• News
  • Berjiwa di Asmara Art & Coffee Shop

Berjiwa di Asmara Art & Coffee Shop

Sat, 19 October 2019
Butuh tempat nongkrong nyeni di Yogyakarta?

Selalu ada sesuatu di Yogyakarta yang membuat lo bakal betah menghabiskan waktu di kota nyeni ini. Café-cafenya, komunitasnya, serta sentra-sentra seni yang asyik sebagai lokasi untuk berkontemplasi.

Jangan heran kalau tempat-tempat baru selalu muncul, secara Yogyakarta adalah kota wisata favorit. Salah satu tempat nongkrong yang nggak pernah sepi adalah Asmara Art & Coffee Shop. Café yang berlokasi di Jalan Tirtodipuran ini juga kerap menjadi tempat nongkrongnya para seniman. Mulai dari berkreasi sampai ber-tipsy.

 

Nongkrong yang “Berjiwa”

Sebenarnya kalau dari eksterior dan interior, Asmara Art & Coffee Shop jauh dari Instagrammable. Feel-nya memang belum dapat kalau lo datang di jam 6 sore atau bahkan jam 8 malam. Crowded-nya belum ada! Yah, bisa dibilang crowded dan live music di Asmara Art & Coffee Shop-lah yang menjadikan tempat nongkrong ini lebih “berjiwa” ketimbang tempat serupa di kawasan Tirtodipuran.

Nongkrong ditemani live music, seru Urbaners!

“Konsep Asmara sebenarnya menggabungkan antara konsep sebuah resto dan artshop yang kemudian berkembang menjadi ruang kreatif untuk berkesenian seperti yang telah terjadi sampai saat ini contohnya seni rupa, musik, seni masak, puisi, performance,” jelas Arya Sukma, founder dan owner dari Asmara.

Bersama sang suami Diar, Arya mendirikan Asmara Coffee sejak 2011 lalu. Dan konsep awalnya memang nggak hanya restoran tetapi juga ruang kreatif untuk berkesenian. Sejak berdiri sampai sekarang, dalam kurun waktu tiga minggu sekali, Asmara memiliki program #asmararupa. Program ini melibatkan banyak seniman Indonesia dan luar negeri untuk yang telah terlibat ataupun berpameran di #asmararupa.

Seperti 14-26 Oktober 2019 lalu, Asmara menggelar acara Zen Blots, Ink Is Bloods yang merupakan solo exhibition dari Madzen GV, kemudian ada pertunjukan musik akustik dari musisi Belanda Anabel Laura di Minggu sebelumnya 7 Oktober, dan visual arts and memory exhibition bertajuk  Dia De Los Muertos yang dibuka oleh Ugo Untoro 2 September 2019.  

Suasana pameran di Asmara Art & Coffee Shop

“Musik, seni, gue dan partner memang ingin membuka kesempatan seluas-luasnya bagi para seniman untuk berekspresi di Asmara,” tegasnya.

 

Variasi Live Music

Selain pertunjukan musik yang dilakukan secara berkala, Asmara juga menyiapkan live music secara rutin. Untuk band reguler yang perform setiap hari Rabu sampai dengan Sabtu dipilih beberapa genre berbeda setiap harinya. Mulai dari Classic Rock, Rock ‘N Roll, Blues, Reggae dan British Pop.

“Selain karena selera pribadi, genre tersebut dipilih berdasarkan permintaan paling banyak dari pengunjung,” jelas Arya Sukma lagi. Tentunya walaupun selera personal, tetap ada standarnya baik itu band/solo yang memang khusus untuk live session ataupun pameran.

Meski judulnya “seni”, karena Asmara memang notabene adalah sebuah café, urusan food and beverage tentunya nggak serta merta diabaikan. Karena tamu yang datang beragam, Asmara menyajikan beberapa menu yang bisa menjadi pilihan baik untuk tamu domestik maupun manca negara.

Merangkul semua kalangan

Untuk menu makan favorit ala Indonesia ada Nasi Goreng Kampung, sedangkan ala Brazil adalah Piri Piri Ayam Bakar. Untuk minumannya ada Kopi Tubruk, Wedang Jahe Gepuk, dan Wedang Uwuh yang menjadi favorit orang lokal dan tamu luar.

Bicara soal target market, sebisa mungkin Asmara ingin menjaring massa dari berbagai kalangan. Nggak hanya anak muda tapi juga para senior. Sebagai wadah untuk berekspresi ataupun sekedar bersantai.

Sejauh ini, pengunjung di Asmara kebanyakan dari berbagai komunitas, baik itu seni, musik, otomotif, dan lain sebagainya. Pada umumnya, mereka memiliki kegiatan lain siang hari, ada yang bekerja, kuliah sehingga waktu yang paling tepat untuk bertemu bersama teman-teman lain adalah pada waktu malam hari.

Selain untuk melepas penat dari kesibukan masing-masing juga menjadi ajang bertukar ide dan berbagi pengalaman. “Ini juga alasan kenapa Asmara bukanya dari sore ke malam,” Arya Sukma menerangkan.

 

Ada Banyak Tempat Kreatif

Berbicara soal tantangan, nggak bisa dipungkiri kalau begitu banyak café dengan nuansa kreatif di Yogyakarta. Karenanya, sebisa mungkin Asmara berusaha menghadirkan ide-ide yang “lebih” baru. Terutama pada event-event yang diprogram secara berkala.

Keseruan saat pertunjukan musik di Asmara

Tentunya ini dilakukan pengunjung terus mendapatkan penyegaran dari segi konten yang disajikan oleh Asmara. “Gue ingin para pengunjung merasa homy, tidak merasa berada di tempat yang asing. Dan juga friendly, jadinya lo-lo pada bisa merasa betah karena bisa berkenalan dengan teman-teman baru,” cerita Arya Sukma semangat.

Tak jarang diisi oleh performer dari luar Indonesia

Selain soal “persaingan” kreativitas, tantangan lain yang dihadapi adalah kendala masih adanya regulasi yang belum begitu mendukung untuk kegiatan ataupun usaha seperti Asmara. Walaupun begitu Arya Sukma tetap optimis, sebagai kota wisata Yogyakarta sejatinya memang membutuhkan ruang-ruang kreatif untuk semakin menghidupkan semangat berkesenian Indonesia.

“Gue berharap terciptanya iklim yang lebih baik ke depannya untuk ruang-ruang seni seperti Asmara untuk mendukung Yogyakarta sebagai kota seni,” tutupnya mantap. 

 

Pemuda Sinarmas: 15 Menit Pertama Masa Krusial untuk Silent Koplo

Thu, 05 March 2020
Pemuda Sinarmas sedang berada dibelakang DJ booth MLDSPOT Art & Sound Experience

Selama tiga hari pagelaran Jakarta International Java Jazz Festival 2020, ada satu tempat yang menyajikan penampilan paling berbeda. Lokasi yang terletak di sisi luar ini bernama MLDSPOT Art and Sound Experience. Sebuah tempat yang menawarkan pengalaman baru menikmati musik dengan “diam-diam” di saat panggung satu dan yang lainnya bersaut-sautan dengan dentuman musik bervolume keras.

Player yang menyajikan musik Silent Koplo ini adalah Pemuda Sinarmas. Ia mengaku baru pertama kali melakukan penampilan dengan cara Silent Koplo. Untungnya Ajis, begitu ia akrab disapa, mendapatkan tempat bermain yang mendukung dan membangun mood pengunjung jadi lebih nyaman menikmat musik Silent Koplo.

Namun environment lokasi Art and Sound ini akan menjadi sia-sia bila Ajis gagal menyajikan playlist yang kurang asik. “Vibenya pas di booth ini orang datang dan pergi, gua harus ngatur playlist, datang pertama vibenya harus koplo santai dulu,kata Ajis saat ditemui usai penampilannya di hari ketiga.

Bagi Ajis tantangan main untuk Silent Koplo adalah harus menyiasati playlist dengan tepat agar orang tetap stay dengan headset-nya. “Kuncinya gua buat nyaman diri gua sendiri dengan playlist, ngebangun mood pelan-pelan. Sejam sih cukup. Yang krusial itu 15 menit pertama, ketika mainin 2-3 lagu, dan lagu pertama itu paling krusial. Untungnya gua ga main sm DJ lain, jadi ga perlu perhatiin dia bawain lagu apa, ini bisa ngebangun mood gua sendiri. Gimmick awal gua tetap sajikan musik yang punya kultur jazz, ini tantangan baru buat gua dan bisa berhasil 90%,ujar Ajis.

Pengunjung Java Jazz Festival 2020 menggunakan headphone di booth MLDSPOT Art & Sound Experience

Selain itu, hal yang terpenting adalah ia harus merespon flow audience yang datang, “karena di Java Jazz Festival gua harus buat mereka nyaman dengan musik-musik yang punya kultur Jazz juga, untungnya gua punya databased kaset Beatles yang dangdut, dari tahun sekitar 80-an. Kalau langsung bpm (tempo musik ) tinggi mereka pasti langsung kabur, beat santai yang punya alunan saksofon dan dentuman kendang itu bisa bikin pengunjung stay, setelah itu baru gua naikin bpm dengan playlist yang funky sesuai booth ini,” kata Ajis yang pernah datang ke acara Silent Disco.

 

BUKAN DJ IDEALIS

Belakangan koplo memang menjadi musik yang paling diminati untuk pengalaman seru-seruan bersama teman bernyanyi dan berjoget bersama. Namun Ajis punya pandangan lain.

“Koplo ini hanya tren aja, gua dulu mainin disko ketika itu gua masukin funky kota dan koplo, lalu saat ini boom koplo. Tantangannya bagaimana kita terus memutarkan roda tren itu. Gua menyadari bahwa bermain musik di elektronik sebisa mungkin bisa disesuaikan dengan tren,”

Sebelum bermain koplo dan disko, dahulu Ajis memulai karier Pemuda Sinarmas dengan memainkan lagu-lagu reggae sampai akhirnya ia kesulitan mencari kasetnya.

Ga selamanya kuping orang kuat dengan musik koplo, bakal jengah pasti.

Gua menyadari bukan DJ yang idealis, gua masukin beragam genre malah di performance gua, tujuannya untuk kasih tau kalau musik Indonesia itu tuh banyak banget. Gua nggak mau terpaku dengan satu genre dan satu identitas kalau Ajis itu DJ anu. Kadang gua mainin etnik juga, lagu Sunda, Banyuwangi, sampai Sumatera. Biar ga stuck dan bisa berkembang,” ujar Ajis.

4 orang pemuda menggunakan headphone di MLDSPOT Art & Sound Experience

Dalam kesempatan yang sama, Ajis meramalkan nantinya orang-orang pasca kelelahan telinganya dengan musik koplo akan balik ke genre house dan RNB, “RNB ga bakal mati. Disko selalu ada dan stabil. Kalau kople belum tentu, waktu gua main di Surabaya gua dilarang mainin koplo. Karena koplo itu udah kulturnya di sana dan mungkin mereka bosen. Tapi sekarang sedang jadi tren di ibu kota,” tutup Ajis.