun rating-nya jelek atau banyak yang nyinyirin.
Pengalaman nonton itu personal. Apa yang lo rasain jauh lebih valid dibanding angka penilaian di situs mana pun. Cakep!
Cover photo by @tima-miroshnichenko



No one has commented yet. Be the first to comment on this article!