• News
  • Cycle Messenger Lebih Dari Sekedar Profesi

Cycle Messenger Lebih Dari Sekedar Profesi

Tue, 27 August 2019
Cycle Messenger Lebih Dari Sekedar Profesi

Kompetisi hanyalah kedok. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan suasana di Cycle Messenger World Championship (CMWC) 2019. Saat itu hampir tidak bisa dibedakan yang mana crew, peserta ataupun pengunjung biasa, semuanya blend in, saling membantu dan have fun bersama. Gambir Expo yang dipenuhi dengan sepeda berbagai macam model tidak menunjukkan acara yang pasti, para pesepeda dari dalam maupun luar negeri ini bebas melakukan apapun, ada yang bermain sepeda, bersantai, mendengarkan live music, ngobrol dengan peserta lain, bermain dadu bahkan tidur. Ya, memang sesantai itu, Urbaners!

 Cycle Messenger World Championship (CMWC) 2019

 
Makna 'kompetisi' pada CMWC itu sendiri hanya alasan para cycle messenger seluruh dunia berkumpul bersama. Bukan hanya memiliki profesi yang sama, tetapi cycle messenger sudah menjadi sebuah culture baru yang cukup eksis diberbagai belahan dunia. Nggak heran kalau mereka eager untuk datang jauh-jauh ke Indonesia hanya untuk bertemu para cycle messenger lainnya.

 Cycle Messenger World Championship (CMWC) 2019

 

'Hari Raya' Para Cycle messenger

'Hari Raya' Para Cycle messenger

 
Acara yang sudah ada sejak 27 tahun lalu ini bukan untuk mencari mana yang terbaik, melainkan bertemu 'saudara'. Momen dimana para cycle messenger seluruh dunia bertemu satu tahun sekali di negara yang berpindah-pindah. Hal ini bertujuan untuk tidak hanya saling mengenal secara pribadi, tetapi juga mengenal budaya masing-masing. Nggak cuma itu, dengan adanya CMWC para cycle messenger juga mengetahui perkembangan di setiap negara, bahkan tidak jarang setiap tahun lahir profesi cycle messenger baru di suatu negara. Contohnya, tahun ini di CMWC 2019 muncul cycle messenger asal Mumbai, India. Hal ini menunjukkan bahwa dunia kurir sepeda semakin berkembang di berbagai belahan dunia.
'Hari Raya' Para Cycle messenger

 
Meskipun hanya satu tahun sekali, namun rasa persaudaraan mereka begitu kental. Inilah alasan mengapa tidak adanya pressure dalam acara ini. Dan benar saja, jika kemarin lo menghadiri CMWC 2019, tidak ada acara yang paten, meskipun sudah rundown sudah dipersiapkan tetapi dalam eksekusinya acara ini sangat fleksibel. Saat sedang ada race, para cycle messenger lain ada yang melakukan aktivitas lain seperti adu-adu trik dengan peserta lain, atau leyeh-leyeh di bean bag sambil menikmati beer dingin, bahkan ada yang karaoke lagu-lagu Indonesia. Seru banget ya, Urbaners! Dan tidak hanya sampai acara CMWC aja Urbaners, para cycle messenger selalu mendukung satu sama lain, mereka pun tetap berkomunikasi dan support each other melalui media sosial.

 

After All, They're All The Same

After All, They're All The Same

 
Mungkin banyak orang yang mengira bahwa cycle messenger hanya sebuah pekerjaan, tetapi ternyata lebih dari itu, Urbaners. Cycle messenger bisa dibilang sebuah culture, meskipun setiap negara memiliki kebiasaan yang berbeda-beda, uniknya saat menghadiri CMWC semua cycle messenger menjadi satu,. Dan uniknya, jika lo memperhatikan para cycle messenger, mereka memiliki style yang sama, yakni kaos kaki panjang, celana pendek, topi dan tattoo pada bagian kaki. Bahkan tattoo mereka memiliki konsep gambar yang mirip. Banyak dari mereka yang selalu menyempatkan menambahkan gambar pada kulitnya setiap datang ke CMWC di negara manapun sebagai kenang-kenangan. Jadi tidak jarang lo temukan tattoo dengan gambar dan bertuliskan CMWC berikut dengan tahun diadakannya.

 

Melihat Lebih Luas Dunia Menyelam yang Tidak Hanya Itu-itu Saja

Wednesday, February 12, 2020 - 13:44
Dua penyelam sedang sweeping di bawah laut untuk mengumpulkan sampah

Tidak ada yang menandingi keindahan bawah laut Indonesia. Setuju nggak, Urbaners? Namun salah satu objek wisata utama tersebut juga mengundang efek negatif, yakni sampah. Tidak hanya di tepi pantai, tetapi juga dasar laut. Melihat kondisi tersebut, para divers di Indonesia tidak tinggal diam. Seperti Divers Clean Action yang kerap sweeping kebersihan bawah laut Indonesia. Inilah salah satu yang digali lebih dalam di MLDSPOT TV Season 5 Episode 13. Dengan tema "Beyond Diving". Lo akan menemukan banyak fakta dibalik olahraga selam tersebut. Ssst.. ada juga ulasan tentang mermaid cantik yang menekuni dunia freediving, lho!

 

Divers Clean Action: Solusi Para Penyelam Akan Sampah Laut

Divers Clean Action: Solusi Para Penyelam Akan Sampah Laut

Sampah merupakan salah satu masalah utama di Indonesia. Nggak hanya di darat, tetapi juga dasar laut. Menanggapi hal ini, para divers tidak mau berdiam diri. Seperti aksi nyata Divers Clean Action, sebuah LSM dan komunitas anak muda yang berfokus pada masalah sampah laut. Kepedulian mereka terhadap laut membuat diving nggak terbatas pada kegiatan hiburan dan olahraga saja.

Secara aktif, mereka mengajak warga lokal pesisir beserta masyarakat umum untuk memerangi sampah lautan. Kegiatan pembersihan rutin yang dilakukan juga tidak hanya satu tempat, Urbaners, Divers Clean Action juga menyeleksi 70 volunteers per tahunnya dengan memberikan dana untuk mengembangkan program pembersihan laut di daerah masing-masing. Organisasi satu ini juga rajin 'bersuara' diberbagai seminar, workshop & konferensi seperti Youth Marine Debris Summit (IYMDS) 2017, YSEALI Marine Debris Expedition 2018, dan Our Ocean Youth Leadership Summit 2018 untuk menyampaikan visi misi mereka ke masyarakat luas.

 

Nikita Fima: Freediving Mengajarkan untuk Melepaskan Yang Tidak Perlu

Nikita Fima menggunakan t-shirt merah mertuliskan "Freediving Society"

Mermaid doesn't exist! Sepertinya kalimat sudah tidak valid lagi. Karena Nikita Fima seorang freediver wanita Indonesia ini memiliki keseharian menjadi mermaid atau freediver. Wanita cantik satu ini tidak menyangka akan menghabiskan hidupnya under the sea. Sebelum fokus di freediving, Nikita sebenarnya sudah sempat mencoba peruntungan di berbagai bidang lainnya, tetapi ia mengaku, dunia freedive membuat hidupnya lebih simpel dan menantang secara bersamaan. Nikita mengakui kalau bukan hanya kesehatannya saja, tapi cara pandang hidupnya juga ikut berubah karena pengajaran dan teknik pernapasan freediving. Nikita juga kerap mengikuti kompetisi seperti Indonesia Apnea Competition (IAC) dan Sabang International Freedive. Ajang IAC menjadi yang paling berkesan baginya, soalnya kenekatannya kala itu justru membuatnya menyabet gelar juara untuk 6 kategori. Dan sekarang, ia menekuni dunia tersebut dengan menjadi professional mermaid di Jakarta Aquarium, Neo Soho Mall dan juga membuka Jakarta Mermaid School yang merupakan sekolah mermaid berlisensi pertama di Indonesia.